Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Senin, 27 Mei 2019

Menjadi Muslimah Produktif Kesayangan Allah

Sebelumnya aku mau sedikit cerita kenapa aku suka posting tentang Teh Farah Qoonita atau bisa dibilang syndrom banget gitu, ya?



In syaa Allah gak menutup kecintaan aku pada Allah kok hehehe. Malah, karena Teh Qoonit aku jadi semakin ingat Allah lewat postingan postingan dia, lewat buku 'Seni Tinggal di Bumi'. Aku melihat dia seperti aku melihat diriku yang aku impikan; selalu bergairah dengan ilmu Islam, menginspirasi, dan kontributif di media sosial.

Masalah seberapa banyak followers, aku enggak peduli sama sekali. Banyak yang like atau komentar kekaguman atas sebuah karya bukan jadi tujuan. Soalnya aku malu, sih kalau hanya berharap banyak yang like atau komentar. Karena, Umar bin Khattab yang sudah punya brand pemberani, bahkan orang-orang mendengar namanya saja ketakutan, kegagahannya yang ia dedikasikan untuk Islam. Keren parah, disegenai karena keganasannya membela Islam.Apakah Umar pernah memikirkan berapa followers yang ia punya? Apakah ia pernah mengumpulkan pujian-pujian atas kehebatannya? Tidak!

Bahkan dulu boro-boro ada media sosial. Tapi, namanya tetap eksis sepanjang masa sebagai sahabat Rasulullah sang kesatria Allah.

Ya, apalagi aku? Manusia remah remah. Bukan  bubuk ranginang malah bandingnya. Apa, ya? Ya, sisaan bubur anak bayi kali, ya. Lembek dan eneuk gitu ya liatnya. Dimakan aja gak ada rasanya, apalagi yang sisa huhuhu.

Terus, bikin konten dakwah di media sosial ngapain kalau gak berharap followersnya banyak dan komentar pujian?

Gini, lho genk!

Rasulullah dan para sahabatnya itu pernah berjuang di masanya. Medan dakwah orang orang terdahulu, ya berdakwah habis habisan. Bukan hanya merencanakan strategi menggunakan kecerdasan mereka tetapi juga mencurahkan raga dan seluruh hartanya. Sekarang kita bisa menikmati kemenangan mereka bukan?

Cahaya Islam menerangi dunia, jejak-jejak perjuangan mereka dapat kita lihat dan manfaatkan dari ilmu pengetahuan, teknologi, dan masih banyak lagi!

Terus sekarang apa yang bisa kita lakukan untuk meneruskan perjuangan mereka?

Bukan dengan genjatan senjata di medan perang. Apa perlu kita semua ke Palestina, merakit bom, bikin senjata api tak tertandingi? Terus, kita bombardir tentara Israel?

Itu maa syaa Allah banget! Tapi, teman-teman dari lembaga yang mengumpulkan bantuan untuk Palestina saja, masuk jalur Gaza susahnya bukan main. Harus melewati  pemeriksaan yang begitu ketat.



Nah, nah jadi cara dakwah kita sekarang berbeda dengan Rasulullah dan para sahabatnya.

Permasalahan saat inipun sudah tidak sama. Bukan lagi ekspansi wilayah tetapi perluasan akal orang orang Islam. Saat ini bukan lagi mengasah senjata tajam tapi melancipkan hati agar sensitif dengan penjajahan pemikiran. Saat ini bukan bersusah payah membuat baju besi tetapi memiliki tameng diri untuk menjaga iman dari ideologi ideologi menyesatkan keyakinan.

Menjaga agar kisah perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya tetap abadi dalam naluri orang-orang Islam agar semngat dakwah tetap bersemayam di hati hati manusia setelahnya. Mempertahankan agar apa yang diperjuangkan Rasulullah dan para sahabatnya menjadi motivasi tertinggi meraih ridha Allah.

Zaman semakin berkembang. Ideologi tersebar begitu masif. Dunia semakin bebas dengan kemajuan teknologi. Hadapi atau kita akan mati konyol.

Sehingga tugas kita adalah menerjang arus.Medan dakwah kita adalah media sosial.

Kenapa media sosial?

Orang muda banyak yang berselancar di media sosial. Konten yang berjejaring di media sosial gak bisa difilter, kalau postingan negatif terus mengikis keteguhan  iman siapa yang salah? Orang-orang baik yang salah karena hanya diam, tidak bersaing membuat konten positif. Di media sosial orang bebas mau ngomong apa, mau nyekokin pake cara gimana. Itu, singkatnya.



Aku mengutip beberapa poin yang disampaikan Teh Farah Qoonita yang menjadi masalah para pemuda yang lebih khususnya bagi para Muslimah.

Beauty Sickness

Ujian yang harus dihadapi Muslimah. Penyakin ini yang bikin perempuan Muslim gak produktif karena waktu dihabiskan untuk belajar make-up dan memantaskan diri terlihat cantik dan sempurna secara fisik.

Cinderella Complex Syndrome

Tokoh-tokoh Putri Disney yang dijadikan idola. Cerita fiktifnya yang menggambarkan perempuan tangguh, memperjuangkan hak perempuan, dan diselipi ideologi feminis. Tapi, ada juga sih puteri yang kerjaannya tidur nungguin jodoh datang. Pernikahan menjadi akhir kehidupan yang bahagia hahaha.

Freedom is Basic

Muslimah yang berpakaian syari adalah simbol ketidak bebasan. Menganggap bahwa seorang Muslimah tidak dibebaskan berkarya sehingga dapat menggoyahkan perempuan perempuan Muslim dari pakaian identitasnya sebagai muslim.

Ketiga penyakit itu meluas lewat media sosial.

Padahal, Islam sangat memuliakan perempuan. Para Sahabiah yang menjadi contoh adalah kisah nyata. Bukan fiktif atau hanya ada di imajinasi saja. Bahkan, Islam dari contoh para Sahabiah mampu mendobrak keterbatasan diskriminasi perempuan jahiliyah yang terpenjara kebiasaan nenek moyang seperti membunuh bayi perempuan.

Islam sangat baik. Memberikan aturan kepada manusia tetapi tidak membatasi untuk berkarya. Malah, dengan Islam muncul ide-ide kreatif.

Mengapa kita harus bangga menjadi Muslim? Karena dengan Islamlah lahir orang orang baik yang tidak memikirkan diri sendari, namun juga mampu menggerakkan hati manusia lainnya untuk berbuat kebaikan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar