Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Jumat, 03 Agustus 2018

Bercerita dan Bersyukur


Saat KKN, aku dan teman-teman rutin mengajar di Madrasah Dinniyah, membantu Ustaz Uyeh. Kemudian kami melanjutkan bermain dengan adik-adik RW 03 di Taman Pendidikan Alquran di rumah Ustaz Eddy. Saat mengajar sore biasanya ditemani Ummi, panggilan kami pada istri Ustaz Eddy. 

Di TPA ini aku lebih enjoy berbagi, karena belajar membaca Alquran dan cerita-cerita apapun; kisah nabi, kisah sahabat nabi, atau kisah yang mengandung banyak hikmah bagi anak-anak TPA. Bedanya di Madrasah Dinniyah aku harus menyiapkan materi bahasa Arab. Seringnya aku ajak mereka untuk bernyanyi dengan bahasa Arab, menghafal kata-kata mutiara yang mahsyur dengan bahasa arab seperti ‘man jadda wa jada’, ‘man shabara zhafira’, dan ‘man saara 'ala darbi washala’.

Aku senang bercerita kepada adik-adik TPA. Setelah membaca Alquran, aku selalu diberikan kesempatan untuk berbagi. Pertama adalah tentang Nabi Musa. Kisah Nabi Musa memang cerita yang istimewa buatku. Aku punya kisah tersendiri tentang cerita Nabi Musa.

Waktu Aliyah, di mata pelajaran Ilmu Dakwah, Pak Naufal, guru saat itu adalah pemiliki Rumah Makan Citra Sunda yang terkenal di Leuwiliang. Ayam bakar yang khas dan sering sekali dinikmati oleh siswa Muallimien. Pak Naufal mengadakan lomba drama Nabi di mata pelajarannya. Kami dibagi beberapa kelompok dan memilih kisah nabi yang akan di jadikan drama. Aku satu kelompok dengan Jawad Rahmat. Dia adalah ketua kelas kami di 11 IPA. 

Beberapa hari kami mempersiapkan lomba. Mulai dari mempersiapkan kostum sampai properti. Ada properti peti saat Musa kecil yang dibuang oleh ibunya di Sungai Nil, ular besar yang berasal dari tongkat Nabi Musa, dan masih banyak lagi. 

Oya,peranku di drama ini adalah sebagai Asyiyah, istri Fir’aun (hehehe) dan sebagai Nabi Harun, sahabat Nabi Musa yang membantu mendakwahi Raja Fir’aun. Jawad berperan sebagai Nabi Musa. Saat itu, keadaan kaki Jawad yang tidak sehat. Ia harus bersusah payah untuk berjalan. Namun, semangatnya patut diapresiasi. Kaki jawad seperti itu sebab tergelincir saat bermain futsal di sekolah. Setelah diurut, beberapa hari ia tetap harus merasakan sakit.

Kami menjalani drama dengan maksimal. Dan, Alhamdulillah hasilnya pun sangat memuaskan. Beberapa hari setelah drama, Pak Naufal mengumumkan hasil lomba. Kelompok drama Nabi Musa menjadi juara pertama. Hadiahnya adalah nasi box berisi ayam bakar Rumah Makan Citra Sunda (wkwkwkw). Tapi, saat pengumuman Jawad tidak hadir karena kakinya semakin sakit. Jelas, itu adalah hal yang menyedihkan. Waktu yang seharusnya dijadikan momen paling bahagia untuk kelompok kami. Namun, tidak sempurna karena sang tokoh utama, Jawad sebagai Nabi Musa tidak hadir.

Singkat cerita, beberapa hari Jawad belum kembali sekolah. Ditelusuri oleh teman-teman dari saudaranya yang juga satu sekolah dengan kami, ternyata Jawad  memiliiki tumor di kakinya. Seketika kelas kami menjadi kelas yang sangat tertutup.  Keceriaan yang hampir setiap harinya menghiasi, kini berubah menjadi sepi. Kami sempat menjenguk di kediamannya. Keadaan Jawad sangat kurus. Allah lebih sayang Jawad.  Tepat pada hari Selasa, 21 April 2014 ia pergi meninggalkan kami semua.  Belum sempat makan nasi box Rumah Makan Citra Sunda hasil hadiah lomba Nabi Ilmu Dakwah. Sore itu menjadi sore abu. Penuh kesedihan. Untuk pertama kalinya aku ditinggalkan oleh teman satu sekolah. Almarhum Jawad adalah sosok yang ceria. Ketua kelas kami yang apa adanya. Semoga engkau mulia di sisi Allah, Jawad.

Nah, jadi itulah sebab aku selalu ingat kisah Nabi Musa. Selain itu, aku pun sangat mengagumi Nabi Musa karena beliau tetap menjadi anak yang berbakti kepada ayah asuhnya Fir’aun,walau  dia adalah sosok yang  lalim. 

Adik-adik TPA selalu senang ketika mendengarkan cerita. Selain kisah Nabi Musa, aku menceritakan kepada mereka kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail, nabi Isa, kisah Bilal bin Rabbah yang menjadi orang pertama mengumandangkan azan, kisah Mush’ab bin Ummair sebagai duta Islam pertama, dan kisah Qorun yang Allah tenenggelamkan hartanya di perut bumi. 

Alhamdulillah ya, senang sekali bisa berbagi cerita. Nah, setelah bersama adik-adik, biasanya aku dan teman-teman yang mengajar di TPA sharing sama Ummi tentang banyak hal. Beberapa hari sih, kami membehas tentang perkuliahan. 

Biasanya, tidak beberapa lama kami berbincang abah datang untuk ikut nimbrung cerita-cerita. Nah, beberapa hari ummi dan abah seperti ‘kepo’dengan dunia mahasiswa. Maklum, mereka belum pernah merasakan perkuliahan. Anak-anaknya pun masih duduk di bangku sekolah. 

Aku memperhatikan pancaran dari matanya, bahwa mereka sangat menginginkan anak-anaknya untuk dapat kuliah. Salwa nama anak terakhir Ummi dan Abah. Ungkap mereka bahwa Salwa adalah anak yang paling berbeda dari kakak-kakaknya. Dia anak yang pintar karena rajin belajar. Ia pun sudah beberapa kali mendapatkan juara Musabaqah Tilawatil Quran hingga Kecamatan..Yang disayangkan adalah, tidak ada kesempatan Salwa untuk melanjutkan kompetisi di tingkat Kabupaten.
Mulai dari cara daftar kuliah, cara ngurus memulai perkuliahan, tempat tinggal,biaya hidup, dan masih banyak hal-hal kecil yang mereka pertanyakan. Kami pun mengerti arah pembicaraan Ummi dan Abah. “Di kuliah juga ada beasiswa kok Ummi. Banyak malah, tersedia di kampus. Ada yang dari pemerintah, instansi, dari UINnya langsung pun ada.” “Terus kalau mau dapat beasiswa itu gimana caranya? Tau informasinya gimana?” 

“Biasanya nanti juga ada kok, mi informasinya kalau udah kuliah. Informasi itu suka muncul setelah kita udah punya Nomor Induk Mahasiswa. Suka muncul di sistem Mahasiswa info-info beasiswa.”
Aku memperhatikan dalam-dalam tatapan kedua orang tua yang berada di hadapanku. Aku seperti menemukan mutiara di desa. Mutiara itu adalah harapan besar orangtua yang menginginkan anaknya untuk lebih baik dari orang tuanya. Mereka yang ingin bersusah payah bekerja demi kesuksesan anak-anaknya. Ingin anaknya mampu keluar dari wilayah yang selama ini dijalani oleh orang tua mereka.

“Mi,ada juga kok beasiswa untuk anak-anak yang menghafal Alquran. Kakak kelas Sarah juga ada yang hafiz 30 Juz dapat beasiswa di UIN.” Kemudian aku membesarkan mereka sekaligus memberikan motivasi kepada Salwa yang duduk manis mendengarkan percakan kami dengan orangtuanya. Salwa masih duduk di Sekolah Dasar kelas dua. Jadi,masih banyak kesempatan Salwa untuk mempersiapkan hafalan jika ingin beasiswa Tahfiz.

Bersyukur sepanjang berbicara yang aku lakukan. Terima kasih kepada Allah yang telah memberikan kesempatan aku untuk menjalani perkuliahan hingga saat ini. Ini adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepadaku dan ummi. Karena, aku pun memiliki perjuangan tersendiri hingga bisa duduk di bangku kuliah. 

Untuk kita para aktivis dakwah, jangan pernah putus asa atas rahmat Allah. Karena, sudah terlalu banyak nikmat Allah yang Dia berikan walaupun kita tidak meminta atau berharap untuk diberi. Kadang kala,kita tidakmenyadari atas nikmat yang Allah berikan saking kita bahagia, saking kita dapat menjalani kehidupan yang mulus-mulus saja. nayatanya, sangat banyak sekali yang ingin mendapatkan kesempatan seperti yang kita  jalani saat ini. 

Jangan pernah sia-siakan peran orangtua kepadamu. Apalagi bagi orang tua yang berjuang sendirian. Kita harus punya pencapaian istimewa untuk membuat bangga mereka karena memiliki anak yang bermanfaat. Bersyukurlah sebanyak-banyaknya bersyukur, seperti kita mengharapkan kebahagiaan setiap hela nafas kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar