Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Selasa, 12 Desember 2017

Memupuk dan Menumbuhkan Diri dalam Dakwah



“Kau tahu, betapa diri ini terasingkan dengan lingkungan yang ku temukan. Tapi baru kali ini ada keterpaksaan yang menyenangkan, ada pahit yang menjadi lezat, ada guntur yang menghadiahkan pelangi.”
Di semester satu aku bergabung di organisasi ekstra. Mungkin jika dikatakan aktif, diriku aktif. Namun, setelah semester dua yang mengharuskan aku tinggal di Asrama Putri (Aspi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta aku lebih sibuk dengan kegiatan asrama di setiap malam juga disibukkan dengan dunia kegalauan  karena sedang ‘beradaptasi’ dengan dunia hijrah.
Saat semester awal, teman dekatku rutin setiap jum’at untuk mentoring. Setiap aku tanya hendak pergi ke mana, mereka selalu menjawab ‘mentoring’. Ada hal yang membuat hatiku perih mendengarnya. “Oh, mentoring.”
Tidak jarang di Musholla akhwat  lantai dua FITK diramaikan dengan wanita-wanita berbusana rapi dengan asiknya berbincang-bincang. Terdapat  kedekatan yang amat dari mereka saat saling menatap wajah lawan bicaranya. Beberapa akhwat lain pun ada yang sedang tilawah Al-Qur’an. Pemandangan itu aku lihat bukan sekali atau dua kali, namun seringkali setiap aku mengunjungi atau hanya sekedar lewat musholla akhwat lantai dua.
Saat itu aku berfikir akan menjadi akademisi saja, itu diakibatkan karena padatnya jadwal praktikum dan pembinaan-pembinaan  wajib di Aspi. Ada salah satu teman kelasku yang juga tinggal Aspi, dia anak Lembaga Dakwah Kampus, mentoringnya rajin setiap pekan. Suatu malam dia menghampiriku dan menceritakan keseruan beraktivitas di Lembaga Dakwah Kampus. Katanya saat ini dia berada di Komisariat Dakwah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. “LDK?” yang terbayangkan dalam pikiranku adalah LDK Al-Huriyyah IPB, LDK Salman ITB, dan LDK Salam UI; bukankah itu keren? Tapi, di kampus UIN ini ada LDK juga?
Saat itu aku masih menjadi mahasiswa yang termakan doktrin yang tersebar luas di masyarakat umum, bahwa UIN adalah ‘LIBERAL’, itulah statemant yang tumbuh dalam diriku dan mendeskripsikan LDK adalah hal yang sama seperti yang aku pikirkan. “Tapi, program LDK ada mentoringnya juga? Terus, mentoring LDK itu yang kaya gimana? Sepertinya beda dari yang aku tahu!”
LDK Komda FITK melakukan Open Recruitment. Hatiku masih bimbang antara ikut atau tidak. Namun, karena ada beberapa teman kelasku yang mengikuti Latihan Kader Dakwah Istimewa (LKDI) aku pun memutuskan untuk ikut. Aku ingin membuktikan apakah LDK seperti yang aku sangka sebelumnya. Acara LKDI dilakukan serempak di seluruh Fakultas di UIN Jakarta. FITK bergabung dengan Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) yang diadakan pada Jum’at sore hingga Ahad siang di Sekolah Alam, Parung.
Banyak hal yang harus aku paksakan dalam agenda ini. Ya, pemaksaan yang baik. Setiap detik watu harus dimanfaatkan dengan baik. Memang bukan termasuk dalam rundown acara panitia, namun diingatkan untuk tilawah setiap waktu kosong, menyedikitkan berbicara dan bersunda gurau, dan memperkenalkan cara berkomunikasi dengan lawan jenis yang langsung dicontohkan oleh kakak-kakak panitia tanpa diagendakan dan tanpa memerintah; itu semua berjalan dengan rapi tanpa rekayasa. Ketika sedikit saja lengah terhadap waktu, aku diingatkan, “Dek, lebih baik tilawah” karena targetan selama LKDI hingga usai adalah selesai membaca Al-Qur’an sebanyak 3 juz.
Materi-materi yang disampaikan pada LKDI serupa dengan kebutuhan pergaulan kampus. Walaupun masih dikategorikan mahasiswa baru, namun saat itu sedikit banyak tahu dari cerita beberapa orang yang sudah berkecimpung di kehidupan kampus, khususnya UIN Jakarta. Sehingga timbullah persepsi, bahwa ternyata di kampus yang Islami ini belum tentu semua orang di dalamnya memahami Islam secara utuh. Justru, kampus yang berlebel Islam ini, terdapat banyak pemahaman-pemahan Islam yang berbeda menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, terhadap mereka yang menamakan Islam tetapi secara pergaualan kehidupan sehari-harinya tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman.
Selain itu, ternyata banyak ancaman-ancaman yang dihadapi oleh orang-orang muslim yang berusaha menjaga kesucian keislamannya. Tantangan-tantangan itu bisa datang dari luar, seperti orang-orang yahudi dan nasrani yang menjajah umat Islam dari sisi pemikiran yang disebut gzhowzul fikr. Mungkin saja tantangan itu datang dari umat islamnya sendiri, yaitu orang-orang munafik yang ingin menghancurkan Islam dari dalam.
Rasulullah saw. sewaktu bersama dengan para sahabatnya pernah berkata: “Akan datang suatu masa di mana bangsa-bansa lain akan menyerbu kalian (kaum muslim) seperti orang –orang yang menyerbu hidangan yang ada di hadapannya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah hal itu dikarenakan jumlah kita yang sedikit pada waktu itu, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab: “Tidak! Jumlah kalian saat itu besar, tetapi kalian saat itu seperti buih yang ada di lautan. Dan Allah akan menghiangkan dari hati musuh-musuhmu ‘ketakutan terhadap dirimu’ dan Allah akan memasukkan ‘Al-Wahn’ ke dalam hatimu.” Sahabat yang lain bertanya, “Apa itu ‘Al-Wahn’ ya Rasulallah?” rasulullah saw. berkata, “Al-Wahn adalah cinta dunia dan takut mati.”
Rasa-rasanya, ramalan Rasulallah itu terjadi saat ini. Jumlah kaum muslimin banyak, tetapi mereka sedang tertidur; diam saat terjadi kerusakan pada islam, agamanya sendiri. Buih di lautan itu adalah pengibaratan sesuatu tak berdaya. Buih memiliki jumlah yang banyak, tetapi tidak ada kekuatan untuk menghadapi sapuan air di sekeilingnya; buih hanya bisa mengikuti air.
LKDI membuka jalan pikiranku dan membantah rencana awal; menjadi akademisi saja. Jika merenungi keadaan umat islam saat ini, yang sedang dilahap oleh para zionis yang merusak moral generasi islam, bukan lagi saatnya untuk berdiam diri, “kamu harus punya kontribusi untuk agamamu!” begitulah kira-kira kalimat yang menyelusup dalam relung jiwa.
Maka, perlulah suatu wadah untuk menyatukan pemuda-pemuda Islam yang masih memiliki nurani dan keberpihakan kepada panji Islam ini. Ketahuilah, bahwa dalam keadaan yang seperti ini maka panji Islam telah lama terkulai, membutuhkan tangan-tangan perkasa yang mau bergerak untuk menegakkan kembali panji kejayaan Islam. Dan dari LKDI ini, bekal awal yang aku dapatkan sehingga memicu untuk bangkit, bersemangat, terus belajar, dan istikomah; walau merupakan awal yang sulit, dan tentunya banyak kerikil-kerikil dalam setiap prosesnya. Nikmatilah!

2 komentar: