Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Minggu, 10 Desember 2017

Keluarga Cemara, Keluarga ke Surga

    Banyak sekali untaian kisah yang menjadi cerita pada judul ini. Sebenarnya mereka itu siapa? Mereka adalah akhwat-akhwat tangguhku yang mewarnai perjalanan dakwah di LDK. Mereka adalah garda terdepan yang menjadi jawaban-jawaban atas permasalahan yang terjadi. Responsif dan cepat tanggap. Sebab merekalah, aku menjadi diri sendiri. Kami sering mengoreksi diri masing-masing dengan terbuka, dan tanpa perjanjian kami tidak pernah sakit hati ketika dikoreksi, karena kami yakin apa yang dibicarakan adalah untuk membangun diri dan kebaikan untuk ke depannya.
            Kami memang berbeda divisi, tetapi jika satu divisi memiliki permasalahan kami semua turun tangan. Jangankan untuk meminta pertolongan, bahkan sebelum “tolongin dong” mereka sudah bertanya “apa yang harus aku bantu?” karena sejatinya LDK adalah kami, bukan dipisahkan oleh divisi-divisi.
            Sejujurnya, dari merekalah pertama kali aku memiliki keterikatan hati yang kuat. Walaupun pada perjalanan kami, timbul ungkapan “Ukhuwah tertinggi adalah bully!” mengalahkan itsar (hahaha). Memang pada kenyataannya, dengan bulliying kami menjadi mengenal lebih jauh masing-masing diri, dan tidak pernah ada sakit hati di antara kami.
            Kami beberapa kali menciptakan waktu untuk berkumpul bersama pada suatu malam untuk sharing; permasalahan divisi, tugas kampus, kabar keluarga, hingga cita-cita. Bermalam hingga fajar, sebelumnya kami shalat disepertiga malam. Hingga rasanya aku ingin malam berjalan lama agar matahari enggan datang, karena malam itu terlalu indah untuk ditinggalkan; malam itu menciptakan kekuatan.
            Kalau bukan karena kepedulian tentang ukhuwah dan dakwah, apa lagi alasan kami berkumpul malam itu? Merumuskan regenrasi dalam estafeta dakwah, membicarakan strategi dakwah fakultas, saling menguatkan dengan tangisan dan tawa yang yang menghiasi bercakapan dan perbedatan kami.
            Seperti halnya dalam keluarga, ada yang dituakan dan dikanak-kanakan, yang tidak ada adalah yang dibapakkan karena tidak ada ikhwan di antara kami (hehehe). Ada penasihat terbaik di anatara kami, sebut saja dia Kak Wan. Sepak terjang dakwahnya sudah melalang buana jauh di antara kami. Memang sedikit menyebalkan ketika mempertahankan opininya, namun pendapatnya sering di iya-kan. Ada juga Mbak Yu, sosok yang super sabar dan penyayang; sering menjadi penengah ketika memecahkan permasalahan Komda, penyampaiannya tenang dan ruhiyyahnya patut untuk dicontoh. Dik Pus dan Ka Nie, mereka adalah aktivis sospol yang getol. Kekuatan mereka tidak perlu dipertanyakan, mereka yang sering menggunakan malamnya untuk memikirkan kemaslahatan umat di kampus #eaa. Nuga, siapa pula dia? Dia adalah sosok akhwat tangguh. Sahabat taat yang pertama kali aku miliki sejak bertemu di lingkar mentoring pertama kali. Lalu Rela, yang Allah siapkan untuk jiwa syiar yang menyenangkan. Dia yang membuat suasana di anata kami tergelitik dengan tingkah yang konyol dan sedikit baperan (hehe). Dhea adalah sosok penguat karena dia berada satu divisi denganku. Ia bergerak cepat dengan laporan-laporan divisi sehingga mendorong diriku yang lambat dalam tugas kesekretariatan. Hastin yang to the point, simpel, dan perhatian. Ani, dia sosok yang baik hati dan responsif ketika di antara kami membutuhkan bantuan dan sosok yang dewasa. Saliha dan Asih sosok yang tenang dan cerdas, dan Wani akhwat yang tenang, baik, dan pengertian.
            Bukan berarti tidak ada kekurangan yang mereka dan aku miliki. Tentunya sebagai manusia yang tidak sempurna memiliki khilaf dan kekurangan diri, namun itulah istimewanya mereka; saling menasehati dalam kebaikan sehingga kekuranganku bisa tertutupi oleh mereka.Ssebab mereka itulah aku berani berjalan lebih jauh di jalan dakwah ini. Terima kasih ukhties tangguh, semoga kebersamaan ini tak berakhir hingga surga, ketika bercerai jasad dan nyawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar