Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Rabu, 20 September 2017

Perlukah Muatan Pendidikan Akhlak di Perkuliahan?





Pendidikan menjadi salah satu perhatian penuh pemerintah Indoensia, karena dengan pendidikan akan terlahir orang-orang terdidik sebagai penerus kekuasaan di Indoensia, terutama dalam mengembangkan sumber daya manusia dan sumber daya alam. Tujuan pendidikan Nasional di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehubungan dengan itu, pemerintah terus mengolah sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan warga negaranya. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 20 tahun 2016 dalam pendahuluannya mengungkapkan bahwa, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 31 ayat (3) mengamanatkan  pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidkan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Atas dasar amanat tersebut telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 

Pada pasal 3 menegaskan, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk mengembangkan potensi pesera didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga nagara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa pemerintah sangat memberikan perhatian penuh terhadap pendidikan, sehingga adanya ramuan-ramuan baru sebagai inovasi dalam rangka memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu bukti perhatian pemerintah terhadap pendidikan di Indoensia adalah terumuskannya Kurikulum 2013 yang pada saat ini sudah menjadi Kurikulum Revisi 2013. Perkembangan kurikulum di Indoensia merupakan hasil pertimbangan pemerintah, salah satu alasannya adalah landasan psikologis dalam perkembangan kurikulum.
Nah, teman-teman, sebelumnya perkenalkan namaku Sarah. Saat ini sedang menjalani perkuliahan di Jurusan Pendidikan Kimia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Prolog di atas adalah salah satu materi pendidikan yang aku rangkum dari mata kuliah Telaah Kurikulum. Seperti nama dari mata kuliah tersebut, pada mata kuliah ini banyak mendalami mengenai kurikulum, terutama membahas kurikulum 2013 yang masih menjadi berdebatan pendidik di Indonesia. Kurikulum peralihan dari KTSP ini menekankan pada kemandirian peserta didik dan menanamkan nilai-nilai akhlak di setiap materi pelajaran, tanpa terkecuali. Apa pun materi pelajarannya, baik itu mata pelajaran Kimia yang eksak tetapi harus ada out put integrasi mengenai ketakwaan kepada Tuhan dan akhlak yang baik. Kurikulum itu tidak bisa dinilai keberhasilannya dalam waktu yang cepat. Keberhasilan kurikulum dapat dilihat setelah beberapa tahun kelulusan peserta didik. 

Muatan akhlak di Sekolah menjadi hal terpenting, namun bukan hanya pada mata pelajaran agama saja. Sejak Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga Menengah Atas  muatan materi akhlak semakin dipersempit, mengapa? Karena semakin dewasa seseorang maka dianjurkan untuk lebih banyak mengaplikasikan materi-materi penanaman akhlak sejak Sekolah Dasar.  Apa lagi, sehubungan dengan pasal 3 di atas, dalam tujuan mengembangkan potensi peserta, redaksi pertama adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa lalu berakhlak mulia. Karena yang terpenting adalah bukan bagai mana seseorang itu pintar, tetapi mempu beriman dan berakhlak mulia. Menjadikan seseorang berakhlak mulia itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, maka sekolah tidak bisa hanya menggantungkan muatan akhlak pada materi pelajaran agama saja. 

Oleh sebab permasalah muatan akhlak yang menjadi tujuan pendidikan, Mentri Pendidikan Indonesia menyarankan adanya Full Day School yang menurutku tujuannya baik, yaitu untuk memberikan pelajaran sikap. Karena peserta didik lebih segan dan takut kepada guru dari pada kepada orang tuanya di rumah sehingga lebih mudah para guru untuk memberikan pembiasaan kepada peserta didik. Tetapi, muncul lagi permasalahan dari Full Day School. Tidak semua sekolah siap untuk menjalankan Full Day School dari segi sumber daya guru dan infrastruktur sekolah.
Problematika pendidikan Indoensia adalah terlalu mengagungkan kognitif dan melupakan pendidikan karakter, sehingga ada kekhawatiran terkikisnya sedikit demi sedikit ajaran agama dan budaya nenek moyang yang mengajarkan tatak rama oleh perkembangan zaman. Dalam pengajaran sikap terbaik adalah dengan memberikan contoh, bukan teori tetapi implementasi. 

Lalu muncul pertanyaan, “Apakah mahasiswa masih memerlukan muatan akhlak di perkuliahan?” Menurut dosen mata kuliah Telaah Kurikulum Pendidikan Kimia, Bapak Burhanudin Milama, M.Pd yang juga merupakan salah satu tim dari perumusan kurikulum 2013, bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin sedikit muatan sikapnya, berbanding terbalik dengan muatan pengetahuan. Seharusnya, di perguruan tinggi sudah tidak ada mata kuliah akhlak, karena materi akhlah sudah didapatkan sejak Sekolah Dasar, sehingga pada perkuliahan mahasiswa harus sudah menjadi duta akhlak di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Benar sekali, karena pada dasarnya mahasiswa sudah lebih mengetahui segala yang baik dan buruk. Bukan lagi saatnya mahasiswa belajar teori mengenai akhlak terpuji. Karena mahasiswa memiliki peran yang sangat penting untuk membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidpan bangsa. Karena mahasiswa adalah sebagai agen mengatasi permasalahan keterpurukan yang tengah dialami bangsa ini terutama dalam permasalahan akhlak. Mahasiswa diharapkan peka terhadap peka menghadapi permasalahan pendidikan karena pada hakekatnya, mahasiswa adalah jembatan intelektualisme. Peran dan fungsi mahasiswalah yang seharusnya dapat diterapkan sebagai solusi di bidang pendidikan ini. 

Sejak aku masuk di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, pikiranku lebih terfokuskan pada pengembangan pendidikan. Memang bukan hal yang mudah menjadi pendidik, tetapi itu semua bisa dimulai dari diri sendiri. Mempersiapkan menjadi pendidik profesional dengan menumbuhkan interpersonal yang baik, Karena mahasiswa terutama mahasiswa pendidikan harus memiliki jiwa pendidik yang dirindukan oleh setiap orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar