Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Rabu, 26 Juli 2017

Essai



KAUTSAR (KAMUS, GOES TO SCHOOL, GEMAR) :
UPAYA MEMBANGUN MUSLIMAH SADAR BERJILBAB
(KAJIAN IMPLEMENTATIF SPJ (SOLIDARITAS PEDULI JILBAB) BOGOR)
SARAH MUTHIAH WIDAD
11150162000022
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
PENDAHULUAN
            Pembahasan mengenai perkembangan jilbab di Indonesia sangat menarik untuk dibahas, karena jilbab memiliki cerita revolusi yang dialami muslimah Indonesia. Pada tahun 90-an jilbab menjadi hal yang tabu,  beberapa pengalaman yang didapatkan dari wawancara mengenai kondisi muslimah saat itu yang dianggap teroris dengan stigma menyembunyikan racun atau bom di balik khimar panjang. Tantangan muslimah dalam berjilbab di lingkungan sekolah yang berurusan dengan pihak kepala sekolah, berurusan dengan kepolisian, pemaksaan pelepasan hijab di tempat kerja, larangan dari keluarga, sampai mendapatkan ancaman pembakaran jilbab karena dalih akan sulit mendapatkan pekerjaan dengan berjilbab.
            Disekitar tahun 2012 jilbab berkembang pesat sehingga menjadi trend muslimah. Perusahaan busana  muslimah dengan jilbab stylish, karena perkembangan  globalisasi, mode pemakaian jilbab wanita muslimah di Indonesia terkontaminasi dengan unsur kebarat-baratan; memakai jilbab tetapi tidak menutupi dada, pakaiannya ketat, kain yang dipakainya transparan, atau bahkan bajunya masih menampakkan aurat tubuh yang lain. Gencarnya propaganda tentang mode pakaian dan perhiasan ini bermula dari budaya Barat yang tidak memiliki aturan yang mengikat dan mengatur dalam kehidupan bermasyarakat (Anwar Jundi, 1993: 72). Sungguh ironis memang jika kita merenungi akan hal tersebut. Sehingga, diperlukan adanya suatu upaya nyata dalam aspek menyadarkan para muslimah untuk berjilbab sesuai dengan tuntunan syari’at islam.
Oleh sebab itu, dalam karya tulis ini akan membahas mengenai  implementasi KAUTSAR (Kamus, Goes To School, Gemar) dengan kajian implementatif Solidaritas Peduli Jilbab Bogor sebagai upaya membangun muslimah sadar berjilbab. Metode yang digunakan penulis adalah metode wawancara dan observasi yang merupakan data primer, serta metode studi pustaka yang merupakan data sekunder.

PEMBAHASAN
Urgensi Berjilbab Perspektif Islam
Allah telah menjelaskan secara rinci mengenai jilbab bagi muslimah sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an surat Al-ahzab ayat 59; Islam mewajibkan bagi setiap muslimah untuk senantiasa mengenakan busana muslimah yang menutup seluruh auratnya, kecuali telapak tangan dan muka (Anwar Jundi, 1993: 72). Allah sangat memperhatikan keselamatan bagi wanita muslimah, karena dalam Islam diatur mengenai tatanan yang patut dilaksanakan. Berhubungan dengan Q.S.Al-Ahzab: 59, bahwa budak wanita termasuk yang dikucilkan. Ia tidak perlu mengenakan penutup di hadapan laki-laki yang bukan muhrim, dan bila mengenakan pakaian luar, ia tidak mengenakannya sampai menutupi rambutnya. Ayat ini diturunkan agar mereka mengenakan penutup sehingga mereka akan dikenali, dan supaya kelompok munafik yang berpenyakit di dalam hatinya tidak mengganggu mereka. (Murtadha Muthahhari, 1995: 172).
Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya.” Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, “Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).”  (Muhammad Al-Bahi, 1990: 67-68).
Tinjauan SPJ (Solidaritas Peduli Jilbab) Bogor
Berangkat dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh kebanyakan muslimah di Indonesia mengenai jilbab, maka pada tanggal 5 Mei 2012 salah seorang muslimah Indonesia terinspirasi dari hadis Nabi Muhammad, ”sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain” maka Amalia Dian Ramadhini tergerakkan hatinya untuk membuat sebuah komunitas yang memiliki satu misi, yaitu membumikan jilbab syar’i dengan slogan Beauty Inside, Syar’i Outside yang tersebar dibeberapa wilayah Indonesia. Bogor menjadi salah satunya,  kegiatannya berpusat di Masjid Raya Bogor atau yang sering disingkat Mesra.
KAUTSAR (KAMUS, GOES To SCHOOL, GEMAR) : Upaya Membangun Muslimah Sadar Berjilbab
KAMUS (Kajian Muslimah)
      Pada kajian ini terdapat dua target yang dituju, yaitu  internal pengurus Solidaritas Peduli Jilbab dan  masyarakat umum, terutama bagi para muslimah yang berdomisili di Bogor. Kajian internal pengurus biasanya membahas mengenai strategi dakwah SPJ (Solidaritas Peduli Jilbab) Bogor dan meningkatkan kualitas bagi para pengurus untuk tetap solid pada misi dakwah yang ingin dicapai dengan melakukan kunjungan silaturahim tanpa menghilangkan unsur menuntut ilmu  untuk meningkatkan kualitas  anggota SPJ Bogor. Contoh tema yang dibahas dalam kajin internal adalah “Peran Muslimah dalam Membangun Peradaban dalam Mencetak Generasi Islam” dan “Bersyukur Dilahirkan dan Menjadi Muslimah”.
Kajian Muslimah yang ditujukan untuk masyarakat umum adalah tujuan utama. Memberikan motivasi kepada muslimah  agar tidak ragu berjilbab syar’i dan istiqomah pada jalan kebaikan. Diantara kajian tersebut adalah  Pentingnya Jilbab Syar’i, MAWADDAH (kajian pra nikah), dan KASHMIRA singkatan dari Kajian Muslimah Ramadhan yang rutin dilaksanakan pada bulan Ramadhan.
GOES TO SCHOOL
Definisi dari program Goes To School adalah langkah pengurus SPJ Bogor mengunjungi sekolah atau universitas yang berada di wilayah Bogor dalam mensosialisasikan hijab syar’i. Pada program inilah tim SPJ mendapatkan keluhan-keluhan dari para muslimah yang menghadapi tantangan dalam berjilbab syar’i yang mereka dapatkan dari orang tua, masyarakat, maupun teman bergaul. Pada program Goes To School, SPJ Bogor berupaya untuk meningkatkan kepercayaan diri pemuda muslimah untuk menjalankan kewajiban yang Allah perintahkan tanpa sedikitpun alasan dalam menggunakan jilbab syar’i. Universitas yang telah dikunjungi oleh tim SPJ Bogor adalah Kampus Educare Bogor yang dalam kegiatannya adalah penyampaian materi  tentang belajar dari para muslimah yang menginspirasi . Dalam pembahasan tersebut diberikan paparan bahwa muslimah yang terpandang, kaya, cantik, terkenal, sexy adalah anugerah yang Allah berikan terlebih jika pada seorang akhwat (perempuan muslimah). Namun hal tersebut bisa mencelakakan kita jika tidak digunakan dengan sebaik-baiknya.
GEMAR (Gerakan Menutup Aurat)
Aksi ini serentak dilakukan di beberapa wilayah Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Pekan Baru, Aceh, Riau, Jayapura dan yang lainnya. Terdapat sekitar 32 titik wilayah pelaksanaan aksi Gemar yang tersebar di seluruh Indonesia. Tidak hanya memberikan edukasi kepada para muslimah tetapi juga kepada para laki-laki muslim yang patut untuk menutup aurat, maka aksi gemar ini dihadiri oleh para muslim dan muslimah yang mayoritas adalah pelajar dan mahasiswa. Acara ini mengusung tema Gemar For Humanity, sebagai upaya untuk mengajak dan memberikan edukasi berjilbab syar’i kepada masyarakat, serta peduli terhadap sesama muslim yang sulit menutup aurat akibat bencana atau diskriminasi.
Jakarta menjadi tuan rumah aksi GEMAR beberapa kota; Bogor, Depok, dan Bekasi. Pada acara GEMAR di Jakarta menghadirkan berbagai kegiatan, seperti longmarch, orasi dari tokoh masyarakat hingga beberapa perwakilan komunitas. Kemudian juga ada penampilan seni yang meliputi teatrikal, pembacaan puisi, dan musik islami, diakhiri dengan Deklarasi Menutup Aurat yang dibacakan oleh Koordinator Pusat SPJ (Solidaritas Peduli Jilbab), Amalia Dian Ramadhini.
SPJ Bogor ikut berpartisipasi mengikuti serangkaian acara GEMAR dengan memberikan kontribusi pakaian-pakain untuk muslimah; khimar,rok,gamis, dan baju atasan panjang yang nantinya akan digabung dengan donasi dari berbagai donatur untuk diberikan pada masyarakat sekitar aksi GEMAR yang berada di wilayah car free day Jakarta Pusat.
KESIMPULAN
Penjelasan di atas merupakan telaah atas memprihatinkannya masalah muslimah yang tidak berjilbab  serta muslimah yang berjilbab tetapi tidak sesuai dengan tuntunan syariat islam . KAUTSAR (Kamus, Goes To School, Gemar) merupakan konsepsi yang digagas penulis sebagai upaya membangun kesadaran muslimah untuk berjilbab serta sesuai dengan tuntunan syariat islam tersebut. Komunitas SPJ memberikan gambaran bahwa muslimah yang berhijab syar’i tidak eksklusif, menunjukkan keramahan, sehingga objek dakwah dapat tertarik dan merasa nyaman dalam menumbuhkan kemauan, kesadaran, dan keberanian dalam berhijrah untuk menjadi muslimah kaffah.
Diharapkan SPJ Bogor semakin solid dengan gerakan-gerakan yang semakin bermanfaat secara berkesinambungan. Melakukan kerjasama dengan pihak pemerintah setempat agar lebih banyak muslimah yang teredukasi mengenai identitasnya dan agar dakwah SPJ Bogor lebih diterima dan dicontoh oleh masyarakat di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Bahi, Muhammad. 1990. Langkah Wanita Islam Masa Kini. Diterjemahkan oleh: Fathurrahman. Jakarta : Gema Insani Press
Jundi, Anwari. 1993. Gelombang Tantangan Muslimah. Diterjemahkan oleh: Ahsin Wijaya dan Ahmad Hakim. Solo : CV. Mustaka Mantik
Muthahhari, Murtadha. 1995. Gaya Hidup Wanita Musliam. Diterjemahkan oleh: Agus Efendi dan Alawiyah Abdurrahman. Bandung : Penerbit Mizan


                        










 
                                                                                                                                                          





                                                                       









 




                                                     





















                                                                                     



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar