Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Senin, 27 Juni 2016

Pada Siapa Aku Bertepi?

Bismillah..
Malam ini, malam kedua aku berada di rumah setelah selesai UAS Semester 2. Aku ingin menyatakan diri bahwa aku sedang lemah hatinya. Lemah karena merasa akhir-akhir ini melankolis sekali. Ditambah sering dengar  lagu Edcoustic yang judulnya Tak Ada beban Tanpa Pundak. Tentang tanggung jawab. Coba di dengar, dengarnya sambil pejamkan mata, dimalam yang sunyi setelah selesai melakukan kewajiban kepada Allah (setelah Shat Isya’, Tarawih, dan tilawah) stel lagu tersebut. “Biarkan aku oh malam menangis disepanjang shalatku karena hanya Allah yang bisa membuatku tegar menjalani semua ini. Biarkana aku oh malam bersimpah Rahmat dan ampunannya. Mereka pasti berlalu menguji imanku aku serahkan pada Illahi”.
Seharian aku berada di antara kakak, adik-adikku, Fathan dan Mumtaz, juga ummi. Mereka menjadi hal yang membuat lengkap pada hari itu. Kebetulan teh Nura sedang di rumah karena suaminya sedang menjalankan I’tikaf dan sibuk menjadi imam dan pengurus zakat Fitrah. Memang tak jauh-jauh yang kita bicrakan jika ada teh Nura dan Fathan adalah mengenai Islam, yaitu tentang Al-Qur’an. Tidak ada ujung-ujungnya jika membahas A Nanang yang MasyaAllah sibuknya menjadi orang yang diamanahi untuk memakmurkan Masjid. Aku sejenak bergegas Istirahat ke kamar atas untuk menyimpan barang-barang. Masuk ke kamar dan menemukan Syahadah kelulusan SMP Fathan dan melihat dua sertifikat Tahfidz, Fathan Mubina dengan meraih 7,5 juz Al-Qur’an. Rasa haru dan gembira membanjiri diriku. Allahu Akbar adikku, yang sudah memasukki Aliyah sudah bisa menjadi imam bagi kami sekeluarga.
Dan pada satu waktu kami semua berkumpul dengan tak sengaja. Ngobrol berbagai macam obrolan. Entah kenapa membahas satu topik, yaitu tentang jodoh. Aku merasa Teh Nura sudah suskes karena mendapatkan suami yang luar biasa Solih dengan kedekatan pada Al-Qur’an, mengamalkan dan bermanfaat bagi masyarakat. Teh nura cerita, A Nanang sering nanya ke Teh Nura, “Sarah kapan mau nikah?”. Ah!. Jujur saja aku ingin secepatnya jika sudah lulus kuliah. Mungkin dua tahun lagi. Tapi malu aku mengungkapkannya. A Nanang bergaul dengan banyak Mahasiswa yang berguru dan bekerja sama di Masjid tersebut. Ada anak IPB, anak UNPAD, dan LIPIA Jakarta. Semuanya ikhwan, insyaAllah. Dengar cerita Teh Nura tentang teman-teman teh Nura dan melihat foto-foto mereka, hatiku berdegup kencang sekali. Entah hati ini berharap pada salah satu di antara mereka. Apalagi ketika dulu, saat aku pasrah tidak masuk IPB aku pernah berkata spontan, “Kalau engga aku yang masuk IPB setidaknya aku punya suami anak IPB” ah,entah hanya Cuma sekedar “kesem-sem” atau iseng perkataan itu tiba-tiba memenuhi di pikiranku. Mereka satu aktivitas dengan A Nanang jika berada di masjid, yaitu menghafal Al-Qur’an dan mengkaji dan berbagai aktivitas Islami. Satu hal yang paling “interest” adalah ikhwan yang IPB itu jurusan Kimia. How? Wajar bukan jika aku merasa ada yang berbeda di hati?

Sudahlah jauh dari bahasan itu, memang aku selalu berdo’a agar aku mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari A Nanang. Aku iri dengan teh Nura. Dia mendapat suami yang sesuai dengan keinginannya. Teh Nura bercerita, menginginkan suami Hafidz, imam Masjid dan memakmurkan Masjid, dan Allah wujudkan lewat sosok A Nanang. Dan proses mereka bertemu itu lebih so sweet dari berbagai cerita yang ada di Novel mamapun. A Nanang tiga bulan sebelum menikah dengan Teh Nura pernah berkata kepada kakak dan temannya di Masjid, bahwa dia InsyaAllah akan menikah tiga bulan lagi, padahal dia belum ada bayangan biaya untuk nikah. Jangankan biaya, calon istrinyapun a Nanang sama sekali belum tau siapa dan di mana. Memang Allah sudah tuliskan di Lauhil Mahfudz nama Nur’afifah untuk A Nanang Teh Nura enam bulan sebelum menikah keluar Ma’had dengan alasan untuk menikah, dan belum sama sekali ada calon tetapi Teh Nura sudah diyakinkan hatinya.

Mungkinkah dua tahun lagi aku bisa menikah dan menemukan sosok yang jauh lebih baik dari A Nanang? Itulah pertanyaan yang menginspirasi aku untuk lebih baik lagi. Berubah dan meningkat dari kata Yankus dan Futur. Kadar imanku harus tinggi sehingga dipertemukan dengan orang yang sesuai.
Alhamdulillaah sekarang teh Nura sudah hamil.kebahagiaan hadir khususnya di antara A Nanang dan Teh Nura. Juga pastinya bagiku, ummi, dan keluarga lainnya. Menjadi seorang ‘Ammah adalah amanah. Itu berarti orang yang akan menjadi contoh dari diriku bertambah. Karena aku sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjadi contoh. Adikku Mumtaz, Fathan,Gilang, dan sebentar lagi keponakanku. Beban tanggung jawabku bertambah. Aku harus menjadi seseorang yang pantas untuk dicontoh bagi mereka adik-adik dan ponakan.

Fathan sudah hafal 7,5 juz Al-Qur’an, Mumtaz sudah tartil membaca Al-Qur’an dan sudah hafal hampir 1 juz Al-Qur’an di usia SD kelas 1, dan ponakanku yang pastinya akan dididik oleh orang tuanya untuk menjadi seorang Hafidz/oh. Maka ini dorongan bagiku yang masih saja hafla di 2 juz Al-Qur’an. Target semester ini bisa menghafal tuntas juz 29 dan juz 28, bismillah.dan insyaAllah di kampus ingin bergbung dengan komunitas Tahfidz. Lillahi Ta’ala aku memperbaiki diri, menjadi taat untuk menjemput jodohku nanti.

Aku sedang rindu. Namun pada siapa rindu ini dimaksud aku tidak tahu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar