Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Kamis, 02 Juni 2016

Kenyamanan Kesempurnaan Ukhuwah

Ini kisah seseorang yang pernah menganggap telat mendapatkan hidayah. Tetapi memang tidak ada satu kata telat bagi hamba Allah yang ingin bertaubat. Ini kisah seorang wanita yang merindukan cinta hakiki yang didasari karena iman. Lagi, ini kisah seorang wanita yang pernah hampir saja direnggut kehormatan karena cinta nan semu.
Mari kita mulai cerita ini dengan sama-sama membuka mata hati dengan nur Illahi yang sudah terang benderang di sekeliling kita, tinggal bagaimana kita mau menyadari atau tidak cahaya yang sungguh sangat nampak. Benar, dia merindukan hujan yang mampu mengalirkan dan menghapus kenangannya yang mengotori perjalanan hidupnya. Hampir. Hampir saja. Untungnya Allah mengirimkan suatu ikatan yang entah apa namanya yang membuat dia terlena dan melupakan kepahitannya dulu, mungkin saking manisnya sehingga lupa pernah terluka.
Sejak duduk di bangku Tsanawiyah aku menemukan sosok laki-laki yang menjadi orang pertama yang mampu membuat hatiku senang walau hanya mendengar namanya. Dari jauh saja jika mata ini melihat sosoknya hatiku sudah berdegup kencang bak ramainya suara gemuruh saat malam hari raya. Saat itu aku belum mengenal ‘jaga pandangan’. Jangankan untuk menjaga pandangan, saat tidak melihatnyapun pikiranku sering terfokuskan tentang dirinya. Entah rencana apa saat itu, dan entah ini takdir dari Allah atau bukan ternyata dia juga merasakan yang sama seperti apa yang aku rasakan kepadanya. Pada satu kesempatan kita dipersatukan dalam satu acara sekolah. Aku dan dia saling tatap dan ada saling melontarkan senyum yang penuh makna. Singkat cerita, aku dan dia sejak itu mulai sering berkomunikasi melalui sms. Tidak pernah alfa, pagi, siang, malam, bahkan saling membangunkan untuk tahajud. Tidak puas rasanya jika hanya sms-an, lalu dilanjut telfon. Awalnya malu-malu untuk mendengarkan suaranya, tapi lama-kelamaan kenapa jadi ketagihan dan hamper tiap pekan tak pernah absen untuk membeli pulsa, dan telfonan menjadi rutinitas di malam hari.
Belum selesai dari telfonan lalu kenapa rasanya ada yang kurang dari komunikasi kita, karena di sekolah kita malu-malu. Jangankan untuk ngobrol, menatap saja rasanya tidak berani dan takut  dengan ejekan teman-teman satu kelas. Jadi komunikasi intensif  menjadi rahasia kita berdua.
Pada satu malam aku dan dia membuat janji untuk bertemu hanya ada aku dan dia. Kita bertemu saat pulang sekolah. Kita mencari tempat yang intensitas bertemu dengan orang yang kita kenal tidak ada. Akhirnya kita menemukan satu tempat yang menurut kita ‘nyaman’. Di pertemuan pertama kita biasa-biasa saja hanya membicarakan tentang rencana sekolah setelah lulus Tsanawiyah. Dia menceritakan keinginan untuk pindah di sekolah Negeri sedangkan aku memutuskan untuk masih di sekolah yang sama. Jujur hatiku kecewa mendengar keputusannya yang tidak lagi satu sekolah denganku, itu berarti aku dan dia akan sangat sulit sekali bertemu. Detik-detik memasuki bangku Aliyah aku dan dia tidak ada henti-hentinya untuk ‘janji’ agar tetap setia dengan perasaan masing-masing. Dia berjanji tidak akan melupakan bahkan meninggalkan aku, begitu juga aku yang akan terus menjaga perasaan untuknya sampai kapanpun. Yang lebih dalamnya adalah kita membicarakan ‘masa depan’ lima sampai sepuluh tahun mendatang. Rasanya aku benar-benar percaya dengan apa yang dia ucapkan dan aku merasa senang karena diberikan janji setia darinya. Dia yang sudah aku tidak suka lagi seperti dulu tetapi sayang atau bahkana mungkin ‘cinta’semakin dalam.
Akhirnya waktu dimana aku dan dia harus berbeda sekolah. Jarak sekolahku dengan sekolah dia  tidak terlalu jauh, jadi masih bisa bertemu saat berangkat sekolah. Dia jalan kaki melewati sekolahku sehingga aku dan dia masih bisa merencanakan secara langsung untuk bertemu setelah pulang sekolah dihari itu juga. Pada satu kesempatana aku dan dia bertemu di tempat yang sama seperti awal kita bertemu yang membedakan dengan yang pertama adalah kita sudah beda sekolah. Kita membicarakan keadaan dan kondisi kelas masing-masing. Bertemu menjelang shalat Ashar dan kita menyempatkan untuk shalat terlebih dahulu. Setelah shalat Ashar aku menelusuri jalan yang semakin gelap. Perlahan dia memegang tanganku yang katanya ingin menjagaku agar tidak ketakutan, aku tersenyum. Kita berhenti di satu tempat yang sepi. Setan mulai menggoda lebih jauh karena dia sudah berhasil membuat aku menerima sentuhan tangan dari dia yang saat itu aku sangat menyayanginya. Aku membiarkan dia mengusap pipiku, lalu bibir dan dia menciumku. Aku pikir hanya pipi jadi tidak apa.
Singkat cerita kita menjalani hari-hari penuh warna hingga sekitar tiga tahun. Di akhir bangku menengah atas tiba-tiba saja tanpa aku tahu sebabnya dia mulai menjauh dariku. Padahal sudah banyak kejadian-kejadian yang aku jalani bersamanya. Aku seperti mengemis agar dia bersikap seperti biasanya, tetap tidak bisa, dia benar-benar telah berubah dan akupun tidak tahu alasan jelasnya
Tidak ada lagi kabar sedikitpun darinya bahkan saat aku menanyakan ke teman-teman terdekatnya mereka juga tidak tahu karena dia benar-benar orang yang  intropert. Aku coba sms dia berkali-kali tidak ada balasan, aku hubungi nomor handphonenya tersambung tetapi tidak dijawab, aku buka facebook dia tapi tetap tidak ada kabar sedikitpun darinya. Aku benar-benar frustasi, galau, stress, apalah semua perasaan hancur yang aku rasakan saat itu. Aku merasa benar-benar di dunia ini tidak ada yang peduli terhdapku. Aku ingin menceritakan kekecewaan pada orang tua rasanya aku malu. Aku butuh teman bahkan mungkin sahabat yang mampu mendengar keluh kesahku saat itu.
Kenapa saat aku benar-benar sedih aku merasa bahwa sahabat adalah orang yang berarti. Menginjak bangku kuliah aku dipertemukan dengan teman-teman yang mampu menguatkan. Tapi aku baru sadar ketika aku sudah mengalami satu titik dimana aku benar-benar merasa susah move on dari masa laluku. Aku dan dia semakin jauh jaraknya. Aku masih saja sibuk memikirkan dia. Aku mengurung diri dari tiga sahabat yang sejak lama bersama. Saat libur semester aku pulang dan aku mendapat kabar pula bahwa dia sedang berlibur di Bogor. Hatiku kembali bergejolak ingin bertemu dengannya, ingin meluapkan kerinduan yang mendalam. Aku menangis di satu malam. Menangis seperti orang yang tak memiliki iman. Aku tidak bisa memejamkan mata sama sekali pada malam itu. Sekitar pukul satu dini hari aku membuka handphone yang masih sama, tidak ada satupun pesan yang datang darinya. Jari jempolku memilih untuk membuka BBM dan pada satu kolom aku menuliskan satu kalimat yang menggambarkan suasa hati. Kurang lebih seperti ini isinya: “Ini hanya masalah waktu. Pasti indah pada waktunya”. Setelah itu aku hanya terdiam menatap kosong hasil kalimat yang aku buat. Sekitar tujuh menit setelah itu suara BBMku bunyi, ada perasaan sedikit terobati dari rasa sepi dan sedih. Sahabatku. Dia mengomentari statusku, “Hannya bagi orang-orang Kristen yang menganggap bahwa akan indah pada waktunya karena itu tercantum pada kitab suci mereka. Bagi muslim semua waktu adalah milik Allah dan semuanya baik.” Begitulah kira-kira isi pesannya. Jujur aku binugung harus membalas apa. Aku hanya memberikan emoticon smile yang sebelumnya aku ketik ‘hehehehe’.
“Kamu ko belum tidur? Kamu lagi sedih ya?”
“Aku lagi memikirkan sesuatu. Bukan sedih bahkan aku hancur”
“Istighfar Bah.. coba kamu cerita sama aku siapa tau aku bias bantu”
“Susah untuk diceritakan. Aku lagi benar-benar sakit hati sama dia”
“Dia? Dia yang pernah kamu certain itukan?”
“Iya dia. Sekarang dia lagi di Bogor. Aku kangen sama dia.”
“Terus kalau kamu ketemu sama dia kamu mau apa?”
“Aku mau bilang kalau aku masih sayang sama dia dan aku mau tanya alasan kenapa dia ninggalin aku”
“Taibah, kamukan pernah bilang sama aku kalau perempuan sebesar-besarnya fitnah, kamu masih ingatkan?”
“Iya aku ingat. Tapi aku gak kuat kangen sama dia”
“Istighfar. Kalau kamu mau ketemu sama dia ya silakan saja. Asal nanti kamu harus terima risikonya sendiri ya. Kalau dia udah gak sayang kamu kamu pasti bakal tambah gak karuan, nah kalau dia masih sayang lantas dia bilang terus kalian mau apa? Kamu mau hubungan lagi sama dia kaya dulu? Kamu bakalan hilang kehormatannya, kamu mau?” Ratna menasihatiku.
“Kitakan pernah sama-sama janji bakalan saling menguatkan. Kita juga sudah janji unutk tidak lagi berhubungan dengan laki-laki yang bukan mahram kitakan? Kamu sendiri yang bilang kalau kita tidak boleh mendekati zinah, kamu hafal betulkan dalil al-Qur’annya? Lantas kenapa kamu jadi Muslimah lemah seperti ini?” aku belum sempat membalas pesan Ratna tetapi dia terus mengirim nasihatnya. Aku sempat tersentak dengan kata-kata Ratna. Aku sempat kesal dengannya, aku merasa dia ‘sok’ menasihatiku, padahal dia juga belum sempurna sama sepertiku.
“Kamu kenapa belum tidur Ratna?” tanyaku mengalihkan
“Aku rela gak tidur asal kamu bias tenang dulu. Kamu ambil air wudhu lalu lanjutkan shalat malam ya. Aku juga mau tahajjud sekarang, ayo sama-sama ya.”
“Iya Ratna”
Dengan niat karena Allah walaupun sangat berat untuk melangkah mengambil air wudhu aku tetap memaksakan langkah. Aku shalat Tahajjud di antara kesunyian. Aku mendengar suara keheningan malam menyelimuti saat itu. Begitu tenang dan aku terlena dengan pelukan hangat saat aku sedang khusyuk menunaikan Tahajjud. Setelah tahajjud aku meneruskan berbincang dengan Ratna di BBM.
“Ratna, aku merasa setan telah berhasil menguasaiku sebelum aku tahajud. Terimaakasih ya sudah mengingatkan. Jangan bosan menegur jika aku salah”
“Aku sayang kamu Taibah, sungguh sangat sayang kamu. Aku gak mau lihat kamu sedih apalagi Cuma gara-gara laki-laki. Maaf ya Taibah aku belum bisa jadi sahabat kamu yang baik sehingga kamu belum bisa kuat. Karena aku menyadari bahwa jika sahabat kita masih suka galau berarti sahabat yang lainnya belum bisa menjadi contoh yang baik pula.”
Ratna, andai malam itu kamu berada di dekatku, aku akan memelukmu dan menagis di pundakmu dan mengucapkan banyak terimakasih. Malam itu perasaan galauku hilang seketika. Aku merebahkan badan ke kasur dan melihat langit-langit atap kamar. Aku membayangkan kebahagiaan bersama sahabat-sahabat terbaik, Ratna, Dita, dan Siti. Mereka bagaikan anak tangga yang rela sakit untuk aku injak agar aku mampu bangkit. Kita sering makan satu bungkus ber-empat, sharing tentang masalah masing-masing, saling moyokin kalau ada laki-laki lewat yang ditaksir Dita, ketawa dan nangis juga kita pernah satu waktu. Belajar bersama hingga larut malam, tahajud dan tilawah bersama, banyak hal bersama mereka yang jauh lebih indah.
Aku membuka galeri di handphone mencari foto kebersamaan aku dan ketiga sahabat. Aku memperhatikan senyum-senyum yang merekah di bibir mereka. Pelukan di foto itu terasa lagi ditubuhku begitu hangat dan penuuh cinta. Saat aku sakit mereka orang pertama yang memperhatikan dan menjenguk karena akau jauh dari orangtua. Kenapa aku baru menyadari ukhuwah manis ini sekarang, kenapa gtidak dari dulu saja. Kenapa aku baru menyadari mereka sangat menyayangiku sedangkan aku tidak bersyukur, kenapa aku egois sekali. Aku hanya fokus pada satu orang yang sama sekali tidak memperdulikan aku, kenapa aku fokus dengan dia yang sama sekali tidak memikirkan aku, kenapa aku rela mengeluarkan air mata hanya untuk orang yang sama sekali tidak pernah ada rasa kasihan sedangkan aku memikirkan sahabat-sahabatku yang sudah jelas sangat peduli terhadapku saja hanya ketika aku butuh, bahkan mereka tidak pernah putus asa membuat aku merasa nyaman.
Manusia memang sering sekali melupakan nikmat yang ada didekatnya, padaal itu sangat jelas terasa. Manusia sering uruing-uringan karena merasa kekurangan. Dan aku adalah salah satu dan manusia paling utama yang kurang rasa bersyukur karena aku memiliki ukhuwa yang erat dengan sabat-sahabat.
Pada suatu siang aku sedang bersama mereka. Sambil menunggu jam mata kulia aku membuka goole crome dan meliat dinding facebook. Di beranda facebook terdapat foto seorang laki-laki dan perempuan dengan memakai celana jeans, kaos mera dan kerudung sedanya sangat dekat denan laki-laki di sebelanya. Awalnya aku tidak mengenali sosok laki-laki itu, tapi yang membuat aku sadar akun perempuan itu menandai facebook laki-laki tersebut dan ternyata itu dia. Desiran darah semakin kencang bahkan bisa terasa alirannya, jantung entah menapa berdetak sekencan-kencannya. Tetapi ada satu hal yang aku syukuri. Lidah dengan spontan beristighfar dan  keluar dari beranda facebook. Banyak hal tergambar dalam memoriku. Ada rasa kecewa karena kedekatan dia denan perempuan lain, tapi ada hal yang sangat penting, yaitu rasa syukur karena suda ditingalkan dan terjauh dari maksiat. Setidaknya dia sudah berani dekat-dekat dengan perempuan lain, lalu apakah aku jua mau jadi seperti itu yang mudah saja didekati? Untung saja Allah memenakdirkan aku berpisah dengan dia. Lagi-lagi aku sangat bersyukur rencana Allah yang awalnya aku kira tak adil ternyata baik. Sahabt-saabatku mengetaui hal yang baru saja terjadi, mereka menghampiri dan menanyakan kabar hatiku. Aku mengatakan aku sangat baik-baik saja karena ada mereka yan menjadikan aku kuat. Karena ikatan ukuwa bersama kalianlah alasan aku untuk terus bersyukur. Mereka yan pernah aku lupakan hanya karena cinta yan semu.
            Karena bersama mereka jalan idupku menjadi lebih berwarna. Kita sama-sama memperbaiki diri dengan membaca buku-buku bacaan Islami, saling mengingatkan dan saling beriringan mendekatkan diri kepada Allah. Kita yang ketika melakukan kesalahan akar ditegur secara langsung dengan penuh kasih sayang. Dalam kedekatan ini aku sangat menakutkan perpisahan di anatara kita. Imanlah kunci penguatan hati di antara kita.
Karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai, aku tau, yan rombeng  bukan ukuwah kita, hanya iman-iman kita yan sedang sakit, atau mengerdil, munkin dua-duanya, mungkin kau saja, tentu terlebi sering, imankulah yan compang-camping ( Salim A. Filla)
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar