Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Selasa, 23 Februari 2016

Mencintaimu yang Sempurna

Finished :)
i tried to maked a cerpen. And i hope this cerpen can give inspiration for other people. About love and about struggle for change to be a decent human. Hoping reunted with mate wich has been planed byAllah.

PLEASE READ AND GIVE CORRECTION GUYS :)



Mencintaimu yang Sempurna
Ini adalah soal kata. Mengapa di dunia ini tedapat kata ‘tapi’? karena manusia tidak ada yang sempurna. Salahkah jika aku berharap seseorang yang sempurna? Kesempurnaan manusia memiliki batas kadar. Ini soal kebahagiaan, karena kesempurnaan akan menghadirkan sukacita. Karena ini soal waktu, selamanya bukan hanya satu atau dua hari. Kesempurnaan bagiku adalah solusi dari panjangnya waktu jika diizinkan oleh Allah. Karena ini masalah suatu massa yang akan melahirkan massa yang baru dan akan menciptakan kesempurnaan pula. Ini soal mereka yang menjerit dengan ketidaksempurnaan teman hidupnya. Yang harus dipisahkan dan meninggalkan isak tangis tanpa menyisakan setetespun kebahagiaan. Yang harus menanamkan kebencian bahkan kecacatan hati. Menjadi pincang  perasaan cinta. Karena ini adalah soal pilihan, apakah masih mempertahankan ego atau kepasrahan dalam memilih.
***
                Dengan bisu aku perhatikan tetes demi tetes hujan, jadilah dingin perasaanku seketika teringat dia yang menjanjikan mengubah tiap tetesan hujan dengan kebahagiaan. Hatiku mengkristal menjadi kebencian. Ketulusan menjadi busuk. Sebuah titik menjadi titik selesainya tangan ini bergores. Masih dalam keadaan mata terhipnotis pada tetesan hujan ,tanganku berusaha meraih handphone touch hitam berukuran sedang. Aku hanya  menekan bagian samping untuk menghidupkan handphone. Tidak ada sms, hanya memunculkan sembilan titik untuk membuat pola dan di belakangnya terdapat foto kebersamaan dengan sahabat terbaikku. Kuhempaskan dengan perlahan handphone . Tak ada yang berbeda semenjak dia pergi.   
                Hujan pergi dengan awan yang ditiup angin. Tinggal bekas airnya. Mengalir ke temapt yang lebih rendah. Hanya meninggalkan basah di tiap jalanan. Sebentar lagi juga diserap tanah, atau menguap karena datangnya matahari. Datanglah kembli hujan, aku akan merindukanmu. Ah, kenapa hatiku tiba-tiba menjadi melankolis karena datangnya hujan, padahal aku tidak mudah tersentuh hatinya apalagi menangis. Loh, apa ini buku diaryku basah membentuk tetesan bulat. Kenapa mataku sembab? Ah, ada apa ini?.
                “i promise anyitime you call me it don’t matter where i am i always..”  Raiska menelponku.
                “Ya, hallo”
                “Sahidah Sahidah.. kamu lagi gak nangiskan?”
                “Siapa yang nangis? Kamu taukan aku  ini gak mudah rapuh hatinya, apalagi cuma karena    dia, huh!”
                “Sahidah, dia tadi telpon aku, katanya dia minta balikan. Dia nyesel udah mutusin kamu.”
                “Kenapa harus telpon kamu? Kenapa gak langsung ke aku aja?.”
                “Dia bilang takut Sahidah jadi lewat aku. Kamu mau terima dia lagikan?”
                “Mmmm.. aku pikir-pikir lagi ya, aku gak mau mudah terima dia lagi”
                “Tapi Firman sungguh menyesal, tidak akan mengulang kesalahannya lagi. Terima dia ya, kasihan dia.”
                “Kenapa kamu yang kasihan sama dia? Kamu gak kasihan sama aku yang udah dibohongin sama dia?” ah, aku kesal, pelariannya adalah menekan tombol merah di handphone.
                Kenapa jadi pagi yang memberatkan? Sudah terbayang bertemu Firman. Aku harus menetapkan sikap. Ya, harus!. Depan cermina aku menatap baik-baik wajah lalu membereskn baju putih yang telah menempel dengan rapi menepuk rok abu-abu yang tidak kotor. Kerudung paris putih tipis aku lipat menjadi segitiga simetris, membungkus rambut hitam yang terikat.
                Firman berdiri menyandar depan tiang kelas. Dari jauh aku perhatikan dia yang senyum ke setiap orang yang berjalan di depannya. Ih, kegenitan senyum sana-sini. Dengan culas aku lewat di belakangnya, saat dekat dengan tubuh dia jalanku dipercepat lalu masuk kelas. Aku langsung duduk di meja, saat mau duduk, ada selembar kertas berwarna biru bunga-bunga. Tanpa aku raih aku memabaca “Sahidah, aku ingin bertemu. Aku mohon kamu mau ya, di taman sekolah dijam istirahat pertama tidak ada keterangan siapa pengirimnya, tapi aku hafal betul pemilik tulisan surat singkat itu.
                Jam istirahat ditandai dengan bel. Tapi hatiku ragu untuk bertemu dengan Firman. Aku tengok belakang Firman masih diam di mejanya, malah dia asik bercengkrama dengan teman-temannya. Tak lama aku kembali pada pandangan ke depan, Firman ke luar melewatiku tapi tak sedikitpun menengok ke arahku. Kenapa Firman cuek, lalu apa maksudnya dia mengirim surat tadi pagi?. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti Firman dari belakang. Biar saja, dia ke taman sekolah. Duduk sendiri seperti menunggu seseorang. Langkahku terhenti tak berpikir lama aku membalikkan tubuh dan buru-buru lari menuju kelas.
                “Rasika, aku gak mau ketemu Firman. Titik!”
                “Kenapa sih, tiba-tiba dateng bukannya kasih senyum ke sahabatnya malah marah-marah”
                “Aku kesel Rasika, kesel!”
                “Kamu kenapa, cerita yang jelas jangan Cuma bilang kesel aja ah!”
                “Firman minta ketemu dijam istirahat ini, tapi pas di kelas dia sama sekali gak nyapa apalagi senyum sama aku, ah gak niat kali ketemu akunya”
                “Hahahahaha jadi itu alasan kenapa kamu sebel sama Firman? Itu berarti kamu masih berharap bisa balikan sama dia dasar egois kamu!”
                “Kamu bukannya nenangin aku malah ngehakimin aku males ah!”
                “Bodo amat, munafik sih”
                Tanpa kata lagi aku meninggalkan Rasika. Jam istirahat telah habis. Aku sudah siap duduk di tempatku. Saat mataku tak berarah melihat ke depan ruang kelas langsung terhipnotis pada satu orang yang tidak sedikitpun melemparkan senyum seakan tidak ada hubungan apa-apa aku dengan dia. Padahal aku sudah membuat kesal dia, aku tidak menemui dia di jam istirahat tadi. Firman jalan begitu saja bahkan tak melirik lama pada wajahku. Aku menelan ludah. Firman, ini membuktikan kamu sama sekali tidak serius meminta aku untuk balikan.
***
                Firman datang ke mejaku memberikan senyuman termanisnya. Ini adalah senyuman termanis yang hanya dia berikan padaku. Dia duduk di meja berhadapan denganku. Aku bermanjaan dengannya. Saat tanganku memegang pulpen yang hanya aku main-mainkan tangan Firman memegang ujung pulpen dan perlahan menyentuh dan meraih tanganku. Tak ada reaksi dariku, senyum merekah dari bibirku yang tak bisa berkata apa-apa. Firman, hatiku berdebar kencang, aku ingin kau tau perasaanku saat ini. Pulang sekolah kau tarik tanganku saat aku bertanya ingin dibawa ke mana a, Firman hanya diam saja. Hanya intruksi mata aku langsung naik motor yang sudah Firman siapkan dengan menyalakan mesinnya. Taman kota disore hari sejuk sekali awan yang menjingga udara malam sudah terasa dengan hembusan angin yang manis, burung-burung berbondong kembali ke sangkarnya, dedaunan bergoyang mengikuti keinginan angin yang lembut, ah sore yang romantis apalagi saat ini dengan Firman yang sering kali mengetuk hatiku dengan menggelitik. Kau satu-satunya bunga yang merekah di antara ribuan bunga di taman, Firman.
                “Tunggu sebentar ya Cantik” Firman lari tanpa menunggu balasan dariku.
Dia datang membawa es krim cokelat kesukaanku, ah dia tau saja yang aku inginkan saat ini. Firman memberikan dengan lembut, aku menikmati eskrim sangat menikmati dinginnya  dan nikmatnya rasa cokelat menambah romantis sore ini, dengan bincang-bincang ringan dengan Firman. Firman memang yang paling bisa membuat aku tertawa. Kenangan manis dia berikan selama tiga  tahun terakhir ini. Dia memegang tanganku membuat hangat hingga ke hati. Takku sangka dia mencium telapak tanganku. Aku terkejut dan reaksiku berdiri dan menghiraukan es krim yang jatuh di rumput hijau. Aku memang tidak mengeluarkan kata apapun hanya tatapan yang memberikan sebuah kata bahwa aku kecewa dengan Firman. Firman menarik tanganku hingga aku kembali duduk, dia memohon maaf karena khilaf. Moodku tiba-tiba rusak. Pikirku pegang tangan adalah semaksimalnya pacaran selebihnya aku tidak ingin terjadi.
***
                Jadi, suatu hari aku melihat mamah menangis. Aku menghampiri perlahan dan berusaha mengusap air mata mamah. Mamah sudah tiga tahun menjadi ayah sekaligus untukku dan dua saudaraku. Mamah mungkin lelah dengan kesendiriannya tanpa ditemani pendamping hidup. Ayah meninggalkan mamah karena perempuan simpanannya selama satu tahun. Ayah mempermainkan kesabaran mamah walaupun mamah sudah mengetahui belangnya ayah dari awal ayah selingkuh. Mamah selalu sabar dan yakin ini hanya ujian yang dia yakini dengan cinta akan mengubah sikap ayah. Tetapi kesabaran mamah hanya terbalas luka saat perempuan simpanan itu telah hamil hasil hubungan gelap ayah. Ayah lebih memilih bertanggung jawab dengan anak yang dikandungnya dengan menikahi perempan itu. Jadilah aku merasa cacat berjalan tidak sempurna tanpa sosok ayah lagi di kehidupanku.
                Sejak saat itu mamah sering menasihatiku tidak boleh pacaran, karena dengan pacaran tidak akan menjadikan aku sebagai istri yang baik kelak, begitu pula tidak akan menciptakan suami yang baik kelak. Laki-laki yang sudah berani memegang tanganmu saat pacaran, jangan menyesal nanti memilih dia saat nanti sudah menikah dia berani memegang tangan perempuan lain selain istrinya. Aku banyak mengambil pelajaran dari mamah yang walaupun aku juga tidak bisa menerima kenyataan bahwa ayah pergi.
***
                Di jam setelah istirata itu aku mengingat dua kejadian. Saat tanganku pernah dicium oleh Firman dan sosok mamah yang menangis dan memberi pesan untukku. Di sisi lain aku masih menyimpan rasa sayang pada Firman. Firman, tetapi sikapmu beda dari yang aku tau. Semenjak aku memintanya untuk mengakhiri hubungan kita.
                Bel pulang berbunyi. Terpaksa aku pulang sendiri karena Rasika mendadak rapat persiapan acara seminar tahunan di sekolah.  Jarak sekolah dengan rumah tidak terlalu jauh. Aku menysuri jalan. Aku nikmati setiap langkah, melihat setiap kendaraan yang berlalu lalang. Dari kejauhan aku melihat Kak Roisul dengan penampilan rapinya. Kak Roisul alumni sekolahku satu tahun yang lalu tetapi dia masih setia dengan organisasi intra sekolahku, Rohis. Wajahnya terlihat adem dan memiliki aura innerbeauty. Hatiku berkata dialah sosok yang sempurna jauh dengan Firman yang tidak bisa menjaga pergulan dengan perempuan. Sosok yang mamah bilang. Kak Roisul memiliki riwayat baik selama di SMA, aktif pada lembaga dakwah dan sekarang menjadi mentor anak laki-laki di Rohis.
                Kayaknya terlalu jauh jika aku mengharapkan sosok Kak Roisul. Langkah kakiku lebih serius untuk melangkah menuju rumah. Setibanya di rumah aku langsung masuk kamar dan melihat diriku di cermin. Aku mengusap kerudung yang hanya sekedar menutup rambutku. Aku menyadari ada yang salah dalam diriku. “Jika aku menginginkan sosok Kak Roisul aku harus berubah. Mulai dari besok ke sekolah” hatiku berbisik. Malam-malamnya aku mencoba melapiskan kerudung parisku dengan kain paris yang sama. Aku lipat kurang dari simetri segitiganya. Aku coba balut pada kepalaku. Menyatukan dua bagiannya dengan peniti. Sisi kanan aku simpan di bahu kiri lalu aku hubungkan dengan baju tidur lalu diberi peniti, lalu sisi kirinya aku simpan di bahu kanan lalu aku pilih bros bunga merah jambu dan aku buka jarum yang melekat di bros untuk ditempelkan di bahu kanan. Aku menilik perubahan wajahku. Lebih rapi dan anggun.
                Baru kali ini aku merasakan pagi penuh dengan percaya diri. Seperi ada yang berbeda. Kerudung yng aku pakai ini membeikan energi positif. Untuk mendapatkan sosok sempurna  yang mamah harapkan. Aku tersenyum pada diriku dicermin. Langkah kakiku menuju sekolah. Bukan mentari yang menyambutku, tapi akulah yng menyambut mentari. Berkat senyumku, mentari bersinar tidak seperti biasanya. Wahai mentari, jika nanti kau berproses menguapkan air laut, salam untuk calon hujan ya, bilang padanya turunlah jangan takut aku berani menghadapi. Bel masuk memang masih lama, aku sengaja berangkat lebih pagi. Aku berharap hari ini tidak ada yang merusak apalagi oleh Firman.
                Aku pikir kelas masih sepi karena masih setengah jam lagi bel masuk. Firman? Kenapa dia sudah datang? Kenapa dia di antara dua perempuan? Firman memang laki-laki yang jauh dari kesempurnaan. Sudah membuat luka hatiku sekarang dia dekati perempuan bahkan dua? Sebenanrnya apa yang berada dalam pikiran Firman? Laki-laki buaya. Semua laki-laki sama saja. Mungkin kekagetanku terasa oleh Firman, dia melihat ke arahku tapi seketika aku lari dari hadapannya. Aku lari ke kelas Rasika. Tapi dia belum datang, aku lari ke taman sekolah. Aku mendengar langkah kaki yang dipercepat dari belakang tapi aku hiraukan aku harus lari lebih cepat. Aku duduk di kursi kayu panjang di pinggiran taman sekolah. Aku merasa ada seseorang di belakangku. Aku menerka-nerka siapa orangnya. Firman. Pasti dia. Aku akan katakan padanya kalau aku benci  dia, laki-laki yang hanya bisa mempermainkan perasaan banyak hati perempuan. Kak Roisul? Kenapa dia yang ada di belakangku? Ah, ini pasti aku salah lihat, ini bukan Kak Roisul.
                “Assalamu’alaikum Dik Sahidah, boleh kakak duduk?”
                “Kak.. kak.. kak Raoisul? Benar kak Roisul?”
                “Iya benar, memang siapa lagi?”
                “Sahidah kira siapa kak maaf ka. Wa’alaikumsalam. Iya boleh ko kak, silahkan” kak Roisul duduk di sebelahku tetapi jarak kita agak jauh. Duh, ini nih yang bisa dijadikan calon, sempurna.
                “Sahidah sedang ada masalah ya? Tadi kakak lihat Kamu lari buru-buru ada apa dik?”
                “Gapapa ka, Cuma ada masalah sama sahabat Sahidah ka”
                “Siapa? Rasika?”
                “Loh, kakak tau sahabat ku siapa? Kok bisa?”
                “Kita sedag ada kerja sama untuk acara Rohis Dik, sekedar tau aja kalau Rasika sahabat baik Sahidah” kak Roisul tersenyum lembut.
                “Nanti sore Sahidah datang ya untuk persiapan acara Rohis dua hari lagi. Kita kekurangan tenaga ni. Dengar-dengar Sahidah jago design spandukkan? Kalau begitu besok bantu Firman buat design ya”
                “Apa? Siapa? Firman? Di..di..dia ikut Rohis?”
                “Dia hanya bantu-bantu Sahidah. Setelah selesai pelajaran ke kantor kami ya”
                “Ta..ta..tapii.. Sahidah gak janji ya kak”
                “O tidak masalah. Terserah Sahidah saja. Kakak gak maksa ko, tapi kakak harap Sahidah datang”
                “InsyaAllah kak”
                “Terimakasih Sahida kakak pamit dulu ya syurkon Sahidah. Assalamu’alaikum”
                “Wa..wa.. wa’alaikumsalam ka Roisul” aku gugup menjawa salamnya.
                Aku kembali ke kelas. Menundukan wajah. Langsung aku duduk. Terdiam. Kenapa tadi Firman gak kejar aku? Apa dia gak tau kalau aku.. cem... ah, enggak enggak! Dia laki-laki yang gak baik buat aku, memang mau disakitin terus sama dia? Tapi kenapa kemarin Rasika bilang Firman minta balikan kalau kenyataanya dia sekarang dingin sama aku? Apa dia nyerah buat ngedapetin aku? Sudahlah masih ada kak Roisul yang jauh lebih baik. Ya jauhlah kalau dibandingkan dengan Firman. Bagaikan langit dan bumi.
                Lamunanku terpecahkan dengan suara salam guru Fisika. Baru sadar kalau sekarang ulangan harian Fisika, sedangkan aku belum mempersiapkan kertas selembar dan belum mengeluarkan pensil, penghapus, dan pastinya kalkulator. Belajarku semalam tidak sia-sia. Aku bisa mengerjakan soal-soal Fisika ini dengan mudah.
                Sekolah dibubarkan. Aku menerima tawaran Kak Roisul untuk membantu mmbuat design spanduk dengan Firman. Hah Firman? Yang benar saja? Firman? Laki-laki itu? Kenapa tiba-tiba aku ingin dengan Firman? Ah!.
                Tapi aku tetap menuju kantor Rohis. Firman? Laki-laki itu malah mendekati Rasika? Firman memberikan sepucuk surat dengan amplop merah jambu gambar hati? Memeberikan bingkisan? Apa-apaan ini? Si laki-lki belang itu sekarang berhasil merayu sahabatku. Tambahlah kebencianku.
                “Rasikaaaaaaaaa” refleks aku teriak dari jarak yang cukup jauh antara mereka berdua. Dengan sigap Rasika dan Firman menengok ke arahku. Aku menutup mulut degan kedua tanganku dan langsung lari. Kenapa aku begini? Kenapa hati aku sakit melihat Firman dengan Rasika? Aku cemburukah? Apa karena aku tidak ingin Rasika sakit hati dengan orang yang sama yang juga sudah menyakiti aku? Entahlah.. sepertinya aku masih....masih...dengan Firman. Aku masih berlari bahkan sekarang air mataku jatuh secepat langkah lariku.
                Aku menyembunyikan diri di balik batang pohon terbesar di sekolah. Aku masih terisak. Tanganku menutup mulut berusaha agar suara isakan tak terdengar oleh siapapun. Di samping ada yang memegang lembut bahuku. Dengan suara lirih “Sahidah”. Langsung aku peluk sosok yang berada di sebelahku. Semenjak bertemu dengannya entah mengapa aku mempercayakan pundaknya adalah tempat ternyaman setelah mamah.
                “Maafkan aku Rasika”
                “Maaf untuk apa sahabatku?”
                Aku hanya menggelengkan kepala masih dalam keadaan aku bersandar di pundaknya.
                “kamu jangan salah faham ya Sahidah. Yang diberikan Firman ini untuk kamu. Dia yang menitipkan ini lewat aku. Kamu cemburu ya?” goda Rasika mencolek dagu menggodaku.
                “Aku gak bisa terima itu Rasika. Aku gak mau terima apapun dari Firman. Laki-laki yang udah buat ku sakit hati. Orang yang udah menghancurkan kepercayaan aku Rasika. Kamu kemabalikan saja itu pada Firman”.
                Ada hal yang tidak ku sadari, Firman berdiri tegak di belakang aku dan Rasika. Dia mendengar percakapanku dengan sahabat baikku yang telah berpakaian lebih syar’i dariku.
                “Sahidah, maafkan aku telah menghancurkan kepercayaanmu terhdapku. Saat itu aku benar-benar khilaf. Bukankah manusia tidak ada yang sempurna Sahidah? Dan manusia tempat salah dan lupa. Maafkan aku Sahidah”. Mata Firman erkaca-kaca.
                “Kamu ngapain di sini? Pergi Firman! Memang manusia tidak ada yang sempurna, tapi kamu jauh dari kata sempurna. Mulai sekarang aku gak mau lagi liat kamu”. Aku pergi meninggalkan Firman yang mematug dan Rasika yang serba salah.
                Hujan sangat deras mengejar langkahku. Teringat tadi pagi saat aku menitipkan salam lewat matahari bahwa aku tidak akan pernah takut pada hujan. Tangan aku ulurkan untuk merasakan setiap sentuhan hujan yang turun. Wajah aku arahkan pada langit. Ternyata kau berani menghadapku, hujan. Aku masih berjalan di antara hujan. Aku melihat di antara hujan sosok laki-laki dengan helm hijau berjaket kulit cokelat yang telah aku kenal. Itu Firman. Dia hanya sekilas menatapku lalu pergi dengan cepat. Perasaan kesal mengkristal dalam hatiku. Aku menangis di antara hujan. Aku percepat langkahku menuju rumah. Sampainya di rumah terdapat sepatu hitam yang sudah tak asing lagi aku lihat, Rasika. Ada apa dia datang ke rumah?.
                “Rasika?” tanpa salam aku masuk ke dalam rumah.
                “Sahidah, kamu kehujanan?”
                “Aku sengaja”
                “Kamu cepat mandi dan ganti baju ya. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
                “He’em” dengan cepat aku mandi dan pakai baju. Aku sediakan teh manis hangat dua gelas untukku dan Rasika.
                “Diminum tehnya ya. Oya, mau ngomong apa? Jangan bilang tentang si laki-laki belang itu ya?”
                “Eh kamu gak boleh bilang begitu. Dia sekarang udah berubah total Sahidah. Dia udah ikut Rohis . Kamu pernah dapat surat di atas kursi kan, dia minta ketemu kamu? Itu suruhan aku Sahidah. Dia cerita sama aku kalau dia mau minta maaf sama kamu. Dia benar-benar menyesal dengan segala perbuatan yang udah dia lakuin ke kamu. Dia mau ketemu kamu, padahal dia gak sendiri, sama kakaknya, ka Roisul.”
                “Apa? Kak Roisul kakaknya Firman? Kakak kandungnya?
                “Iya, kamu ke mana saja baru tau ya?”
                “I...i...iyaaaa”
                “Firman juga banyak cerita ko ke kak Roisul. Kak Roisul minta tolong sama aku buat ngebantu Firman dapat maaf dari kamu. Kamu kabur waktu liat Firman di kelas sama Zakia dan Rahmikan pagi-pagi? Mereka lagi bicarain soal acara Rohis. Kebetulan Firman sendiri, padahal gak lama kak Roisul datang. Kenapa Firman gak kejar kamu? Karena dia pengen jaga jarak sama kamu. Dia takut salah langkah kalu ngejar kamu. Jadi Firman minta kak Roisul buat temuin kamu.”
                “Jadi Firman sudah bener-bener berubah ya Rasika?”
                “Iya, dia juga mau ajak kamu buat ikut Rohis. Ini suratnya kamu baca ya. Ini juga ada buku dari Firman. Ini yang dia titip ke aku Sahidah”. Pipiku terasa hangat dengan air yang tak pernah aku harapkan untuk datang.  Aku mengambil surat dan bingkisan yang Rasika simpan di atas meja.
                “Terimakasih Rasika” aku mendekati Rasika da memeluknya.
                “Kamu jangan su’udzon lagi sama dia ya. Dia bilang mau minta maaf langsung. Tapi kamu selalu menghindar”.
***
                Malam menjadi saksi bisu. Surat dan bingkisan di hadapanku. Aku termangu di dalam kamar yang tak begitu luas. Aku ragu membuka surat dari Firman. Aku harus menghilangkan rasa egoisku. Pertama aku raih surat beramplop merah jambu. Aku buka perlahan.
Assalamu’alaikum Sahidah.
Keadaan saat aku menulis surat ini, aku sudah dalam keadaan lembaran baru. InsyaAllah aku sudah dalam keadaan hari yang baru saat kak Roisul membawaku ke Rohis. Aku menemukan ilmu baru. Aku jadi banyak menyadari bahwa sikapku dulu apalagi denganmu aku sangat menyesal. Maafkan aku Sahidah. Aku tak mampu menatap wajahmu lagi. Aku ingin menjaga pandangan denganmu walau aku pernah mencium tanganmu. Itu masa jahiliahku Sahidah.
Sekarang aku sudah sering mengikuti kajian-kajian Rohis. Banyak ilmu baru yang aku dapatkan. Aku ingin mengajakmu sama-sama belajar di Rohis. Aku senang melihatmu memakai kerudung lebih tebal. Sudah berusha menjaga mahkotamu. Aku senang. Lebih baik jika kamu lebih belajar untuk menutupi kekuranganmu dengan belajar lebih dalam  tentang Islam.
Maaf jika mengenalku tak seindah pelangi.
Aku hanya hujan bagimu yang membuatmu menangis degan puas, sehingga saat kau menangis  tak ada yang tahu derasnya air matamu.”
                Air mata membanjiri. Membuat samudera rasa bersalah dalam hati. Luka terdalam yang pertama kali aku rasakan. Menangis. Menangis. Malam ini aku larut dalam tangisan. Sunyi menjadi saksi  dan bisu aku alami. Ingin rasanya aku berlalri dalam bayangku unutuk menghampirinya dan aku  mengatakan betapa menyesalnya diriku pernah tak peduli denganmu.
                Aku membuka bingkisan. Sebuah buku yang menarik untuk dibaca. Judulnya yang indah. “Ketika Cinta Datang Belum Pada Waktunya” dan buku kecil berisi do’a-do’a Rasulullah untuk pagi dan petang, Al-Ma’tsurat. Terimakasih Firman, aku percaya kamu sekarang sudah berubah. Perlahan aku buka lembar demi lembar buku yang Firman berikan. Malam ini aku belum sanggup untuk membaca buku. Mataku sembab bahkan pegal rasanya. Aku baca ulang surat Firman. Diulang hingga lebih dari lima kali. Entah perasaan apa ini aku tak mengerti.
                Paginya aku sediakan kerudung tebal putih, bukan lagi paris yang di jadikan dua lapis. Kerudung tebal putih yang sudah lama Rasika beri baru pertama kali aku pakai. Dengan lafadz Bismillaah aku pakai kerudung yang jauh lebih panjang. Aku cium pipi mamah sebelum berangkat sekolah. Sambil berjalan menuju sekolah aku baca al-ma’tsurat pemberian Firman. Aku nikmati perjalanan dengan diiringi bacaan al-ma’trusat terasa ringan langkah ini. Baru kali ini aku merasakan ada yang berbeda dalam hatiku seperti ada cahaya iman yang datang.
                Aku menyimpan tas di atas kursi. Lagi-lagi aku datang ke sekolah setengah jam lebih awal. Aku memutuskan  pergi ke musholla untuk shalat duha. Sepanjang perjalanan menuju musholla aku hanya menundukan wajah. Tak hentinya berdzikir. Aku mengambil air wudhu lalu shalat. Selesai shalat aku mendengar suara laki-laki yang tak asing lagi memaca bacaan yang aku baca tadi pagi, al-ma’surat. Aku mengintip lewat kain hijab berwarna hijau. Aku perhatikan dalam-dalam. Firman...aku memanggl dia dengan volume yang sangat kecil. Firman meliht ke arahku. Aku hanya berdiam kaku saat Firman menghampiri.
                “Sahidah. Kamu di sini juga? Sahidah jangan pergi dulu aku mau bicara.”
                “Aku sudah memaafkan kamu. Aku yang seharusnya minta maaf. Kamu gak perlu lagi minta maaf Firman”.
                “Tapi Sahidah, aku banyak salah sama kamu. Aku gak mau lagi nyakitin hati kamu.”
                “Apa kamu masih sayang sama aku seperti dulu Firman?”
                “Aku tidak ingin mengatakan itu Sahidah. Aku takut memberikan bekas yang pahit jika kamu kenang. Aku takut hanya memberikan harapan”. Perkataan Firman membuat aku luluh. Seperti es batu yang terkena cahaya matahari, meleleh. “Aku gak mau lihat kamu sedih. Tolong jangan kamu perlihatkan air matamu depanku Sahidah”
                “Firman, aku masih...”
                “Sudah Sahidah jangan katakan itu. Jadilah akhwat yang selalu belajar menjadi sempurna agar kamu bisa mendapatkan ikhwan sempurna yang kamu harapkan. Aku juga sedang berusaha untuk itu. Kita sama-sama menyempurnakan diri ya Sahidah.”
***
                kesempurnaan itu hanya milik Allah,bukan? Egois jika aku hanya mempertahankan bahwa aku ingin mendapatkan seseorang yang sempurna. Kesempurnaan manusia itu terbatas. Jika aku memperbaiki diri mka jodoh yang Allah siapkan juga sedang memperbaiki diri. Entah siapapun itu. Tapi, bolehkah aku mengira bahwa itu dia?

               


Sarah Muthi’ah Widad
#MotivaWriter
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar