Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Jumat, 13 November 2015


Bismillahirrahmaanirrahiim..
       Tak disangka detik ini adalah malam yang terulang ke-sekian kalinya saya berada di Ciputat tepatnya Asrama Putri IMM. Saya tidak bisa mengatakan ini adalah sebuah prestasi karena merasa belum adanya perubahan yang signifikan dalam diri saya. Malam menjadi sahabat saya. Hingga larut saya bermesraan dengannya. sering kali saya menginginkan tetap pada detik ini melakukan yang menjadi kewajiban saya atau mungkin hanya sekedar mengeluarkan hasrat berkreasi. Hati akan merasa senang jika malam saya masih bergelut dengan rutinitas yang menggembirakan. Tidak jarang mata melirik jam di handphone atau jika sedang ngetik secara otomatis mata menuju deretan angka di sebelah kanan bawah. Dengan sendirinya saya memiliki patokn-patokan tersendiri dalam menyelesaikan yang saya kerjakan saat itu. Tapi keseringan patokan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Ada beberapa faktor, yaitu yang pertama karena terlalu asyik sendiri, eh maksudnya ke-asykan ngerjain tugas (apa lagi laprak), atau emng udah keburu lelah jadi mata melemah dan melelehlah diri saya ke atas kasur berselimut seprai biru bunga-bunga kuning, bantal guling yang terasa dingin jika dipeluk, ah terasa nikmat sekali. Itu godaan terberat setiap malam.
      Jadi saya adalah anak pendidikan Kimia semester 1 di tahun 2015 ini. Jadi saya aan flashback tentang prodi yang saya pilih saat SNMPTN. Kimia adalah pelajaran baru yang menyenangkan bag saya. Kimia adalah sesuatu yang mengungkapkan tentang perasaan cinta bagi saya. Hubungan dengan diri saya yang harmonis. Saya hanya memikirkan pada pilihan saya saat itu, bahwa kimia lebih mudah dari Fisika, ga banyak hitung-hitung, ga berfikir keras kaya Fisika. Semua tergambar dalam bayangan saya. Jika ada yang bertanya jurusan apa yang akan saya pilih, dengan tegas saya mengatakan Kimia. Apapun yang penitg Kimia. Saya merasa kimia sangat mudah.
      Malam sering berlalu yang terkadang memberikan kesan ndah untuk saya. Bagaimana tidak, berkat pilihan saya inilah saya menjadi orang tersibuk di antara kawan-kawan Astri. Praktikum 3 kali dala satu pekan, ada jam pulang praktikum hingga Maghrib, buat laporan yang rasanya gak habis-habis. Laporan praktikum membentuk diri saya menjadi manusia anti sosial. Kerjaannya membuat laporan, nguplek-nguplek sana kertas HVS, Folio bergris, penggaris, dan lain sebagainya. Jangankan untuk masalah sosial, sama media sosial saja saya sudah sedikit jauh, buktinya, di handphone saya dipenuhhi oleh gambar hasil praktikum, contekan pra-lab atau post-lab, materi-materi dosen yang terpaksa harus di foto, atau hasil screenshot materi pretest praktikum. Waktu untuk selfie sangat berkurang (sujud syujur).
    Diawal banyak orang yang bilang kalau di Kimia, atau Fisika, atau Biologi itu paling lelah, pulang malam, takut gak kuat, pernah ada yang pindah jurusan karena kegalauan. Apa saya juga harus seperti itu? Susah atau mudahnya sesuatu itu tergantung  individu tersebut dalam memandang sesuatu. 
     Beberapa kali memang  saya merasa berat dengan pelajaran yang saya jalani di perkuliahan. Tapi balik lagi dengan haraan orangtuaku termasuk ummi. bila melihat nyaman dengan kebanyakan orang disekitarku yang tidak disibukan tugas kuliah sehingga bisa lebih aktif dalam ber-IMM dan saya mulai berfikir positif. Aku akan menjadi yang paling berbeda dengan kondisiku sekarang. Dan perbedaan itu akan aku jadikan hal yang paling bersinar. mulai dari sekaang target-trget harus dicapai. terutama IP yang memuaskan dan pengabdian diri untuk IMM.

Karena dengan IMM aku hidup. Dengan IMM aku merasakan gairah perjuangan. Aku dan IMM adalah kita seperti sepasang kekasih yang saling melengkapi dan saling mencinta. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar