Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Senin, 20 Juli 2015

Oh Eksakku Sayang (cerpen)



                   “Kring…kring…kring” suara alarm berbunyi. Tanganku meraba kasur berusaha mendapatkan alarm untuk dimatikan. Ah, akhirnya aku berhasil meraih langsung ku matikan dan kembali menghangatkan diri dengan selimut di antara dinginnya subuh. Seketika aku terperanjat bangun. Aku lupa kalau hari ini adalah hari Senin dan harus berangkat lebih pagi untuk upacara bendera. Buru-buru aku masukkan buku untuk hari ini. Cepat-cepat aku mandi sarapan dan berngkat. Di depan halaman rumah saat sedang menalikan tali sepatu aku melupakan sesuatu, buku tugas Kimiaku! Belum selesai menalikan sepatu aku buru-buru kembali ke kamar dan memasukkan buku tugas. Aku lagi tergesa-gesa ke depan gang. “Aduh….. ini gawat, pasti macet” dalam hati aku mengkhawatirkan keadaan jalan yang macet panjang di pertigaan. Aku lari dan terus berlari menyusuri jalan berapsal yang penuh bebatuan.  
                        Eh, hallo aku lupa belum memperkenalkan diri. Maaf aku sedang dalam keadaan genting jadi singkat saja ya. Namaku Wildan Ahmad, aku kelas 11 IPA di SMA Swasta walaupun aku teledor seperti sekarang ini tapi aku ahlinya dibidang eksak. Sudah ya perkenalannya aku harus terus berlari mengejar waktu, aku takut berdiri di tengah lapangan karena telat. Benar saja, macet di pertigaan. Banyak anak sekolah, yang berangkat bekerja, dan para karyawan pabrik yang pas berada di depan pertigaan, uh!. Aku terpaksa memutuskan untuk turun dari angkot lalu lari sekut tenaga menuju tempat dimana angkot bisa berjalan mulus kembali. Tidak dekat sehingga baju seragam putihku bau keringat. Aku naik angkot kembali karena jalan sudah pulih. Sedikit lega nafasku. Di dalam angkot aku bersandap pada jendela kaca sambil menarik nafas dalam-dalam dan terselip dalam hembusan nafas harapan agar tidak terlambat.
                        Lapangan upacara sudah dipenuhi banyak murid tetapi belum ada suara speaker tanda upacara dimulai. Sykurlah aku tidak dapat hukuman. Saat aku masuk ke dalam barisan mata teman-temanku melihat aku sinis. Aku langsung menongok kea rah depan lapangan dan ternyata kepala sekolah sedang memberikan nasihat. Oh myGod mati upacara sudah mulai tidak terdengar speaker karena mati lampu. Refleks aku tutup mataku dengan lima jari kananku.
                        Alamat jelas aku akan dihukum, dan benar saja aku berdiri di tengah lapangan beberapa menit dan tertinggal pelajaran Kimia. Aku lari menuju kelas. Untungnya guru kimia sedang ke kantor jadi bisa leluasa duduk di bangku. Aku tak memperdulikan pandangan teman-teman kepadaku. Dalam hati aku bertekad akan mengubah pandangan teman-temanku dengan nilai latihan kimia hari ini. Tumpukkan buku tugas kimia sudah berada di atas meja guru, langsung aku simpan buku tugasku pada tumpukkan paling atas. Tugas kimia tidak langsung dikoreksi oleh guru tetapi dibahasa bersama-sama. Tidak ada yang berani maju ke depan untuk mengerjakan nomor 4 yang dianggap paling sulit, tentang pH larutan penyangga. Alhasil akulah yang ditunjuk untuk mengerjakan di papan tulis. Dengan peercaya diri aku mengerjakan dalam waktu yang singkat. Tanpa banyak berkomentar guru kimia mengangguk dan memerintahkan aku untuk menjelaskan secara rinci caranya. Saat menjelskan kepada teman-teman dalam hati berbisik, “gak nyesel semaleman belajar kimia, mencari jawaban tugas di intenet hingga tdur larut malam. Walau akibatnya bangun kesiangan dan dihukum berdiri di tengah lapangan.”
                         “Teng…teng…teng” bel pergantian pelajaran telah terdengar. Guru kimia berpamitan dan digantikan oleh guru fisika. Makin semangat dengan fisika.  Guru fisika terkenal galak, eh bukan galak mungkin lebih tepatnya tegas. Dengan ketegasan beliau semua murid tidak ada berani yang menolak jika ada ulangan mendadak seperti hari ini. Sedikit tidak masalah bagiku, karena semalam sebelum mengerjakan tugas kimia aku mengisi soal pengayaan di LKS fisika. “Sekarang latihan ulangan. Tidak boleh lihat temannya, tidak boleh open book. Buka soal pengayaan di LKS bab 5” lantang guru fiska member aba-aba. Owala… pengayaan bab 5? Itukan yang semalam aku kerjakan. Betapa bahagianya aku, rasanya ingin berteriak dan goyang ubur-ubur, cihuy ini namanya keberuntungan yang langka, bahkan sangat langka!. Kotretan semalam masih terpampang jelas di sekitar soal pengayaan. Santai saja, lihat dulu teman-teman sekitar yang memasang muka kebingungan dalam hati aku tertawa jahat “hahahahaha”. Tinggal menyalin cara dan jawabannya seketika saja beres. “Yang sudah dikumpulkan dan langsung istirahat”. Istirahat? Wah bagus sekali, sekarang waktunya aku mengumpulkan hasil jawaban. Semua mata memandang kepadaku heran dan aku melangkah penuh kegirangan.
 Keluar kelas langsung lari ke perpus. Di perpus sangat sepi karena waktu istirahat masih sangat lama sekitar 45 menit lagi. Aku membaringkan tubuhku di ruang khusus baca yang dihamparkan karpet abu-abu, di sekelilingku banyak buku pelajaran, novel, bahkan majalah di tata rapi di dalam rak yang tinggi. Aku tertarik untuk mengambil buku bersampul hijau bergambarkan daun, katak, mikroskop, dan gambar bentuk RNA-DNA. Buku biologi, aku tertarik pada buku ini. Di antara pelajaranIPA; kimia,fisika,matematika, dan biologi pelajaran yang paling tidak aku suka adalah buku yang aku pegang saat ini. Terlalu banyak hal yang harus dibaca dan dihafal sedangkan aku bukan tipe orang yang mudah menghafal. Dengan keterpaksaan hati aku ambil buku ini untuk sedikit perhatian padanya. Aku baca, perlahan lembaran-demi lembaran aku buka. Ternyata hanya gambar-gambar yang aku lihat, selebihnya aku baca paling banyak lima kata dala tiap lembar.
Saat sedang asyik melihat gambar-gambar di buku rangkuman biologi seketika pikiranku terbang ke dunia lain. Hatiku ikut senang dengan pikiranku saat ini. Aku merasa bahagia dengan pelajran eksak. Aku merasa pelajaran eksak memberikan energy positif bahkan aku rela tidur larut malam untuk kimia dan fisika. Guru matematikaku juga selalu mempercayakan aku untuk mengajarkan beberapa orang yang kurang dalam pelajaran matematika. Dari awal kenaikan kelas 10 dan mengharuskan memilih jurusan aku sudah berkomitmen untuk memilih IPA dan bertanggung jawab atas pilihanku. Rasa tanggung jawab itu adalah dengan belajar pelajaran Eksak sungguh-sungguh. Tadi pagi aku dihukum berdiri di tengah lapangan perasaan malu dan bersalah sebenarnya masih ada dalam lubuk hatiku, tapi entah perasaan itu tersirnakan oleh perasaan bahagia dengan kimia dan fisika tadi. Seakan aku menemukan duniaku, impianku, dan hidupku. Menuntuk ilmu Eksak dan menjadi professor. See you Eksakta!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar