Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Senin, 20 Juli 2015

Menjelajah Rumah (Fiksi)



Di antara desingan angkutan umum dan kendaraan pribadi aku duduk di salah satu angkutn umum berwarna biru bertuliskan 05. Mobil yang aku tumpangi berhenti tepat di depan rumah megah berhalaman luas yang terdapat ruang khusus security. Bangunan megah di depan mata adalah milik juragan terkenal di kecamatan. Rumah tiga lantai yang indah dibalut cat kuing emas dan merah marun, pagar yang tinggi nan mewah. Aku membayangkan penghuni rumah yang banyak dan bahagia di setiap sudut ruangan. Tapi bayanganku terpecahkan saat angkutan umum kembali melaju.
Saling mengunjungi rumah teman satu kelas sudah biasa bahkan mungkin bermalam. Tapi tak satupun teman yang pernah bermalam dirumahku, bukan karena aku yang melarang atau tidak ada teman yang menginginkan bermalam. Pernah aku mengunjungi salah satu rumah teman yang jarak dari sekolah lumayan jauh harus naik angkot dua kali. Sesaimpainya di rumah temanku aku dipersilahkan duduk di sofa biru tepat berada di ruang tamu. Temanku menyajikan air minum dingin berasakan jeruk di atas meja kaca nan indah. Aku melihat disekeliling ruangan yang terpajang hiasan-hiasan cantik juga unik. Sering kali aku bermalam di rumahnya karena jarak yang jauh dan angkutan umum di daerahnya yang jarang ditemukan di sore hari.
Aku dan teman-teman kelas mengunjungi rumah salah satu laki-laki di kelas. Kami jalan bersama setelah turun dari angkot menuju rumahnya yang lumayan cukup jauh. Aku belum pernah mengunjungi rumah teman laki-laki sebelumnya. Kami berhenti di depan rumah yang cukup luas. Terdapat taman yang tertata rapi. Temanku membuka pagar besi dan mendorongnya. Kami dipersilahkan untuk masuk. Rumahnya luas sehingga mampu menampung sekitar 15 orang. Kami mengadakan masak-masak. Di belakang rumahnya terdapat kebun dan ada beberapa pohon pisang dan kami ambil daunnya untuk alas hasil masakan kami, dan kami makan bersama dengan gembira di taman miliknya.
Aku juga memilki teman baik yang rumahnya sering aku kunjungi. Satu rumah memiliki dua lantai yang luas. Biasanya bila berkunjung aku dipersilahkan masuk ke lantai bawah. Di rumah yang sederhana tetapi memiliki banyak ruangan. Aku merasa sangat nyaman berada di sana. Dari banyaknya ruangan dan kamar aku dipersilahkan masuk ke kamarnya. Kamar yang bagus dan rapi. Adem dan sejuk berada di dalamnya, rasanya tidurpun akan pulas. Saat itu aku berkunjung ke rumahnya karena menemani di rumahnya yang ayah dan ibunya sedang menjenguk kakaknya yang kuliah di luar kota. Temanku juga memiliki dua kamar mandi, dia mengatakan bahwa satu kamar mandi dikhususkan untuk tamu. Di kamar mandinyapun bagus, lumayan luas untuk seukuran kamar mandi.
Sebenarnya masih banyak rumah yang telah aku kunjungi. Satu lagi akan aku ceritakan rumah teman baikku juga. Rumahnya minimalis tapi megah. Foto-foto keluarga ditata sangat rapi juga terdapat pernak-pernik dari kaca yang cantik. Terdapat sofa yang nyaman dan empuk. Di depan rumah terdapat garasi yang diparkiri mobil tua milik ayahnya. Tak heran jika akupun merasanya nyaman jika berkunjung di rumahnya. Selain rumahnya yang membuat betah, juga ibunya yang ramah.
Itu berbagai kisah penjelajahan berbagai rumah milik teman-temanku juga rumah yang aku lihat hanya sekilas dan memberikan kesah mewah. Jika menjadi orang yang tidak bersyukur mungkin aku akan menjadi orang yang durhaka pada nikmat yang Allah beri. Satu hal, bukannya karena aku yang melarang atau tidak ada teman yang menginginkan bermalam di rumahku. Jangankan bermalam, untuk berkunjung saja tidak cukup untuk menampung orang lebih dari lima orang. Aku dan keluarga tinggal di sebuah rumah kontrakkan. Bisa dibayangkan bagai mana hidup di kontrakkan bukan?. Kontrakkan yang tidak ada pagar yang megah, ruangan yang banyak, kamar yang luas, atau kamar mandi yang bagus. Kontrakkan yang hanya ada 4 ruangan; ruang tamu juga sebagai kamar tidur, satu ruang tidur yang hanya disekat oleh lemari baju dari pelastik yang besar, kamar mandi yang sempit, dan dapur yang terlihat jelas dari depan rumah.
Penghuni rumah yang berjumlah 4 orang; ibu,kakak,aku,dan adik terkecil. Bila adikku yang di pesantren pulang bertambah jadi 5 penghuni. Di rumahku banyak buku-buku berjajar di lantai yang disenderkan pada tembok karena tidak ada rak buku. Tidak ada sofa seperti di rumah orang lain yang dibuat untuk tempat duduk tamu. Jangankan untuk tamu, tidur saja di ruang tamu dengan karpet kartun bergambar. Memangan rumahku hanya kontrakkan yang sempit tetapi lega karena penghuninya yang bahagia. Selalu bersyukur apa yang didapatkan. Jauh dari rumah real estate, bagaikan langit dan bumi.
Walaupun keadaan rumah yang jauh dari milik teman-temanku, tetapi sangat nyaman dengan kasih sayang setiap penghuninya, selalu terdengar tawa bahagia, ayat-ayat suci, dan semua anggota keluarga tidak ada yang tertutup, semua terbuka jika ada masalah sekecil apapun, dan berbagi solusi. Rumahku sering dikunjungi teman-teman kelas yang hanya sekedar belajar bersama, meminjam buku, atau curhat. Begitu hangat suasana di rumah kontrakkan kecilku. Banyak buku yang membuat kaya walau tidak diletakkan di rak dengan rapi. Aku dan keluarga banyak berbagi di bawah atap rumah nan penuh rasa cinta. Walau tidak ada pagar besi yang megah tetapi ada pagar ketakwaan, walau tidak ada taman yang luas tapi ada kesyukuran, walau rumah yang kecil tapi ada kelapangan hati, begitulah aku dan keluarga.
Akan selalu bersyukur jika melihat orang-orang yang tinggal di bawah jembatan. Jangankan untuk mengontrak rumah, mencari sesuap nasipun sangat sulit. Tetapi mereka yang hidup di kolong jembatan akan tetap selalu bersyukur. Malu pada mereka jika aku mengeluh dengan keadaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar