Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Jumat, 19 Juni 2015

Mengharapkan Senyuman



Sejak empat tahun yang lalu aku mengenal dia sebagai sosok yang ceria. Semua pandangan terhadap dia pasti selalu baik. Senyum yang merekah dari bibir dia adalah gambaran suasana hatinya. Di kelas, menurutku hanya dia satu-satunya orang yang tak pernah mengeluarkan air mata. Entah karena tidak ada yang membuatnya sedih, ataukah menutupi kesedihan. Selain kegembiraan yang menghiasi dirinya, juga tutur kata yang baik. Aku meyakini itulah dirinya.
            Aku dianggap sahabat baiknya, hari-hari kujalani dengan dia selalu. Orang bilang aku dan dia seperti perangko. Jika ada aku, pasti dia ada. Tidak hanya aku, dia juga mempunyai sahabat yang telah dijanjikannya akan setia. Tapi aku tidak menganggap sahabat dia adalah sahabatku walau aku dan dia juga bersahabat. Bukankah sahabat butuh proses yang lama ? bukan hanya sekedar lisan yang menyatakan ‘sahabat’.
            Dia memberikan kenyamanan kepadaku, dan menjanjikan kesetiaan persahabatan. Aku terhanyut dengan janji-janji dia sehingga menganggap dialah satu-satunya teman yang selalu ada dalam suka dan duka. Aku juga satu perjuangan dengan dia. Satu organisasi, dan satu bakat. Jika ada lomba di manapun, aku dan dia yang bersemangat mengikuti dan terus mengurus perlombaan ke sana-kemari. Bahkan aku dan dia seperti satu keluarga.
            Beriringnya waktu, senyum yang merekah menjadi hambar bagiku. Aku memiliki komitmen untuk tidak mengikat janji dengan laki-laki. Aku berusaha menjaga kesucian hati dengan tidak tergelincir dengan cinta yang semu. Dia tahu prinsipku ketika itu. Dia jatuh cinta, sehingga aku tidak tahu pada siapa dia jatuh cinta. Bukan aku yang dipercaya menjaga rahasia perasaannya, tetapi sahabat lain yang dia anggap nyaman untuk menceritakan apa yang dia rasakan. Sering setelah suatu kejadian aku  mengetahui siapa orang yang bisa membuat dia jatuh cinta, aku melihat dia bersama sahabat yang lain sehingga membuat aku cemburu. Aku sering dibuat cemburu oleh dia.
            Suatu ketika aku janjian dengan dia. Kita bertemu di sekolah jam delapan pagi. Selama diperjalanan tak putus aku berkomunikasi dengan dia lewat sms. Setelah aku sampai di sekolah, dia bilang lagi nunggu angkot, jadi aku harus menunggu beberapa menit. Tidak lama kemudia dia datang dibonceng laki-laki yang juga ternyata memiliki rasa yang sama dengan dia. Perasaan sedikit kecewa aku terhadap dia, tapi aku memaklumi karena memang susah menemukan Angkot di daerah rumahnya. Kejadian seperti itu aku kira hanya satu kali, tetapi berulang kali dengan kejadian yang berbeda-beda tapi kasus yang sama, dengan laki-laki itu. Bukan berarti aku cemburu dengan laki-laki tersebut, namun karena dia telah memudarkan prinsipnya. Dia pernah bilang tidak akan dekat dengan laki-laki sebelum menikah.
            Semakin berjalannya waktu, aku memahami kebiasaan baru dia, curhat dengan sahabatnya. Hingga suatu saat aku dikecewakan olehnya. Dia bersembunyi di balik aku, hingga berbohong untuk menutupi kesembunyiannya. Senyumnya kini berbeda. Senyum yang menutupi kebohongan. Aku bisa membaca senyum dari matanya. Mata tak bisa berbohong. Ketidak tulusan melukiskan gambaran hatinya. Hilang chemistry aku dan dia. Terasa jelas saat kita bersalaman berpegangn tangan. Tak ada lagi aliran cinta yang ditransfer dari celah-celah jarinya. Tapi dia masih menganggapku sahabat. Namun sayangnya, aku anggap hanya secara de facto, tapi tidak secara de jure.
            Aku ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan. Perubahan dari dia yang membuat luka dalam. Aku sudah merangkai beribu kata, sudah menerka beribu kemungkinan yang terlontar dari mulutnya. Tapi tak satupun langkah yang aku lakukan dari beribu rencana. Beribu lembar kertas menjadi korban perasaan. Caci maki diri tak pantas terucap.
            Memang aku sadari aku berlebihan menanggapi masalah ini. Tapi memang benar, aku mengharapkan senyum yang merekah tulus darinya seperti dulu. Tapi biarlah, sekarang aku menyadari bahwa dia memiliki kehidupan yang baru yang rasanya tak pantas aku tahu. Senyum yang keluar dari bibirnya biarlah sesuka hatinya berekspresi. Aku akan baik saja dengan senyum-senyum yang lebih tulus di luar sana. Setidaknya senyum dia telah member warna dihidupku. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar