Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Jumat, 19 Desember 2014

Dengarkan Aku Hujan



Awal bertemu memang tak pernah tahu kau dan aku akan menjadi kita. Sapaan paling dahsyat diantara aku dan kamu saat itu hanya “apa kabar?”. Aku adalah orang yang periang. Kau pendiam. Kita bisa saling melengkapi dengan sifat yang berbeda. Tak pernah tahu diam-diam kau memperhatikanku. Kau hebat. Sampai aku tak pernah tahu mata kau setiap detik memperhatikan aku. Seperti detektif tanpa kaca pembesar. Yang membesarkan kau untuk memperhatikan aku adalah hati mu. Rasa itu.
            Suatu hari ada kesempatan dimana aku dan dia berada dalam satu kelompok musik persyaratan Ujian. Jangka waktu kurang lebih satu bulan kita kerja keras,latihan bersama. Secara otomatis kita berada pada tempat dan waktu yang sama. Awalnya biasa. Lama-lama perhatian. Terasa bergetar di hatiku. Ke geer-an. Akhirnya…ah! Terperangkap juga di hatinya.
            Awalnya sms-an. Intensif. Dan pada suatu malam dia memberanikan diri untuk menelponku. Memainkan gitar untukku. Disitulah awal aku terjerembab dalam cinta. Rasanaya resah jika tak ada kabar darinya. satu jam,menit,hingga detik aku tak sanggup.
            Kita hanya satu tahun bisa bersama. Bersama untuk fisik. Tak pernah lagi pandanganku melihat indah sosoknya. Alangkah sedihnya. Kita berjauhan, tapi tetap, dari jauh dia menguatkan dengan cinta. Aku lemah. Dia akan selalu menjagaku dari jauh. Aku tak sanggup. Dipaksa. Terpaksa. Bersabar. Hingga akhirnya aku mampu untuk bertahan 3 tahun. Kita masih menjalin komunikasi. Tapi selama 3 tahun itu kita tidak terikat dengan status pacaran. Walau begitu kita saling berjanji untuk menjaga hati satu sama lain.
            Aku merasa berada di titik jenuh. Di sekelilingku pasangan yang sedang jatuh cinta dapat semaunya bertemu. Karena ada pada satu tempat dan waktu. kapanpun mereka bertemu. Aku jemu dengan suasana ini. Iri. Mungkin ya aku iri. Tapi apa langkah yang harus aku ambil ? menjauh darinya lalu mencari yang bisa aku jadikan teman spesial yang tiap waktu bisa bertemu?. Ada sosok yang tipenya organisator. Diam-diam juga memperhatikanku sama halnya seperti dia yang awal jatuh cinta menggunakan kaca pembesar hatinya. Aku ingin Raihan ada di sampingku saat itu. Saat Zaki datang membawa cinta padaku dengan berjuta cara. Akhirnya aku terlena. Sembunyi-sembunyi aku intensif komunikasi denga Zaki, tapi masih memperdulikan Raihan. Aku jatuh di anatara dua hati. Alangkah jahatnya aku. Jika Raihan dan Zaki tau bahwa aku tidak mencintai mereka secara utuh, mereka berdua pasti akan kecewa. Aku meminta waktu senggang Zaki untuk berbicara serius. Aku mengatakan padanya jika sebelum hingga saat ini aku dekat dengan Raihan. Aku merasa bersalah karena tidak bisa memfokuskan hati ini untuk Zaki. Zaki telah mengetahuinya. Zaki adalah teman dekat Darris yang juga teman lama Raihan. Zaki tak mempermasalahkan itu. Zaki dan aku juga tidak diikat dengan hubungan pacar. Kalau Zaki kecewa denganku, kita tak bisa putus karena kita bukan sepasang yang memiliki janji untuk menjadi pacar. Zaki ingin kita berlanjut untuk berkomunikasi layaknya pasangan yang berpacaran. Zaki ingin melakukan hal denganku yang mungkin tak bisa dia lakukan nanti. Itulah alasan Zaki untuk mempertahankan hubungan tanpa status ini.
            Raihan. Semenjak hati ini terbagi dengan Zaki, aku lebih menjadikan Raihan pengganti saat Zaki sibuk dengan urusan organisasinya. 3 tahun Raihan bersamaku, dia mengetahui perbedaan sikapku. Aku angkat bicara untuk jujur padanya. Aku tahu rasa kecewa pasti tersirat pada hatinya. Lagi-lagi dengan kebijaksanaannya, dia masih saja percaya dan mengamanhkan hatinya untuk terus dijaga pada hatiku. Hingga akhirnya aku berada di titik puncak kegalauan.
            Sore itu turun hujan kecil. Aku berjalan pelan. Sangat pelan. Langkahku kalah dengan tetesan hujan yang semakin deras. Tapi aku membiarkan hujan mengalahkanku untuk melangkah. Aku menangis. Karena saat hujan deras datang,ketika aku menangis, tak ada seorangpun yang mengetahui. Kecuali Dia. Yang menggerakan hujan hingga tetesannya menyadarkan untuk berlalari agar cepat sampai tempat perlindungan. Tapi aku tak peduli. Petir menyambar. Seakan itu adalah kutukan karena telah membuat luka di hati Raihan yang telah lama setia. Aku menangis. Semakin deras. Tangisanku tak ingin kalah derasnya, walaupun langkahku kalah.
            Sampai di rumah tak banyak suara yang aku keluarkan. Hanya salam. Melihat ibu sedang sibuk dengan laptop dan skripisinya, jadi tak perlu khawatir pulang dengan keadaan basah kuyup dan bekas tangisan dipipi dan mataku. Tak usah membuang energi untuk memberikan alasan kenapa basah kuyup dan keadaan wajah yang lembab.
            Malamnya menggigil. Suhu badan naik. Sakit fisik, tambah lagi batin yang berkecamuk. Aku mengecewakan dua laki-laki yang baik hatinya dengan dua latar belakang yahng berbeda. Aku tak lagi kuat. “Raihan?” aku sms raihan pertama kali. Lalu “Zaki?” . yang balas sms pertama kali adalah Zaki. “Aku ingin berbicara soal hubungan kita”. Tak lama aku mengirim sms pada zaki, handphoneku bunyi dan bergetar. Panggilan masuk dari Zaki. Zaki memang tipe orang yang kekhawatirannya lebih tinggi. Seringkali dia menghubungi lewat telpon jika ada yang dia anggap penting.
            “Hallo,Zaki ?”
            “kamu mau ngomong apa Ray?”
            “sebelumnya Raynia mau minta maaf sama Zaki kalau….”
            “Kalau apa?”. Selalu saja tingkat penasaran Zaki muncul.
            “aku mau kita gak usah deket lagi. Kita gak usah smsn lagi. Cukup sampai disini aja. Aku pikir kalau kita terus smsn dan berkomuniakasi,aku udah mengecewakan dua hati. Kamu dan Raihan”
            “aku sudah tau akan ada waktu dimana kamu akan mengatakan itu. Dan aku siap. Aku telah mempersiapkan diri untuk ini. Gapapa ko Ray, Zaki ngerti. Jadi Ray plih Raihan?”
            Pertanyaan zaki membuatku tak bisa berkata-kata. Air mata meleleh. Hatiku menjerit. Maafkan aku Zaki.
            “tidak Zaki. Aku akan meninggalkan kamu dan Raihan. Tak adil rasanya bila aku menyakitimu sedang aku memilih Raihan.”
            Belum sempat Zaki angkat bicara, sms Raihan datang. Datang disaat pembicaraan aku dan zaki berada dipuncak pembahasan.
            “Ada apa Ray? Maaf aku telat balas. Baru saja sampai rumah, dari studio musik.”
            Aku hanya membaca sms dari Raihan dengan alasan yang sering dia berikan padaku. Karena kesibukan bermain musik. Aku menomorduakan sms dari Raihan,karena aku pikir pembicaraan dengan Zaki yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.
            “Tak perlu kamu lakukan itu Ray, kamu dan Raihan sudah lama dekat. Sebaikanya kamu kembali saja pada Raihan. Aku baik-baik saja.” Zaki menangis, tapi berusaha menyembunyikan.
Aku tau dari perubahan intonasi suaranya. Aku adalah cinta pertama Zaki. Berarti itu artinya aku adalah perempuan pertama yang membuat dia sakt hati.
            Pembicaraan aku dan Zaki panjang. Pada akhirnya aku menjauh dari Zaki. Dan denga Raihan. Lama aku tak membalas sms Raihan. Aku bingung. Raihan adalah cinta pertamamku. Begitu juga aku. Aku adalah cinta pertama Raihan. Antara meninggalkan Raihan atau tidak. Aku pikir ulang, lanjut atau tidak adalah hakku. Tapi kembali mengingat pembicaraan aku dengan Zaki. Bahwa aku tidak akan memilih keduanya dengan dalih akan berbuat adil.
            Raihan menelponku. Aku angkat tapi tidak langsung angkat bicara,
            “Dek” Raihan angkat bicara dengan sebutan yang biasa kita pakai. Aku memanggilnya dengan sebutan kakak.
            “ka, maafin aku ya. Tadi Zaki menelponku, aku sudah memutuskan untuk tidak lagi komunikasi dengan Zaki. Tapi ka..”
            “Tapi apa dek? Jujur saja pada kaka”
            “Bukan berarti aku memilih kakak untuk terus bersama. Aku ingin bersikap adil pada Kakak dan Zaki. Kita tak usah lagi berkomunikasi intensif, seperlunya saja.”
            “yasudah.. tapi kaka mau Tanya tentang perasaanmu pada kaka dek, apa masih ada rasa pada kaka ? pada Zaki bagaimana ?”
            Sakit. Sakit. Satu detik. Dua detik. Hingga lima detik. Aku terdiam dengan pertanyaannya. Maafkan aku untuk ke sekian kalinya Raihan.
            “Aku masih menyayangimu. Bahkan saat aku bersama Zaki. Aku tetap menyayangimu hingga detik ini. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga hatimu dan janjiku. Tapi aku harus pergi. Aku harus adil.”
            “Kita masih tetap bisa menjadi teman. Jalani biasa aja. Kalau ada apa-apa kamu cerita aja sama kakak ya dek. Tenang saja sama kaka dek. Kamu tetap jadi adek yang kakak punya”
            “ya ka, terimakasih”
            Panjang lebar sudah pembahasan aku dan Raihan. Diakhri dengan ucapan terimakasih pada Raihan. Raihan laki-laki yang hatinya lembut. Jarang menemukan sosok seorang Raihan. Betapa tak rasionalnya diriku telah membuat hati Raihan sakit. Setalh percakan malam itu, bayangan Raihan lebih             sering datang. Aku rindu padanya. Aku ingin kembali seperti dulu. Saat aku belum kenal dan jatuh hati pada Zaki. Tak pernah bertemu lagi. Tak pula kirim pesan. Hati digerogoti rasa sakit karena rindu. Raihan. Di mana kau berada?. Aku ingin kau kembali. Tak tahan rasanya aku terus begini. Menahan rindu. Makan,tidur. Segala aktivitas rasanya pikiranku tak jauh dari sosok Raihan. Waktuku lebih banyak bertemu dengan Zaki. Tambahlah sakit hatiku. Aku juga masih menyimpan rasa pada Zaki,tapi hanya serpihan masalalu. Tidak lebih dari Raihan. Karena seringnya aku melihat Zaki,  sering sekali aku merasa cemburu karenanya. Zaki adalah tipe orang yang dekat dengan siapa saja tak terkecuali dengan perempuan sekelasku. Itu yang membuat aku bertahan pada rasa untuk Raihan. Raihan…Raihan…. Seringku berbisik dalam hati.
            Aku mulai mendekati Raihan kembali. Aku tak peduli aku mengkhianati janji pada Zaki. Aku memilih Raihan. Tapi tak ingin Zaki tahu. Aku coba dengan mengirim sms. “aku rindu kamu kakak”. Balasan yang tak pernah aku duga dari seorang Raihan. Aku tahu dia. Mungkin aku lebih tahu Raihan daripada keluarganya. Karena Raihan adalah seorang pendiam. Ekstropert. Dia banyak cerita tentang masalah pribadinya padaku. Bahkan leluarganya. Aku satu-satunya teman dekat Raihan. Aku pernah jadi yang spesial. 
            “kakak juga. Gimana kabarnya ? maaf kakak lagi malas smsn”
Memang sms yang tidak singkat. Tidak sesingkat “oh” tapi aku tau Raihan. Selama aku kenal dia tak pernah balas seperti itu. “Kakak juga kangen kamu dek”. Biasanya itu balasan Raihan saat aku katakana rindu padanya.
Hari demi hari berlalu. Perubahan Raihan semakin tampak. Aku takut semua ini adalah salahku. Akhir-akhir sebelum Raihan berubah aku sering mengirim sms dengan isi yang mungkin lebih pedas dari cabai rawit. Saat  Raihan tak balas sms,marah. Saat Raihan lama balas sms,marah. Inikah balasanku dari Tuhan karena telah sering menyakiti Raihan.
Akhir-akhir ini hingga sekarang, jika rindu dengan Raihan selalu menangis. Tak henti-hentinya. Ingin memaksa Raihan untuk kembali saja aku merasa tak berhak. Karena Raihan pergi karena kesalahanku. Mempermainkan kesbarannya. Maafkan aku Raihan.
jika aku terdiam dan memikirkan kau,aku berharap hujan datang. Karena aku ingat. Kau pernah mengatakan padaku “Ceritalah pada hujan”. Aku akan bercerita pada hujan selama hujan tak pernah berhenti menyapaku. Aku akan selalu titipkan salam pada hujan untuk dirimu. Hujan akan menyuburkan bunga yang telah kita tanam 3 tahun. Akai ito.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar