Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Minggu, 17 Maret 2019

Inilah Kata Mahasiswa Ekonomi Soal Rokok

Status julit ketika Debat Cawapres aku yang ada di postingan sebelumnya mengundang banyak komentar teman-teman terutama dari salah satu Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Jakarta.

Oya, sebelumnya juga aku dikasih tau teori Ekonomi Zombi yang dikaitkan dengan industri rokok. Jadi begini, teman-teman. Karena aku bukan ahli di bidang ekonomi, jadi langsung aku ceritain hasil obrolan aku sama temanku yang bahas tentang ekonomi zombi, ya. Kalau ini bukan sama anak FEB, tapi teman di Smoke Free Agents yang ia juga belajar soal ekonomi.

Industri rokok itu, parah keren; duitnya banyak. Gimana gak banyak, coba? Jadi sponsor berbagai acara anak muda kayak konser musik, sponsorin acara olahraga badminton atau sepak bola. Bahkan, banyak pemuda yang sangat berterima kasih pada industri rokok karena biaya pendidikannya ditanggung industri rokok.



Anak muda yang menikmati fasilitas yang disodorkan industri rokok mereka tanpa sadar otaknya tercuci. Sedikit demi sedikit, mereka masuk ke jeratan sang diktator. Ya, seperti zombi. Temen-temen taukan? Zombi itu jalan gak pake otak, jadi ya dia jalan aja terus tanpa sadar.



Ih, serem gak sih kalau anak muda Indonesia jadi kayak zombi? Mereka menikmati alunan musik saat konser yang dibiayai industri rokok, mereka ke luar negeri dibiayai industri rokok, "Wah ke luar negeri keren, donk!", mereka jadi iklan berjalan industri rokok saat mengikuti pelatihan badminton miliki industri rokok, dan ah! Masih banyak lagi. Tanpa sadar mereka sedang dijerat untuk jadi seorang pionir yang akan membela industri rokok kelak.

Nah, balik ke diskusi aku bersama salah satu Mahasiswa FEB UIN Jakarta.

Pertama dia balas salah satu status WA aku:

"Hmm, lebih lucu lagi mereka yang mengatakan rokok itu gak haram dan para sesepuh atau pengikutnya dengan enteng merokok saat khutbah Jumat, tebar asep di mana-mana sampai sebelum selesai khutbah pas mau salat mereka baru kelar ngerokok"

Sedih, donk dapet kabar kayak gini.

Kalau ustaznya ngerokok, murid-muridnya pasti ngikutin. Itulah kasiahnnya. Mereka berdakwah sambil tebar penyakit.

Ada pengalaman temannya yang cerita kasus di pesantren. Pondok pesantren dapat kucuran dana CSR baik untuk pondoknya atau kegiatan santri lainnya. Yang sangat disayangkan adalah CSR itu dari Industri Rokok, bahkan banyak santri yang mendapatkan beasiswa.

"Syarat gak langsungnya sih, disuruh ngelegalin penjualan rokok di pondok, Sar. Atau dikasih wejangan kalau sesepuh mereka merokok berarti jadi panutan dan dicontoh." Astaghfirulah.

Seiring berjalannya waktu, lanjut ia bercerita. Ponpes akan semakin besar dan banyak santri bikin ponpes lagi, dan di situlah rokok mendarah daging. Karena rokok tetap sebar dana CSR buat sekalim jejalin prosuk rokok ke ponpes, hal tersebut sudah jadi lumrah.

Ketika ada santri dari kota yang nyantri di ponpes dan pulang merokok maka pandangan orang-orang akan: "Oh, di ponpes gak masalah kok ngerokok, toh kiyainya juga gak ngeharamin."

"Panutan orang kota soal agama pasti anak anak yang dari ponpes kan, Sar?" Iya juga sih, bisa jadi.

CSR sudah menjadi hal lumrah di bidang ekonomi. Di mana CSR dipakai untuk kegiatan promosi produk.

"Ibaratnya gini, Sar" dia lanjut berbicara. Contoh kecilnya misal sebut saja Sinar Mas mau bangun pemukiman, mereka disuruh bangun jalan tol buat dana retribusi dari kegiatan ekonominya. Maka mereka akan membuat jlan tol yang menghubungi tempat pemukiman dari kegiatan ekonomi mereka ke kota besar. "Ya, kayak gitu sekali dayung 2-3 pulau terlampaui. Dan itu gak dipermasalahkan secara itu legal di pemerintahan dan itu tetap menguntungkan mereka."



Ada harapan dari teman aku, nih. Awalnya menenangkan diri aku kali, ya hahahaha.

"Terlihat sih, rokok bakal berkurang drastis."

Dari apa?

Ia menjelaskan seperti ini: Jaman kita SD/ SMP orang yang berani merokok itu keren. Tapi, zaman milenial ini mulai berubah. Hal yang diangap kerena saat ini adalah bisa digital atau bahasa asing. Jadi rokok jadi trend lama. Semoga saja, ya.

Tapi pastinya Industri rokok udah punya strategi cerdik. Akan ada produk nikotin lainnya yang dikemas secra kekinian. Bahasan itu kita lewat dulu, ya.

"Zaman Industri 4.0 nanti, pekerja menurun di tingkat buruh. Ini akan berdampak ke kebijakan ekonomi. Karena Industri Rokok tidak menyerap tenaga kerja banyak lagi, bakal ada kebijakan kenaikan bea cukai nantinya."

Sebenanrya permasalahn utamanya adalah belum adanya perusahaan yang produk persaingannya bisa dorong pembangunan kayak rokok. Perusahaan baru selalu ditekan dengan biaya pajak, biaya pendaftaran produk, dan lain-lain sama pemerintah sehingga menghambar adanya kompetitif yang memberikan pajak lebih dari perusahaan rokok.

Kalau mau membuat produk yng bisa bersaing dengan rokok, butuh waktu yang lama buat tau selera masyarakat, perizinan, produksi, istilahnya benar-benar dari nol lagi. Itu kalau kita mau bikin usaha jaka panjang, bukan jaka pendek, karena rokok masuk ke Indonesia juga proses jaka panjang.

Contohnya adalah Gojek, startup yang keren dengan kajian dari berbagai literatur dan contoh dari negara lain. Mereka bisa ubah ojek pangkalan jadi gojek digital. Itu butuh kajian panjang. Sisi positifnya banyak alternatif transportasi, jangka pendeknya memang nambah kemacetan. Namun, jangka panjangnya justru mampu mengurangi kemacetan.




Suru, Jadi Netizen Julit di Debat Cawapres



  

Assalamualaikum, teman-teman.
Jadi aku mau lanjut bahas tentang Rokok, ya.

Saat debat kandidat Calon Wakil Presiden (Cawapres), grup Smoke Free Agents rame, donk. "Ayok, pantau terus jangan sampai terlewat" hahahaha. Soalnya tema debat pada Ahad, 17 Maret 2019 adalah mengenai isu Pendidikan, Kesehatan, Ketenagakeraan, Sosial dan Budaya."Coba nanti kita lihat siapa yang berani bilang bahwa rokok adalah masalah kesehatan?"

Sambl mantau, HP udah siap bikin status:

"Para Bapak Cawapres kalau udah ngomong masalah stunting gue deg-degan. Napa, ya? Ah, tapi meleset dari ekspektasi terus; gemes dah"

Waktu  panelis membacakan pertanyaan untuk para kandidat, menanyakan soal stunting yang masih dialami banyak masyarakat Indonesia khususnya masyarakat miskin, kedua kandidat pun menyinggung ASI yang wajib diberikan kepada bayi yang baru lahir hingga terpenuhi.

"Pemberian ASI mah udah otomatis dari lahir emaknya ngasih. Ya, percuma klau dikasih ASI tapi utrisi lainnya gak terpenuhi. Biar terpenuhi nutrisi anak-anak miskin, mahalin harga rokok biar sembako yang paling banyak dibeli setelah beras adalah telur, bukan rokok."

"Gak cuma harga rokok yang dimahalin, ya. Tapi juga jangan bisa dibeli batangan. Nah, lho! Pasti banyak yang mikir berjuta kali kan kalau ngeluarin duit buat beli rokok seharga 70.000?"

Setelah bahas stunting, ada lagi kartu yang digunakan masyarakat untuk mengakses layanan pemerintah. Cawapres nomor 1 mau bikin banyak kartu buat kesehatan, pendidikan, dan segala macemlah ya, pokoknya. Cawapres nomor 2 ingin memaksimalkan chip yang ada di KTP, jadi gak perlu banyak kartu buat merasakan berbagai fasilitas negara.Seketika netizen berkomentar soal banyaknya kartu, ini-itu segala macem.

"Kenapa komentarin kartu, dah? Mau satu atau banyak kartu kalau masyarakat miskin masih gampang beli rokok, bahkan mau buang air aja harus ngerokok gak ngefek dah kartu buat nyumbat wkwkwkwk" Aku baca fakta kalau ada orang yang kalau mau buang air besar harus ngerokok dulu; dan itu banyak di masyarakat.

Beralih ke masalah pendidikan. UN mau dihapus, makasih Pak! Itu yang viral soalnya. Terus temen-temen banyak yang update, "Kenapa dihapusnya UN gak jaman gue aja, sih!" Yaelah, udahlah udah lulus juga wkwkwkwkwk.

"Perbaiki pendidikan baiknya dari mana? Itu, warung deket sekolahan jangan jual rokok sama jangan ada spanduk rokok juga. Jangan sampai otak anak Indonesia banyak nikotin."


Jam-jam krtis datang, hiyaaaa iklan rokok berdatangan. Parah, lagi debat cawapres bahas isu kesehatan; eh iklan seenak dewek di sela jeda debat. Good!

Review Buku 'Love Your Life' (Lebih Memahami Perilaku Merokok)



Judul Buku : Love Your Life
Penulis : Fuad Baradja
Tahun Terbit : 2017
Penerbit : Pro-U Media, Yogyakarta
Jumlah Halaman : 344 Halaman
ISBN : 978-60207820-66-1

Alhamdulillah aku sudah membaca buku Love Your Life karya Bapak Fuad Baradja. Hampir semua ceritanya adalah kisah nyata yang beliau tulis sebagai pegiat kemanusiaan. Beliau memiliki klinik terapi berhenti merokok 'New Life', membantu orang-orang yang memiliki keinginan untuk berhenti merokok dengan berbagai metode.

Dari pengalamannya berinteraksi dengan para pasien, beliau mampu menulis buku yang sangat menyentuh. Bahkan setiap judul dari buku  punya makna mendalam. Bagaimana tidak, beliau berhadapan dengan para korban rokok yang punya keluhan macam-macam.

Dengan membaca buku ini aku merasa ada perubahan dalam diriku, yaitu lebih 'manusiawi' memandang perokok. Lebih manusiawi? Iya, karena sebelumnya aku sering mengutuk para perokok hanya dalam hati saja, tanpa adanya langkah preventif yang bisa aku lakukan. Kenapa? Karena aku sebagai orang yang memiliki hak untuk menghirup udara sehat tanpa polusi asap rokok.

Apa yang aku lakukanpun sesungguhnya adalah rasa peduli terhadap perokok; korban industri rokok. Yang sudah aku lakukan setelah baca buku ini adalah menegur orang yang merokok di dalam kendaraan umum.Mungkin karena baru banget selesai baca, ya jadi emosinya sedang dipenuhi bacaan kisah-kisah nyata yang ditulis dengan hati oleh Bapak Fuad Baraja.

Beberapa kali rasanya ingin mengeluarkan air mata. Tulisan yang mengiris  hati. Tentang cinta seorang ayah kepada anaknya. Ia menulis surat cinta agar anaknya berhenti merokok.

Ada pula kisah tentang seorang ayah yang sangat menyesela dengan kepergian anaknya karena mencium nikotin yang menempel di bajunya.

Ada pula tukang becak yang menyadari bahwa ketia ia merokok hanya bisa mengayuh jarak dekat, namun setelah berhenti merokok rezeki semakin berlimpah karena ia mampu mengayuh jarak lebih jauh.

Terlebih adalah pegawai rokok yang berani berhanti dari pekerjaannya karena sadar bahwa selama ini dari setiap batang yang dihasilkan adalah dosa untuknya. Pegawai tersebut tidak takut kehilangan pekerjaan, karena ia lebih takut akan siksa Allah.

Cinta adalah motivasi terbesar; Saat seoang suami mengetahui istrinya hamil setelah 11 bulan pernikahan, ia berhenti merokok total karena ia tau, merokok dapat mengancam kehamilan istri dan calon bayinya.


Mendeskripsikan cinta itu gak rumit. Kalau ujung-ujungnya kecewa, yaudah bukan. Karena cinta tujuannya ke Allah. Udah itu aja. Titik gak pake koma; misal, pegawai pabrik rokok berhenti kerja karena dia takut semakin banyak dosa. Dia gak takut miskin. Udah. Sip!


Maa Syaa Allah

Aku sangat merekomendasikan buku ini pada seluruh generasi muda yang masih memiliki banyak harapan untuk masa depan agar tidak merusak impian kelak. Kemudian aku juga sangat merekomendasikan kepada para pendidik juga orang tua agar lebih memahami peran sebagai contoh dan kewajiban untuk mampu memahami pergaulan peserta didik atau anak-anaknya.

Buku ini sangat tepat dibaca para perokok yang belum memiliki motivasi kuat untuk berhenti, karena banyak kisah nyata orang yang menyesal  merokok bertahun-tahun lamanya. Akan lebih terasa pesannya jika langsung dari para korban yang sudah merasakan efek menyedihkan. In Syaa Allah setiap ceritanya tidak ada kebohongan. Bapak Fuad Baraja juga rajin menulis kisah nyata pasiennya di Facebook yang kemudian dikumpulkan menjadi buku yang kalian bisa dapatkan di berbagai toko buku atau bisa beli online di Pro-U Media.




Rabu, 27 Februari 2019

Dengan Hoax dan Kebencian, Pemilu 2019 Di Bayang Kerusuhan, Apa Upaya Kita?

Jarum jam belum sampai di angka 7 pagi, ketika serombongan pemuda yang mengaku simpatisan Alliance, kelompok oposisi Honduras yang dipimpin oleh mantan wartawan olahraga keturunan Palestina, Salvador Nasralla mendatangi rumah Martinuz, seorang karyawan perusahaan retail di Tegucigalpa, Ibukota Honduras.

Mereka merusak pagar rumah Martinuz, menuntut Martinuz bersaksi di pengadilan untuk membuka dugaan kecurangan Pemilu dari petahana, Juan Orlando Hernandez dari partai Nasional. Martinuz adalah anggota "KPU"nya Honduras. Martinuz dipaksa membuka mulut, dan saat itu Martinuz tetap bertahan pada prinsipnya bahwa Pemilu sudah dilakukan sesuai dengan undang-undang.
 
Akibatnya, rombongan pemuda tadi mengamuk, rumah Martinuz di bakar dan merembet kepada kerusuhan massal di Honduras. Terjadi bentrokan antar massa dan kepolisian, total 11 orang meninggal dalam kasus Honduras pasca pemilu.



Hal serupa juga terjadi di Kenya pada pemilu 2007. Kerusuhan terjadi ketika oposisi Raila Odinga tidak terima hasil pemilu yang memenangkan petahana Mwai Kibaki. Kerusuhan memakan korban 1300 orang dari data resmi, data tak resmi melaporkan angka sampai 3 kali lipatnya.
Kerusuhan terjadi lagi pada Pemilu 2013, dengan lakon yang sama, Raila Odinga pada oposisi melawan Uhuru Kenyatta, putra Presiden pertama Kenya Jomo Kenyatta. Odinga kalah lagi, rusuh lagi.

Jauh kebelakang, kita melihat pula masa kelam Jerman dalam proses Pemilu, saat itu tahun 1933. Sebelum Pemilu dilangsungkan, Reichskanzler saat itu, Adolf Hitler dan partai Nazi-nya menangkat propaganda kasus terbakarnya rumah parlemen Reichstag dan ancaman penggulingan oleh Komunis sebagai menu utama.

Propaganda Nazi saat itu sangat massif dan terencana matang. Tuduhan Nazi terhadap Komunis sebagai biang keladi terbakarnya rumah parlemen dijalankan dengan aksi. Kekayaan partai komunis Jerman, KPD ditarik. Dokumen KPD di jarah, ribuan pendukung KPD dan Demokrat menjadi korban dan kabur keluar negeri. Ketika Pemilu berlangsung, partainya Hitler, NSPAD hanya meraih 49%, tidak cukup untuk memerintah tunggal. Dilakukanlah teror dan ketakutan di masyarakat, termasuk kepada Yahudi. Hasilnya partai KPD hancur dan muncul hanya 1 partai, partai Nasionalsosialis, di bawah kendali penuh Nazi.

Tiga kasus di atas adalah kasus dimana Pemilu yang seharusnya menjadi proses demokrasi dalam memilih pemimpin berbalik menjadi mimpi buruk. Pemilu bukan memajukan negara, malah menjadi kemunduran. 

Tiga negara di atas mengalami masa kelam politik selepas kerusuhan Pemilu. Honduras dan Kenya tak juga naik menjadi negara berkembang dengan strata baik, mereka jauh dibawah Indonesia. Pun Jerman yang kalah habis-habisan di Perang Dunia II. Beruntung bagi Jerman, karena intelektual masyakaratnya di atas rata-rata.

Tiga negara di atas pun memiliki ciri yang sama, kerusuhan yang salah satunya diakibatkan oleh ambisi kekuasaan yang mengerikan. Plus ciri-ciri tokoh utama yang nyaris sama.
Oposisi Honduras, Salvador Nasralla adalah politikus yang gagal dalam Pemilu tahun sebelumnya, pun Raila Odinga, yang kalah berkali-kali dalam Pemilu Kenya. Hitler pun setipe bahkan diatas mereka.

Indonesia bisa seperti itu? BISA. 

Tapi, Indonesia tidak akan seperti itu, jika kita mengerti dan paham tipe-tipe pelaku haus kekuasaan. Seperti Nasralla dan Odinga, mereka tak pernah bosan mencalonkan diri menjadi Capres, meskipun gagal berkali-kali. Kedua, mereka punya bibit sifat dari Hitler, hobi melempar isu SARA dan suka propaganda ketakutan serta Hoax.

Indonesia pernah memasuki masa kelam di tahun 1998 dan untuk itu, kita bertekad bahwa tidak akan ada lagi keresahan, kerusuhan dan kekacauan dalam Pemilu April 2019 nanti. Kita tidak mau lagi mundur ke arah 98. Kita tidak mau Indonesia kembali hancur apabila sosok haus kuasa nekat memaksakan kehendaknya untuk menggulingkan atau tidak terima terhadap hasil Pemilu nanti.

 Lawan hoax dan lawan ujaran kebencian!

Hoax atau berita palsu muncul dengan adanya sentimentil atas golongan atau pihak, terkait tindakan atau kebijakannya yang tidak sesuai dengan alur berpikir pihak oposisinya. Hoax atau berita palsu mengikuti alur berpikir pembacanya yang kira-kira bisa menimbulkan efek sensitivitas yang meningkat entah itu kebencian atau semangat untuk mendukung paslon.

Fenomena ini, memang menggelembung pada Pilpres kali ini. Ditandai dengan kasus hoaks Ratna Sarumpaet – yang dikabarkan dipukuli sekelompok orang tak dikenal di Bandung padahal bengep karena operasi plastik di Jakarta – sampai kabar viral bahwa di Tanjungpriok masuk tujuh kontainer berisi @10 juta surat suara datang dari China yang sudah dicoblos di sisi salah satu paslon.
Belum lagi dengan entengnya masing-masing pihak tidak mengapresiasi apa yang dilakukan pihak Capres satu yang telah membangun infrastruktur, di antaranya menyambungkan proyek jalan Tol Trans Jawa -- dengan komentar suara emak-emak, “Kami Tidak Makan Infrastruktur”, “Buat Apa Membangun Tol tak Berguna dengan Utang” dan sebagainya. Lengkap sudah, suasana kampanye Pilpres diwarnai dengan ujaran kebencian.

Indonesia harus dan wajib melaksanakan Pemilu damai

Para pendahulu kita, para patriot Indonesia di masa lalu sudah memberi contoh akan gelaran Pemilu Demokratis yang tercatat “paling demokratis dalam sejarah bangsa Indonesia” yakni Pemilihan Umum 1955 untuk memilih anggota legislatif pertama sejak Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945.
Sejak pemilu pertama, Para pendahulu bangsa kita sudah memberi contoh demokratis dan aman pada 64 tahun silam, mosok di era Indonesia Modern kali ini kita mau melangsungkan Pilpres dalam suasana perang? Zero Sum Game? Yang menang berjaya atas yang lain, dan yang kalah kudu hancur?
Padahal, Capres Prabowo misalnya, sudah mencontohkan dalam debat kedua kemaren, bahwa dirinya mengakui yang baik, dan menerima yang sudah baik untuk diteruskan – meskipun ia katakan, ia akan memilih strategi berbeda jika terpilih jadi Presiden.

Atau ujara Capres petahana, Joko Widodo berkali-kali dalam kampanye – tak hanya selama Pilpres 2019, akan tetapi juga lima tahun silam di Pilpres 2014, bahwa “Pemilu dan Pilpres adalah sebuah pesta rakyat, yang digelar damai tanpa rasa ketakutan,” atau saling benci tentunya. Mengapa harus dibangkit-bangkitkan semangat perang, dan meruntuhkan satu pihak dengan yang lain?

Zaman sudah sedemikian maju, setelah 74 tahun merdeka. Serba terbuka, nyaris tanpa tedeng aling-aling informasi mengalir tersebar dengan cepat, serta merta dan meluas. Mengapa mesti ditarik kembali ke masa jahiliyah?

Pilihan memang tidak bisa dua untuk menduduki posisi Presiden. Tetapi setelah Pilpres yang kalah tentunya terus membawa rakyat yang mendukungnya untuk ikut membangun negeri. Bukan menghancurkan negeri dengan perang kebencian, perang narasi hoax, perang kepentingan yang tidak toleran.

Indonesia harus dan wajib melaksanakan Pemilu damai, saya dan kamu hanya bisa berusaha, semaksimal mungkin meskipun lewat tulisan. Percayalah, Indonesia selalu baik-baik saja.

Minggu, 24 Februari 2019

Merindu Hingga Batas Usiaku


Aku sedang jenuh, wahai Empu.
Sungguh ini yang membuat aku semakin rindu untuk bertemu.
Namun apa yang menjadi bekalku saja aku tah tau.
Bisakah aku pulang tanpa hisab malaikatmu?
Bodoh sekali aku ini, Allah-ku.

Pahit duniaku dengan segala nafsu buruk
Entah apa yang harus aku korbankan,
aku tak punya apapun untuk aku gadaikan di jalan-Mu.
Aku terseok semakin jauh dari kasih-Mu.
Maafkan aku yang jika sendiri aku menjadi buas.
Maafkan aku yang berusaha menjadi sempurna di mata hamba hamba-Mu.

Aku muak dengan hidupku
Hati, pikiran, semakin mengadu sedang kenyataan terus berlalu.
Aku diterpa penyesalan terus menerus.
Habis sudah waktu untuk berlomba dalam semu.


Allah
Jangan jauhkan aku dari-Mu
Ajari aku untuk pasrahkan hidup hanya untuk-Mu
Karena aku rindu adanya getaran hati dengan ayat syahdu-Mu
Aku ingin selalu ada dalam kasih-Mu
Sungguh, jangan tinggalkan aku,
walau begitu hinanya aku,
walau busuknya amalku.




Kamis, 14 Februari 2019

Turun Dua Oktaf Suara Karena Rokok, Ia Kehilangan Job Menyanyi

Hallo good readers! Wohohoo :D

Kali ini aku akan cerita kisah inspiratif dari seseorang yang begitu hebat karena perjuangannya, karena kesabarannya, karena kegigihannya, dan aku pribadi bangga karena ia mampu menjadikan keterpurukannya sebagai kekuatan untuk lebih banyak melahirkan kebaikan.

Keterpurukan?
Iya, keterpurukan. Hingga ia mengatakan bahwa tidak pernah ada penyesalan dalam hidupnya dari segala apa yang ia pilih. Namun, ia begitu menyesali satu hal, untuk kali pertamanya.

Penyesalan apakah itu? *eng ing eeeeeng (seneng bikin orang penasaran)

Sejak tahun 2007 saat duduk di bangku kuliah, ia adalah Mahasiswa aktif organisasi di kampus. Punya banyak teman, waktu yang ia gunakan untuk rapat, nongki bareng temen. Pokoknya kehidupan bersama teman teman selalu asik karena ia tidak merasa kesepian.





Hidup memang keras, gaes. Gak kayak Natrium dan golongan logam lainnya kalau ditempa, ion ionnya bergerak bebas dan kalau kena air bisa menghasilkan ledakan yang cukup besar untuk jenis atom lunak. (Efek PLP ngajarin peridok unsur, nih wkwkwkwk)

Ibarat atom non-logam, yang punya atom radikal (atom jomblo) yang siap membidik atom mana saja yang butuh pasangan. Dunia itu keras, ada kejahatan yang terorganisir mencari mangsa untuk investasi agen sehingga lebih banyak korban yang terperangkap.

Itu kira-kira yang ia alami. Kak Trusti Pratiwi namanya. Ia sudah mulai merokok sejak tahun 2007 ketika duduk di bangku perkuliahan semester dua. Berawal dari coba coba, karena penasaran. Parahnya lagi, ia menjadi korban iklan rokok  yang masuk ke alam bawah sadarnya; subliminal.

"Ya, kan kalau lagi kumpul sama temen temen ngerasa gak kesepian. Ngejalanin ini itu bareng temen temen seru kan? Nah, kalau sendiri ngerasa kesepian pengen ada yang nemenin," kata Kak Trusti.

Kemudian dari perasaan kesepiannya saat sendiri di kosan, ia teringat satu iklan rokok; yang kalian tau lah, ya gimana asiknya isi konten iklan rokok? Selain itu juga ia melihat temannya yang terlihat asik ditemani rokok.

Dari awalnya yang coba coba hingga akhirnya ketergantungan sampai bikin asep rokok kayak kereta kalau kata Kak Trusti. Miris banget ya, gaes. Kebodohan yang ia rasakan sepanjang hidupnya walaupun Allah sudah menegur dengan batuk berkepanjangan. Tahun 2015 ia sempat berhenti merokok selama empat bulan setelah itu ia masih melanjutkan aktivitas merokok.

Jadi, batuk itu bukan peringatan yang mampu memberhentikan Kak Trusti untuk merokok. "Oh, cuma batuk aja lah tinggal minum ini, minum itu," kata Kak Trusti.

Lalu, apakah merokok mengganggu perkuliahan Kak Trusti dari segi akademik, misalnya?

Selama perkuliahan yang menjadi tantangannya adalah molor ketika mau belajar atau mengerjakan tugas. Seharusnya bisa mengerjakan tugas dari pukul tujuh malam atau pukul delapan, tapi karena harus memenuhi 'nafsu' untuk membuat asap sepanjang kereta itu, Kak Trusti baru bisa mengerjakan tugasnya sekitar pukul sembilan atau larut. Dampaknya apa? dampaknya gak fresh kalau esok harinya harus ke kampus; ngantuk.

Lalu, ada gak sih yang melarang Kak Trusti untuk berhenti merokok?

" Karena satu lingkungan, sih. Ada yang ngingetin cuma mereka jadi minoritas, gak punya power di lingkungan pergaulan aku dan pengaruh temen-temen yang sama sama merokok yang akhirnya bikin aku tetep ngerokok."

Nah, Kak Trusti juga seorang penyanyi. Sejak kuliah ia menyisihkan waktunya untuk mengisi hiburan di mall, cafe, atau acara-acara pernikahan. Seiring waktu berlalu, selama sebelas tahun merokok Allah kasih teguran di tahun 2018. Ia mengidap penyakit laringitis.



Penyakit laringitis adalah penyakit pita suara. Itulah yang menyebabkan Kak Trusti kehilangan suaranya. Oktaf suara yang awalnya enam oktaf menjadi empat oktaf.  Tentu hal ini membuat ia depresi. Ia sudah tidak bisa lagi menghibur banyak orang dengan suara merdunya. Ia seperti mengisolasi diri karena tidak sanggup berkomunikasi dengan siapapun sehingga selama dua pekan harus badrest

"Sampai orang kantor nelpon aja aku reject, ya orang aku gak bisa ngomong. Akhirnya aku ngetik deh ngejelasin panjang lebar ke temen kantor."

Musibah yang dialami Kak Trusti menjadi teguran yang amat sangaaaaaaaaaat disesalinya. Ia merasa bahwa Allah benar-benar ingin ia berhenti merokok. "Efek samping merokok buat orang-orang itu beda-beda. Ada yang baru satu tahun merokok udah sakit, ada yang udah bertahun-tahun baru kena dampaknya. Itu semua kembali kepada teman-teman untuk merokok terus nunggu ditegur atau menjauhi barang tersebut sebelum benar-benar sakit."

"Karena aku mengalaminya sendiri, dan itu gak enak banget dan sangat memalukan sekali." 

Hebatnya Kak Trusti, dari pengalaman yang menyedihkan ia tidak memilih untuk putus asa. Penderitaannya menjadi kekuatan untuk melakukan banyak kebaikan, terutama dengan bergabungnya ia dengan Lembaga Swadaya Masyarakat Smoke Free Agents 3.0.

Alasan yang mendasari ia bergabung dengan salah satu LSM pengendalian tembakau, karena ia tidak ingin ada lagi orang yang merasakan sakit seperti yang dialaminya.

Nah, gaes gimana cerita inspiratif dari Kak Trusti?
Ini langsung lho, testimoni dari korban Industri Rokok terutama dari paparan iklan yang mengepung kita; membidik kita!

Ini juga bentuk nyata, gak bohong aku ngobrol sama pengidap penyakit yang Allah ambil kenikmatan sehatnya karena rokok. Masih mau ngrokok, gak?










Minggu, 10 Februari 2019

New Generation of Smoke Free Agents 3.0 Ready for Action!

Hai, pembaca setia sarahmotivaaaaaaaaa kembali lagi dengan ceritaku, ya. Kok rasa-rasanya udah lama gak nulis lagi di website, ya. Kangen ih hahaha.

Jadi, aku mau ceritain pengalaman aku dan teman-teman yang telah mengikuti Diskusi dan Mini Bootcamp bersama  Smoke Free Agents (SFA). Kalian masih asing gak sama Smoke Free Agents?

Aku kasih bocoran sedikit, ya. Jadi, SFA ini adalah kumpulan pemuda Indonesia yang peduli terhadap pengendalian tembakau bertujuan untuk menjadikan Indonesia lebih baik dan generasi yang sehat dilindungi oleh Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT).

Kok aku  bisa ikutan, sih?



Nah, kenapa kami bisa gabung di SFA, kami melewati dua seleksi. Dari ratusan pendaftar secara online terpilih 40 calon relawan tetap. Kemudian kami di seleksi menjadi 20 relawan yang mendapatkan kesempatan untuk pembekalan pada Ahad, 3 Februasi 2019 di Nutrifood Inspiring Centre.

Terus di sana ngapain aja?

Banyak yang kami lakukan di sana. Kenalan sama temen baru, makan cemilan, main, makan siang, main lagi deh hahahaha. Jadi, jadi.. kami di sana belajar banyak hal yang sebelumnya gak tau sama sekali, deh. Dimulai dari diskusi kelompok, persentasi, dapat materi, dan merencanakan kampanye.

Bahasan diskusi yang kami lakukan sesuai dengan tema acara, yaitu "Remaja vs Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok" yang difasilitatori oleh Komnas PT.

Diskusi menolak iklan dan sponsor industri rokok

Setiap kelompok diskusi terdiri dari tiga sampai empat orang. Pandangan mengenai iklan rokok di media sosial bahkan iklan YouTube, televisi, media cetak, promosi industri rokok,  hingga iklan rokok yang mucul di bioskop-bioskop dibahas tuntas.

Kenapa sih, harus bahas tentang kayak begituan?

Kenapa, ya? Kalau hasil diskusi aku sama temen kelompok karena iklan rokok itu adalah pintu pertama seseorang terutama anak-anak mengenal rokok. Dan, data dari World Health Organization pada tahun 2013, dari negara ASEAN hanya Indonesia saja lho yang masih berkeliaran tuh iklan-iklan rokok di segala media. Hih, kesel akutuuuh hahaha.

"Kalau iklan rokok dilarang berarti membatasi hak untuk mengiklankan donk? Lagian kan iklan rokok itu tayangnya dibatasi, masih mending lah!"

H-E- double L-O!Itu bukan hak. Jangan mau dimacem-macemin sama industri rokok, gaes. Ada yang harus kita kedepankan sebagai hak. Apa itu? Kesehatan masyarakat. Undang-Undang Dasar 1945 Nomor 36 Tahun 2009 menyatakan bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia dan salah satu kesejahteraan yang harus diwujudkan sebagai cita-cita bangsa Indonesia!

Presentasi hasil diskusi tentang larangan iklan rokok

Iklan rokok dibatasi gimana? Boro-boro ceuk orang sunda mah. Penyiaran iklannya dari pukul 21.00 sampai 05.00 kan, ya? Ini nih, yang baru aku sadari. DI TV Nasional penyiaran iklan itu memang dibatasi. Nah, kalau di Jakarta dan sekitarnya pukul 05.00 bagian Waktu Indonesia Barat, tapi kalau yang  Waktu Indonesia Tengah jam berapa? jam 06.00 kan? Nah, terus yang wilayah Waktu Indonesia Timur jam 07.00, dimana anak-anak sekolah udah pada bangun, udah mau pergi sekolah. Ini poin pertama.

Apa lagi coba?

Acara-acara sepak bola yang disponsori industri rokok. Pernah gak sih liat ada gelas komentator acara sepak bola yang ada logo industri rokoknya? bukan kah itu termasuk iklan juga? Terus baju pemain sepak bola yang ada logo industri rokoknya? Ya, sama aja nge-iklanin. Kapan tayang acara sepok bola? sore; good!



"Jangan berlebihan sama industri rokok, sih. Kan banyak pekerja yang cari uang buat nafkahin keluarga, terus petani tembakau juga kasian. Kalau indutri rokok ditutup nanti banyak pengangguran, lho!"

Dulu sih, iya aku mikirnya kayak gitu juga. Tapi, setelah aku ikut Mini Bootcamp ini aku jadi paham banget. Gaes, kita harus tau, kalau tembakau itu panennya cuma ketika kemarau aja. Jadi, petani tembakau itu mereka punya cadangan lahan yang bisa dipanen. Mereka lebih banyak menghidupi keluarganya dengan hasil panen yang bukan dari hasil tembakau.Lucunya lagi, tembakau di Indonesia itu 40 persennya impor dari Cina.



Terus masalah pekerja di pabrik rokok. Sebenarnya, tidak lebih dari satu persen pekerja dan terus menurun karena kebanyakan industri rokok sudah menggunakan mesin atau mekanisasi di industri rokok. Jadi, masih mau menganggap 'kasihan' lagi, gak? Toh, sejauh ini sudah banyak lho, pekerja yang di PHK industri rokok, padahal belum ditutup tuh pabrik rokoknya hoahoahoa.

Jadi ya, gaes. Isu-isu 'jahat' gitu adalah permainan politiknya industri rokok. Waspadalah waspadalah!

Industri rokok itu duitnya buanyak, gaes! Kalian bayangin aja; mereka  ngasih beasiswa, jadi sponsor buat kegiatan pemuda baik musik atau olah raga, iklan-iklan di TV aja pake artis terkenal, modelnya banyak, terus juga memperlihatkan keindahan Indonesia; itu modalnya gede coooy!

Iklan rokok juga menggunakan subliminal. Apaan tuh? Jadi, iklan rokok menayangkan sesuatu yang menyenangkan sehingga dapat mempengaruhi alam bawah sadar kita kayak quotes yang sering didenger contohnya: "Gak ada lo gak rame" dan bungkus rokoknya sudah pakai animasi yang lucu-lucu buat narik bocah-bocah. Ya, Allah sebegitunya, ya.


"Iklan rokok itu paling cerdas dan paling manipulatif."
Nah, sedikit dulu ya yang aku bagi hasil diskusinya. Terus, apa sih yang bisa kita lakukan setelah mengetahui fakta-fakta kebohongan industri rokok?

Kita bisa melakuan kampanye-kampanye kecil yang dimulai dari diri sendiri untuk melawan fakta-fakta tersebut. Bisa dari media sosial kalian, share ke teman sekitar; teman nongkrong, teman komunitas, atau siapa pun.



Selain dapat materi mengenai kebohongan industri rokok, kami difasilitasi untuk berdiskusi membuat kampanye apa yang bisa kami lakukan setelah Mini Bootcamp. Kampanye harus didasari dari keresahan dan memaksimalkan kemampuan yang kami miliki, ya begitulah pesan dari Kak Iman Mahaputra Zein yang punya banyak ide cemerlang untuk melakukan Creative Campaign. 

"Campaign bukan untuk didengar, tapi untuk terdengar!"-Kak Iman 

Coba, cobaaa kita simak nih kesan dari Farhan, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jaarta setelah mengikuti Bootcamp:

"Saat pertama kali ikut pembelajaran dan bergabung di Smoke Free Agents banyak pembelajaran mengenai hal-hal baru. Misalnya tentang perbandingan tembakau antar negara dan taktik iklan rokok. SFA mengajarkan tentang pentingnya kesehatan serta hal-hal yang sangat berkaitan untuk bebas rokok baik yang berada di sekitar kita ataupun mempengaruhi orang lain. Serta mendapatkan banyak inovasi untuk melakukan kebaikan."

Pokoknya Alhamdulillah ini adalah kesempatan terbaik untuk teman-teman Smoke Free Agents Generasi 3.0. Semoga dapat selalu bersinergi dalam kebaikan khususnya pada isu pengendalian tembakau!