Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Kamis, 11 Oktober 2018

Persiapan untuk Jodoh atau Kematian?

Umurku semakin bertambah. Dua puluh satu tahun, dimana Kakak perempuanku diumur yang sama sudah memutuskan untuk menikah. Aku? Ya, aku masih seperti sekarang yang kalian tau. Aku pernah dibandingkan dengan Kakakku. Diumur yang sama dengan Kakakku dua tahun lalu, ia sudah cukup matang untuk berstatus menikah.

Kehidupan aku dan kakakku berjalan sangat berbeda. Aku lebih dibebaskan untuk memilih dan menjalani hidupku di luar. Sedang Kakakku, ia dilamar oleh seorang ikhwan yang menjadi doanya selama ini. Cukup untuknya menjalani hidup dengan yang ia tentukan. Suaminya mampu menjaga ia dan anaknya dari proses taaruf yang sangat indah.

Beberapa temanku saat ini sudah banyak yang melepas masa lajangnya. Setelah selesai KKN banyak yang cinlok dan akhirnya pacaran, dan yang hebatnya adalah mereka menikah. Hehehe, bukan aku iri dengan mereka yang cinlok saat KKN, bukan! Kalau dipikir-pikir sih, gimana mau dapet pas KKN, aku kan orangnya cuek dan gak mikirin sama sekali untuk mau nyari (lha, lagian ya? wkwkwkw).

Aku flat? enggak! Sebenanrya ada gejolak di hati. Namun, lagi-lagi aku selalu redam dengan amanah yang aku emban. Aku hanya takut menghancurkan semuanya. Hei, perempuan! Kita memang makhluk yang sangat berperasaan. Sedikit-sedikit baper! Tapi, aku kurang setuju kalau sebagai perempuan mengedepankan nafsu baper sehingga akhirnya terlena. Sebenanrya perempuan bisa kok cerdas mengendalikan logikanya, bisa, iya bisa. Percaya, deh! Tapi, hati-hati juga sih, ketika mengedepankan logika, khawatir jatuhnya 'membiasakan' atau jadi 'terbiasa' sehingga 'mengentengkan'.

Aku sudah ditanya siap nikah sama ummi? iya, udah. Jawaban aku apa? hmmm dengan jawaban yang sok bijak bercampur bingung aku selalu jawab, "Udah aja kalau udah ada yang ke rumah." Kenapa aku jawab itu? Karena aku masih meramal, bahwa masih dalam waktu yang lama seseorang akan datang (kayak Dilan ya, bisa meramal). Sebenarnya aku gak mau lama-lama, sih. Aku takut gak bisa jaga diri kalau lama-lama sendiri. Aku takut banyak dosa, itu aja.

Aku memang belum tergambar aja, dengan cara apa aku dipertemukan dengan seseorang itu. Aku masih belum bisa mengambil sikap. Entah dengan perantara siapa, atau aku yang menentukan sendiri, atau dengan.... entahlah. Tapi aku pernah dapat nasihat dari seorang teman akhwat, kalau jodoh kita bisa terlihat dengan kita mengonsep bagaimana kita minta dipertemukan.Kemudian ada yang berpesan kalau nikah itu, kita tidak akan pernah siap kalau tidak memaksakan diri untuk menerima kedatangan. (Kok serem, ya?).

Ummi sudah menyuruhku untuk giat berdoa "Robbana hablanaa min azwazina wa zurriyatina qurotaa'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa". Aku mengamini titah ummi. Bukan satu atau dua kali ummi sebut nama ikhwan yang ia kenal. Tapi, entah belum ada feel untuk membicarakan itu. Namanya orangtua, pasti tau perasaan anaknya dari sorotan mata atau mimik wajah sehingga ummi sering menasihati aku, "Jangan bodo amatan. Kamu harus sudah mikir sampai situ."

Aku punya pilihan sendiri. Aku punya keinginan. Aku pernah berharap. Tapi, aku selalu membelakangi harapan-harapan pada seseorang dengan melakukan banyak hal agar aku melupakan. Karena aku takut. Karena aku tak ingin kecewa berlarut-larut. Aku memang mengharapkan seseorang, namun pengharapanku, aku usahakan lebih besar dari pilihan yang terbaik dari-Nya.

Tapi, aku cukup baper sih melihat teman dekatku yang baru saja dilamar hehehe. Ternyata terjawab, ya pertanyaan, 'siapa yang akan menikah duluan?' hehehe.

"Aku mencintaimu karena Allah mau."

Berhenti berharap pada seseorang. Tingkatkan produktifitas diri. Berbenah untuk menjadi madrosatul ulaa.

"Apakah kamu pernah menangkap sinyal pengharapanku?"

Sudah, siapa yang tau kematian akan datang terlebih dahulu daripada jodoh :')


Selasa, 09 Oktober 2018

Assalamuaaikum, pembaca setia blog sarahmotiva!
Sudah lama ya, rasanya gak cerita-cerita lagi. Padahal cerita yang aku pengen tulis kali ini udah lama banget, dan udah lama banget niatan pengen cerita. Tapi, karena berbagai alasan diantaranya sibuk dan banyak malesnya, akhirnya aku bisa cerita disela-sela nunggu jam kelas di stand Ekspresi. Bay the way, hari ini adalah H-2 Ekspresi, lho!

Masih ingat cerita Training for Trainer FSLDK Indonesia yang di laksanakan di AL-Huriyyah IPB gak? pernah aku post di postingan sebelumnya. Nah, acara TFT itu kan diperuntukkan bagi teman-teman perwakilan FSLDK tingkat Provinsi yang kemudian tugas kami adalah menyalurkan ilmu yang kami dapatkan kepada seluruh Lembaga Dakwah Kampus di Provinsi masing-masing.

Kegiatan ilmu tersebut dinamakan Pelatihan Managemen Lembaga Dakwah Kampus (PM-LDK). Aku mewakili FSLDK Banten, sehingga aku harus menyalurkan ilmu TFT ku kepada seluruh LDK di Banten.

FSLDK Banten memiliki banyak LDK, oleh sebab itu kami dibagi menjadi empat zona. Di PM-LDK ini, kami membagi dua wilayah; zona 3 dan 4 di Poltekes Kemenkes Banten pada Ahad, 9 September 2018 dan di Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh Mansyur  pada Sabtu-Ahad, 15-16 September 2018.

Aku sangat bersykur karena Allah memberikan aku kesempatan untuk dapat mengikuti TRaining for Trainer FSLDK Indonesia, sehingga aku bisa bertemu banyak teman-teman LDK se-Banten. Selain itu, aku dapat berbagi dan belajar dari mereka.

Oya, aku fokus di Komisi D, yakni tentang Humas dan Media seperti yang aku ceritakan di postingan tentang Focus Group Discussion saat TFT. Jujur, aku mulai mencintai dunia media sejak aku mendapatkan amanah di LDK Syahid dan sambil belajar di UIN Community. Selain materi yang disampaikan Kak Ammar Yassir saat TFT aku banyak berbagi penglaman mengani media di LDK Syahid dan proses belajar yang aku jalani.



Kesempatan pertama mengisi tentang Humas dan Media adalah di Poltekes Kemenkes, Banten. Aku dan rombongan LDK Syahid dan beberapa tutor PM-LDK mengendarai sepeda bermotor. kami konoy dari kampus UIN Jakarta. Perjalanan yang cukup jauh, harus menempuh kurang lebih satu setengah jam.




Aku bersama Kak Sas Ampal, ia adalah ketua umum LDK Ummulfikroh, UIN Banten. Kami menyampaikan apa yang kami dapatkan saat TFT; mengenai brand, berdakwah melalui media sosial yang baik dan menarik, dan lain-lain.

Selain materi yang kami sampaikan, peserta PM-LDK melakukan diskusi tentang rancangan di LDK masing-masing untuk mempersiapkan strategi dakwah menarik minat mahasiswa baru agar gabung LDK.



Alhamdulillah, PM-LDK pertama bejalan lancar. Teman-teman LDK sangat antusias mengikuti serangkaian kegiatan. Selain itu, bagi aku pribadi, ini merupakan ajang silaturahmi dengan teman-teman LDK yang berada di zona 3 dan 4.



Nah, pengalaman yang lebih super keren adalah saat menjadi trainer di zona 1 dan 2. Benar-benar sebuah perjuangan yang gak biasa banget!

Lokasi STAISMAN itu di Pandeglang. Acara PM-LDK dimulai pukul 07.30 di hari Sabtu. Aku menyiasati agar  sampai tepat waktu, oleh sebab itu aku berangkat Jumat sore ke rumah Kak Yuli, demisioner Kaderisasi LDK Syahid, dan merupakan Trainer Komisi B (Kaderisasi) FSLDK Banten. Aku berangkat dari Ciputat pukul 16.00. Alhamdulillahnya bareng sama adik kelas Kak Yuli, Maba Fikes 2018. Singkat cerita, aku harus menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melahkan hehehe. Aku sampai di rumah Kak Yuli sekitar pukul 22.00.



Paginya kami berangkat pukul 07.00 dari rumah Kak Yuli. Aku pikir jarak rumah Kak Yuli ke Pandeglang dekat. Ternyata cukup jauh huehue. Nah, asyiknya aku dan Kak Yuli menyempatkan diri untuk ke Masjid AlBantani. Masjid ini terletak di tengah-tengah kota. Tidak jauh dari masjid ini, merupakan pusat pemerintahan Provinsi Banten. Masjid yang besar dan memiliki halaman yang luas. Kata Kak Yuli, biasanya upacara bendera Agustusan dilaksanakan di halaman masjid. Wah, Maa Syaa Allah sekali, ya. Kita dapat belajar dari Banten bahwa Indonesia ini tidak bisa terlepas dari nilai-nilai Islam. Apalagi, setelah mendengar sharing dengan Ketua FSLDK Banten, Kaka Rahmat Alfiansyah, ia bercerita bahwa Banten menjadi cikal bakal munculnya ulama-ulama yang melatar belakangi berdirinya Lembaga Dakwah Kampus.



Kami melanjutkan perjalanan ke Pandeglang. Aku semakain yakin, bahwa Banten merupakan Provinsi yang islami. Perjalanan menuju tempat tujuan, aku melewati alun-alun Kota Pandeglang, dan aku membaca tulisan yang diukir di temboh\k, "Pandeglang Berkah". Kemudian tidak jauh dari lokasi acara, terdapat tugu yang cukup  tinggi yang memiliki tiga sisi diukir asmaul husna.

Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh pnitia dengan ramah. Perbedaan PM-LDK dkali ini adalah, kami kami dan seluruh peserta bermalam karena agendanya yang lebih banyak. Tentunya, ini pengalaman yang luar biasa bukan?

Aku mengisi training sekitar pukul 17.00. Tidak banyak materi yang berbeda dari pelatihan sebelumnya. Perbedaannya adalah penyampaiannya. Aku harus sendiri tidak lagi dengan Kak Sas, karena LDK UIN Banten sedang mngadakan jaulah ke LDK Salam UI.



Esok harinya aktivitas kami adalah jalan-jalan ke Taman Bunga. Kami harus berjalan menuju Taman Bunga tersebut. Sambil jalan, kami, para akhwat membagikan khimar syar'i secara gratis kepada penduduk yang kami lewati.

Taman Bunganya sederhana. Menjadi banyak pengunjung karena bunga-bunga di taman beraneka ragam yang terlihat indah karena lebat. Cekrek! cekrek! puas foto-foto di Taman Bunga Nusantara, kami harus pulan terlebih dahulu, karena aku mengejak kereta yang berangkat dari Rangkas Bitung sekitar pukul 13.00.



Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar. Barakallahu fiikum!

Jumat, 28 September 2018

Keadilan dan Kesejahteraan Bersosmed

Assalamu'alaikum, teman-teman!
Tugas manusia adalah sebagai pemimpin di muka bumi, seperti yang tertera dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 30 sudah menjadi hal yang familiar, bukan?
Allah berfirman, "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfrirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Pada kesempatan kali ini, aku akan sedikit berbagi tentang tugas seorang muslim untuk menjadi pengguna sosial media yang baik. Apa hubungannya dengan ayat Alquran di atas? Jelas ada hubungannya, dong. Coba kalian hubung-hubungin, kira-kira apa yang terbayang dari benak teman-teman? Hehehe

Baiklah, Allah menjadikan manusia sebagai khalifah, artinya Dia memberikan kepercayaan kepada kita untuk mengurus segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini. Manusia diberikan hawa nafsu oleh Allah. Hawa nafsu tersebut menjadi sangat penting bagi kita sebagai pengatur. Hawa nafsu dapat dijadikan suatu kekuatan manusia untuk dapat mengatur alam semesta ini. Bagaimana jadinya jika malaikat, yang Allah tidak berikan nafsu. Tidak akan ada perubahan signifikan hingga saat ini. Tidak ada nafsu untuk mengelola alam raya, tidak ada nafsu untuk saling mengasihi terhadap sesama, dan tentunya tidak ada nafsu untuk berbuat sesuatu dengan cinta. Konotasi nafsu tidak melulu yang negatif, ya.

Manusia memang mahkluk yang merusak dan menumpahkan darah. Itulah sifat manusiawi dari nafsu. Karena nafsu harus sedikit banyak dikendalikan oleh rasio. Tentunya, apa yang sudah Allah tetapkan untuk manusia memiliki alasan.

Dari nafsu tersebutlah, manusia memiliki kecenderungan yang berbeda-beda, kemudian ada keinginan untuk meningkatkan apa yang dimili dari dirinya. Itulah yang menjadi alasan mengapa manusia memiliki potensi dan cita-cita.

Allah menjadikan potensi itu beragam. Potensi yang mansia miliki adalah bukti kemuliaan manusia yang Allah jadikan sebagai khalifah. Alquran surat At-tin ayat empat yang berbunyi, sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."

Jumat, 03 Agustus 2018

Penyuluhan Masyarakat Desa Tajurhalang bersama Eco Business Indonesia

Hallo UINers! Tahukah kamu, tujuh keajaiban dunia kini bertambah menjadi delapan, lho.  Apa ya, kira-kira?

UINers, kejaiban terbaru adalah tumpukan sampah di Indonesia sebesar 185 candi Borobudur pertahunnya. Wah, bisa ya sebanyak itu?  Lalu, jalan keluar apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi permasalahn tersebut?

Baiklah, aku akan berbagi cerita tentang Kelompok Kuliah Kerja Nyata Paku Jajar 132 yang pada hari Jumat, 3 Agustus 2018 menyelenggarakan Penyuluhan Pemerdayaan Masyarakat oleh Kak Edy Fajar Prasetyo, alumni Agribisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah Jakarta.


Kak Edy Fajar Prasetyo adalah founder Eco Business Indonesia. Hastag besar dari Eco Buisness Indonesia yang disingkat EBI ini adalah #SAMPAH; Selalu Akan Mudah Pabila Ada Harapan. Nah, oleh sebab itu, Kak Edy bersama tim Ebi memberikan harapan kepada banyak masyarakat Indonesia bahwa sampah dapat memberikan berkah.

Saat KKN, tim Ebi memiliki program Ekspedisi Bakti Indonesia yang diperuntukkan bagi teman-teman yang melakukan pengabdian di masyarakat. Program ini sudah berjalan tiga tahun khususnya membantu teman-teman mahasiswa yang menjalani Kuliah Kerja Nyata. “Ada beberapa kampus yang masuk. Tidak hanya kampus UIN jakarta. Ada kampus dari Jabodetaek, Purwakerto, hingga Bali.” Ujar Kak Edy.

Di Desa Tajurhalang, penyuluhan kami diramaikan oleh ibu-ibu rumah tangga yang sangat antusias. Mereka diberikan informasi mengenai pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki, terutama sampah yang mampu dijadikan sumber penghasilan.

Ibu-ibu diajak untuk membuat kerajinan tangan dari sampah pelastik yang biasa dijual  seharga 5.000 rupiah.

Nah, Kak Edy pun menceritakan produk yang telah tim Ebi hasilkan dari sampah plastik dan mendapatkan hasil yang berlimpah. Hasil sampah yang disulap menjadi dompet yang memerlukan 60-70 sampah plastik jika dijual seharga 70-100 ribu rupiah. Kemudian, yang lebih inovatif adalah karikatur dari sampah pelastik yang hanya bermodalkan 30.000 rupiah untuk frame yang jika dirupiahkan sebesar  1,5 juta rupiah. Keren, bukan?

Kak Edy mewakili Ebi dengan program Ekspedi Bakti Indoensia berharap agar mahasiswa yang telah melakukan kegiatan dapat lebih memberikan informasi dan pengalaman kepada masyarakat yang kemudian dapat diterapkan dilingkungan. “Semoga berhasil. Tujan KKN adalah untuk mengabdi kepada masyarakat.” Tutup Kak Edy


Bagi teman-teman yang mau mengetahui lebih banyak tentang Economi Buisness Indonesia,bisa mengunjungi website www.ebibag.com atau di instagram @ebi_bag.
Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya!

Bercerita dan Bersyukur


Saat KKN, aku dan teman-teman rutin mengajar di Madrasah Dinniyah, membantu Ustaz Uyeh. Kemudian kami melanjutkan bermain dengan adik-adik RW 03 di Taman Pendidikan Alquran di rumah Ustaz Eddy. Saat mengajar sore biasanya ditemani Ummi, panggilan kami pada istri Ustaz Eddy. 

Di TPA ini aku lebih enjoy berbagi, karena belajar membaca Alquran dan cerita-cerita apapun; kisah nabi, kisah sahabat nabi, atau kisah yang mengandung banyak hikmah bagi anak-anak TPA. Bedanya di Madrasah Dinniyah aku harus menyiapkan materi bahasa Arab. Seringnya aku ajak mereka untuk bernyanyi dengan bahasa Arab, menghafal kata-kata mutiara yang mahsyur dengan bahasa arab seperti ‘man jadda wa jada’, ‘man shabara zhafira’, dan ‘man saara 'ala darbi washala’.

Aku senang bercerita kepada adik-adik TPA. Setelah membaca Alquran, aku selalu diberikan kesempatan untuk berbagi. Pertama adalah tentang Nabi Musa. Kisah Nabi Musa memang cerita yang istimewa buatku. Aku punya kisah tersendiri tentang cerita Nabi Musa.

Waktu Aliyah, di mata pelajaran Ilmu Dakwah, Pak Naufal, guru saat itu adalah pemiliki Rumah Makan Citra Sunda yang terkenal di Leuwiliang. Ayam bakar yang khas dan sering sekali dinikmati oleh siswa Muallimien. Pak Naufal mengadakan lomba drama Nabi di mata pelajarannya. Kami dibagi beberapa kelompok dan memilih kisah nabi yang akan di jadikan drama. Aku satu kelompok dengan Jawad Rahmat. Dia adalah ketua kelas kami di 11 IPA. 

Beberapa hari kami mempersiapkan lomba. Mulai dari mempersiapkan kostum sampai properti. Ada properti peti saat Musa kecil yang dibuang oleh ibunya di Sungai Nil, ular besar yang berasal dari tongkat Nabi Musa, dan masih banyak lagi. 

Oya,peranku di drama ini adalah sebagai Asyiyah, istri Fir’aun (hehehe) dan sebagai Nabi Harun, sahabat Nabi Musa yang membantu mendakwahi Raja Fir’aun. Jawad berperan sebagai Nabi Musa. Saat itu, keadaan kaki Jawad yang tidak sehat. Ia harus bersusah payah untuk berjalan. Namun, semangatnya patut diapresiasi. Kaki jawad seperti itu sebab tergelincir saat bermain futsal di sekolah. Setelah diurut, beberapa hari ia tetap harus merasakan sakit.

Kami menjalani drama dengan maksimal. Dan, Alhamdulillah hasilnya pun sangat memuaskan. Beberapa hari setelah drama, Pak Naufal mengumumkan hasil lomba. Kelompok drama Nabi Musa menjadi juara pertama. Hadiahnya adalah nasi box berisi ayam bakar Rumah Makan Citra Sunda (wkwkwkw). Tapi, saat pengumuman Jawad tidak hadir karena kakinya semakin sakit. Jelas, itu adalah hal yang menyedihkan. Waktu yang seharusnya dijadikan momen paling bahagia untuk kelompok kami. Namun, tidak sempurna karena sang tokoh utama, Jawad sebagai Nabi Musa tidak hadir.

Singkat cerita, beberapa hari Jawad belum kembali sekolah. Ditelusuri oleh teman-teman dari saudaranya yang juga satu sekolah dengan kami, ternyata Jawad  memiliiki tumor di kakinya. Seketika kelas kami menjadi kelas yang sangat tertutup.  Keceriaan yang hampir setiap harinya menghiasi, kini berubah menjadi sepi. Kami sempat menjenguk di kediamannya. Keadaan Jawad sangat kurus. Allah lebih sayang Jawad.  Tepat pada hari Selasa, 21 April 2014 ia pergi meninggalkan kami semua.  Belum sempat makan nasi box Rumah Makan Citra Sunda hasil hadiah lomba Nabi Ilmu Dakwah. Sore itu menjadi sore abu. Penuh kesedihan. Untuk pertama kalinya aku ditinggalkan oleh teman satu sekolah. Almarhum Jawad adalah sosok yang ceria. Ketua kelas kami yang apa adanya. Semoga engkau mulia di sisi Allah, Jawad.

Nah, jadi itulah sebab aku selalu ingat kisah Nabi Musa. Selain itu, aku pun sangat mengagumi Nabi Musa karena beliau tetap menjadi anak yang berbakti kepada ayah asuhnya Fir’aun,walau  dia adalah sosok yang  lalim. 

Adik-adik TPA selalu senang ketika mendengarkan cerita. Selain kisah Nabi Musa, aku menceritakan kepada mereka kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail, nabi Isa, kisah Bilal bin Rabbah yang menjadi orang pertama mengumandangkan azan, kisah Mush’ab bin Ummair sebagai duta Islam pertama, dan kisah Qorun yang Allah tenenggelamkan hartanya di perut bumi. 

Alhamdulillah ya, senang sekali bisa berbagi cerita. Nah, setelah bersama adik-adik, biasanya aku dan teman-teman yang mengajar di TPA sharing sama Ummi tentang banyak hal. Beberapa hari sih, kami membehas tentang perkuliahan. 

Biasanya, tidak beberapa lama kami berbincang abah datang untuk ikut nimbrung cerita-cerita. Nah, beberapa hari ummi dan abah seperti ‘kepo’dengan dunia mahasiswa. Maklum, mereka belum pernah merasakan perkuliahan. Anak-anaknya pun masih duduk di bangku sekolah. 

Aku memperhatikan pancaran dari matanya, bahwa mereka sangat menginginkan anak-anaknya untuk dapat kuliah. Salwa nama anak terakhir Ummi dan Abah. Ungkap mereka bahwa Salwa adalah anak yang paling berbeda dari kakak-kakaknya. Dia anak yang pintar karena rajin belajar. Ia pun sudah beberapa kali mendapatkan juara Musabaqah Tilawatil Quran hingga Kecamatan..Yang disayangkan adalah, tidak ada kesempatan Salwa untuk melanjutkan kompetisi di tingkat Kabupaten.
Mulai dari cara daftar kuliah, cara ngurus memulai perkuliahan, tempat tinggal,biaya hidup, dan masih banyak hal-hal kecil yang mereka pertanyakan. Kami pun mengerti arah pembicaraan Ummi dan Abah. “Di kuliah juga ada beasiswa kok Ummi. Banyak malah, tersedia di kampus. Ada yang dari pemerintah, instansi, dari UINnya langsung pun ada.” “Terus kalau mau dapat beasiswa itu gimana caranya? Tau informasinya gimana?” 

“Biasanya nanti juga ada kok, mi informasinya kalau udah kuliah. Informasi itu suka muncul setelah kita udah punya Nomor Induk Mahasiswa. Suka muncul di sistem Mahasiswa info-info beasiswa.”
Aku memperhatikan dalam-dalam tatapan kedua orang tua yang berada di hadapanku. Aku seperti menemukan mutiara di desa. Mutiara itu adalah harapan besar orangtua yang menginginkan anaknya untuk lebih baik dari orang tuanya. Mereka yang ingin bersusah payah bekerja demi kesuksesan anak-anaknya. Ingin anaknya mampu keluar dari wilayah yang selama ini dijalani oleh orang tua mereka.

“Mi,ada juga kok beasiswa untuk anak-anak yang menghafal Alquran. Kakak kelas Sarah juga ada yang hafiz 30 Juz dapat beasiswa di UIN.” Kemudian aku membesarkan mereka sekaligus memberikan motivasi kepada Salwa yang duduk manis mendengarkan percakan kami dengan orangtuanya. Salwa masih duduk di Sekolah Dasar kelas dua. Jadi,masih banyak kesempatan Salwa untuk mempersiapkan hafalan jika ingin beasiswa Tahfiz.

Bersyukur sepanjang berbicara yang aku lakukan. Terima kasih kepada Allah yang telah memberikan kesempatan aku untuk menjalani perkuliahan hingga saat ini. Ini adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepadaku dan ummi. Karena, aku pun memiliki perjuangan tersendiri hingga bisa duduk di bangku kuliah. 

Untuk kita para aktivis dakwah, jangan pernah putus asa atas rahmat Allah. Karena, sudah terlalu banyak nikmat Allah yang Dia berikan walaupun kita tidak meminta atau berharap untuk diberi. Kadang kala,kita tidakmenyadari atas nikmat yang Allah berikan saking kita bahagia, saking kita dapat menjalani kehidupan yang mulus-mulus saja. nayatanya, sangat banyak sekali yang ingin mendapatkan kesempatan seperti yang kita  jalani saat ini. 

Jangan pernah sia-siakan peran orangtua kepadamu. Apalagi bagi orang tua yang berjuang sendirian. Kita harus punya pencapaian istimewa untuk membuat bangga mereka karena memiliki anak yang bermanfaat. Bersyukurlah sebanyak-banyaknya bersyukur, seperti kita mengharapkan kebahagiaan setiap hela nafas kita.

Kamis, 26 Juli 2018

Kasih Proposal ke Allah

Aku terlalu sering bergantung pada manusia, ternyata.

sehingga banyak sekali kesakitan hati yang aku rasakan.

Hanya secarik cerita hati. Padahal tanpa diceritakan, Allah sudah mengerti.

Sedang manusia yang kita bergantung padanya hanya mampu mendengar dan memerikan solusi. Tapi, selebihnya adalah Allah yang memberikan jalan keluar.

Allah sudah kasih manusia petunjuk.
Ibarat meminta donasi ke Allah, Allah sudah kasih bocoran bagaimana agar proposal kita ‘cair’.

Ada di dalam Alquran.
Ketika kita mengharapkan kebahagiaan, manusia berikan proposal dengan cara yang tertera di dalam Alquran surat Ali Imran ayat 139. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Seharusnya, memang orang-orang yang beriman dijauhkan dari rasa sedih jika mampu menjaga dan mempertangguh keimanan.

Seperti kisah nabi Yusuf yang dipenjara karena fitnah Zulaikha. Karena keimanan Nabi Yusuf, ia terhindar dari kesedihan. Walaupun hidupnya secara kesat mata tidak bahagia, hakikatnya hatinya teguh, perkasa, dan optimis akan pertolongan Allah.

“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara leih aku sukai daripada memenuhin ajakan mereka kepadaku. Dan jika Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulan aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33).

Jadi, proposal yang harus kita buat adalah dengan cara meneguhkan iman, sehingga kesedihan tidak bersarang di dalam diri kita.

Selasa, 24 Juli 2018

Ibadah Kelompok Kerja Nyata #5 (Belajar Semangat Belajar)

Aku kagum sama anak-anak Desa Tajurhalang terutama RW 03 yang harus menempuh jalan yang cukup jauh untuk pergi ke sekolah. 

Mereka pulang dari sekolah sekitar pukul 12.00 lalu istirahat di rumah hingga pukul 13.00 kemudian dilanjutkan dengan belajar Dinniyah di Madrasah yang terletak di RW 03.

Belajar Dinniyah  tentang Hadis, Fiqih,  Kitab-kitab (yang aku gak tau itu tentang apa) 😅
Selesai belajar Dinniyah sekitar pukul 14.30 mereka lanjutkan dengan belajar Alquran di rumah Ustaz Edy,  tidak jauh dari Madrasah Dinniyah. Mereka belajar untuk melancarkan bacaan Alquran, menghafal doa-doa harian,  dan surat-surat pendek. 


Maa Syaa Allah! 

Mereka tidak lelah belajar. Begitu lengkap dari segi ilmu umum kemudian dimantapkan dengan ilmu-ilmu agama.

Sejak mereka kecil sudah dibiasakan belajar agama merupakan hal yang patut diapresiasi. 

Karena ilmu agama menjadi pedoman hidup kapan pun dan di mana pun. 

Kami mengajak mereka untuk mencintai buku dengan menyajikan buku bacaan anak di tempat tinggal KKN.

Mereka adalah bibit generasi Indonesia. Sebagai anak desa yang masih polos dan penuh semangat, hal ini merupakan modal besar untuk menjadi orang hebat dikemudian hari. 

Semangat selalu untuk adik-adik Desa Tajurhalang. Terima kasih karena telah memberikan hikmah. 

Jangan mudah lelah menuntut ilmu,  karena ilmu adalah cahaya. Cahaya itu lah yang terpancar dalam diri bibit-bibit unggul bangsa. 

Keseimbangan belajar ilmu umum dan mengenal Allah 💙