Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Jumat, 03 Agustus 2018

Penyuluhan Masyarakat Desa Tajurhalang bersama Eco Business Indonesia

Hallo UINers! Tahukah kamu, tujuh keajaiban dunia kini bertambah menjadi delapan, lho.  Apa ya, kira-kira?

UINers, kejaiban terbaru adalah tumpukan sampah di Indonesia sebesar 185 candi Borobudur pertahunnya. Wah, bisa ya sebanyak itu?  Lalu, jalan keluar apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi permasalahn tersebut?

Baiklah, aku akan berbagi cerita tentang Kelompok Kuliah Kerja Nyata Paku Jajar 132 yang pada hari Jumat, 3 Agustus 2018 menyelenggarakan Penyuluhan Pemerdayaan Masyarakat oleh Kak Edy Fajar Prasetyo, alumni Agribisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah Jakarta.


Kak Edy Fajar Prasetyo adalah founder Eco Business Indonesia. Hastag besar dari Eco Buisness Indonesia yang disingkat EBI ini adalah #SAMPAH; Selalu Akan Mudah Pabila Ada Harapan. Nah, oleh sebab itu, Kak Edy bersama tim Ebi memberikan harapan kepada banyak masyarakat Indonesia bahwa sampah dapat memberikan berkah.

Saat KKN, tim Ebi memiliki program Ekspedisi Bakti Indonesia yang diperuntukkan bagi teman-teman yang melakukan pengabdian di masyarakat. Program ini sudah berjalan tiga tahun khususnya membantu teman-teman mahasiswa yang menjalani Kuliah Kerja Nyata. “Ada beberapa kampus yang masuk. Tidak hanya kampus UIN jakarta. Ada kampus dari Jabodetaek, Purwakerto, hingga Bali.” Ujar Kak Edy.

Di Desa Tajurhalang, penyuluhan kami diramaikan oleh ibu-ibu rumah tangga yang sangat antusias. Mereka diberikan informasi mengenai pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki, terutama sampah yang mampu dijadikan sumber penghasilan.

Ibu-ibu diajak untuk membuat kerajinan tangan dari sampah pelastik yang biasa dijual  seharga 5.000 rupiah.

Nah, Kak Edy pun menceritakan produk yang telah tim Ebi hasilkan dari sampah plastik dan mendapatkan hasil yang berlimpah. Hasil sampah yang disulap menjadi dompet yang memerlukan 60-70 sampah plastik jika dijual seharga 70-100 ribu rupiah. Kemudian, yang lebih inovatif adalah karikatur dari sampah pelastik yang hanya bermodalkan 30.000 rupiah untuk frame yang jika dirupiahkan sebesar  1,5 juta rupiah. Keren, bukan?

Kak Edy mewakili Ebi dengan program Ekspedi Bakti Indoensia berharap agar mahasiswa yang telah melakukan kegiatan dapat lebih memberikan informasi dan pengalaman kepada masyarakat yang kemudian dapat diterapkan dilingkungan. “Semoga berhasil. Tujan KKN adalah untuk mengabdi kepada masyarakat.” Tutup Kak Edy


Bagi teman-teman yang mau mengetahui lebih banyak tentang Economi Buisness Indonesia,bisa mengunjungi website www.ebibag.com atau di instagram @ebi_bag.
Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya!

Bercerita dan Bersyukur


Saat KKN, aku dan teman-teman rutin mengajar di Madrasah Dinniyah, membantu Ustaz Uyeh. Kemudian kami melanjutkan bermain dengan adik-adik RW 03 di Taman Pendidikan Alquran di rumah Ustaz Eddy. Saat mengajar sore biasanya ditemani Ummi, panggilan kami pada istri Ustaz Eddy. 

Di TPA ini aku lebih enjoy berbagi, karena belajar membaca Alquran dan cerita-cerita apapun; kisah nabi, kisah sahabat nabi, atau kisah yang mengandung banyak hikmah bagi anak-anak TPA. Bedanya di Madrasah Dinniyah aku harus menyiapkan materi bahasa Arab. Seringnya aku ajak mereka untuk bernyanyi dengan bahasa Arab, menghafal kata-kata mutiara yang mahsyur dengan bahasa arab seperti ‘man jadda wa jada’, ‘man shabara zhafira’, dan ‘man saara 'ala darbi washala’.

Aku senang bercerita kepada adik-adik TPA. Setelah membaca Alquran, aku selalu diberikan kesempatan untuk berbagi. Pertama adalah tentang Nabi Musa. Kisah Nabi Musa memang cerita yang istimewa buatku. Aku punya kisah tersendiri tentang cerita Nabi Musa.

Waktu Aliyah, di mata pelajaran Ilmu Dakwah, Pak Naufal, guru saat itu adalah pemiliki Rumah Makan Citra Sunda yang terkenal di Leuwiliang. Ayam bakar yang khas dan sering sekali dinikmati oleh siswa Muallimien. Pak Naufal mengadakan lomba drama Nabi di mata pelajarannya. Kami dibagi beberapa kelompok dan memilih kisah nabi yang akan di jadikan drama. Aku satu kelompok dengan Jawad Rahmat. Dia adalah ketua kelas kami di 11 IPA. 

Beberapa hari kami mempersiapkan lomba. Mulai dari mempersiapkan kostum sampai properti. Ada properti peti saat Musa kecil yang dibuang oleh ibunya di Sungai Nil, ular besar yang berasal dari tongkat Nabi Musa, dan masih banyak lagi. 

Oya,peranku di drama ini adalah sebagai Asyiyah, istri Fir’aun (hehehe) dan sebagai Nabi Harun, sahabat Nabi Musa yang membantu mendakwahi Raja Fir’aun. Jawad berperan sebagai Nabi Musa. Saat itu, keadaan kaki Jawad yang tidak sehat. Ia harus bersusah payah untuk berjalan. Namun, semangatnya patut diapresiasi. Kaki jawad seperti itu sebab tergelincir saat bermain futsal di sekolah. Setelah diurut, beberapa hari ia tetap harus merasakan sakit.

Kami menjalani drama dengan maksimal. Dan, Alhamdulillah hasilnya pun sangat memuaskan. Beberapa hari setelah drama, Pak Naufal mengumumkan hasil lomba. Kelompok drama Nabi Musa menjadi juara pertama. Hadiahnya adalah nasi box berisi ayam bakar Rumah Makan Citra Sunda (wkwkwkw). Tapi, saat pengumuman Jawad tidak hadir karena kakinya semakin sakit. Jelas, itu adalah hal yang menyedihkan. Waktu yang seharusnya dijadikan momen paling bahagia untuk kelompok kami. Namun, tidak sempurna karena sang tokoh utama, Jawad sebagai Nabi Musa tidak hadir.

Singkat cerita, beberapa hari Jawad belum kembali sekolah. Ditelusuri oleh teman-teman dari saudaranya yang juga satu sekolah dengan kami, ternyata Jawad  memiliiki tumor di kakinya. Seketika kelas kami menjadi kelas yang sangat tertutup.  Keceriaan yang hampir setiap harinya menghiasi, kini berubah menjadi sepi. Kami sempat menjenguk di kediamannya. Keadaan Jawad sangat kurus. Allah lebih sayang Jawad.  Tepat pada hari Selasa, 21 April 2014 ia pergi meninggalkan kami semua.  Belum sempat makan nasi box Rumah Makan Citra Sunda hasil hadiah lomba Nabi Ilmu Dakwah. Sore itu menjadi sore abu. Penuh kesedihan. Untuk pertama kalinya aku ditinggalkan oleh teman satu sekolah. Almarhum Jawad adalah sosok yang ceria. Ketua kelas kami yang apa adanya. Semoga engkau mulia di sisi Allah, Jawad.

Nah, jadi itulah sebab aku selalu ingat kisah Nabi Musa. Selain itu, aku pun sangat mengagumi Nabi Musa karena beliau tetap menjadi anak yang berbakti kepada ayah asuhnya Fir’aun,walau  dia adalah sosok yang  lalim. 

Adik-adik TPA selalu senang ketika mendengarkan cerita. Selain kisah Nabi Musa, aku menceritakan kepada mereka kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail, nabi Isa, kisah Bilal bin Rabbah yang menjadi orang pertama mengumandangkan azan, kisah Mush’ab bin Ummair sebagai duta Islam pertama, dan kisah Qorun yang Allah tenenggelamkan hartanya di perut bumi. 

Alhamdulillah ya, senang sekali bisa berbagi cerita. Nah, setelah bersama adik-adik, biasanya aku dan teman-teman yang mengajar di TPA sharing sama Ummi tentang banyak hal. Beberapa hari sih, kami membehas tentang perkuliahan. 

Biasanya, tidak beberapa lama kami berbincang abah datang untuk ikut nimbrung cerita-cerita. Nah, beberapa hari ummi dan abah seperti ‘kepo’dengan dunia mahasiswa. Maklum, mereka belum pernah merasakan perkuliahan. Anak-anaknya pun masih duduk di bangku sekolah. 

Aku memperhatikan pancaran dari matanya, bahwa mereka sangat menginginkan anak-anaknya untuk dapat kuliah. Salwa nama anak terakhir Ummi dan Abah. Ungkap mereka bahwa Salwa adalah anak yang paling berbeda dari kakak-kakaknya. Dia anak yang pintar karena rajin belajar. Ia pun sudah beberapa kali mendapatkan juara Musabaqah Tilawatil Quran hingga Kecamatan..Yang disayangkan adalah, tidak ada kesempatan Salwa untuk melanjutkan kompetisi di tingkat Kabupaten.
Mulai dari cara daftar kuliah, cara ngurus memulai perkuliahan, tempat tinggal,biaya hidup, dan masih banyak hal-hal kecil yang mereka pertanyakan. Kami pun mengerti arah pembicaraan Ummi dan Abah. “Di kuliah juga ada beasiswa kok Ummi. Banyak malah, tersedia di kampus. Ada yang dari pemerintah, instansi, dari UINnya langsung pun ada.” “Terus kalau mau dapat beasiswa itu gimana caranya? Tau informasinya gimana?” 

“Biasanya nanti juga ada kok, mi informasinya kalau udah kuliah. Informasi itu suka muncul setelah kita udah punya Nomor Induk Mahasiswa. Suka muncul di sistem Mahasiswa info-info beasiswa.”
Aku memperhatikan dalam-dalam tatapan kedua orang tua yang berada di hadapanku. Aku seperti menemukan mutiara di desa. Mutiara itu adalah harapan besar orangtua yang menginginkan anaknya untuk lebih baik dari orang tuanya. Mereka yang ingin bersusah payah bekerja demi kesuksesan anak-anaknya. Ingin anaknya mampu keluar dari wilayah yang selama ini dijalani oleh orang tua mereka.

“Mi,ada juga kok beasiswa untuk anak-anak yang menghafal Alquran. Kakak kelas Sarah juga ada yang hafiz 30 Juz dapat beasiswa di UIN.” Kemudian aku membesarkan mereka sekaligus memberikan motivasi kepada Salwa yang duduk manis mendengarkan percakan kami dengan orangtuanya. Salwa masih duduk di Sekolah Dasar kelas dua. Jadi,masih banyak kesempatan Salwa untuk mempersiapkan hafalan jika ingin beasiswa Tahfiz.

Bersyukur sepanjang berbicara yang aku lakukan. Terima kasih kepada Allah yang telah memberikan kesempatan aku untuk menjalani perkuliahan hingga saat ini. Ini adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepadaku dan ummi. Karena, aku pun memiliki perjuangan tersendiri hingga bisa duduk di bangku kuliah. 

Untuk kita para aktivis dakwah, jangan pernah putus asa atas rahmat Allah. Karena, sudah terlalu banyak nikmat Allah yang Dia berikan walaupun kita tidak meminta atau berharap untuk diberi. Kadang kala,kita tidakmenyadari atas nikmat yang Allah berikan saking kita bahagia, saking kita dapat menjalani kehidupan yang mulus-mulus saja. nayatanya, sangat banyak sekali yang ingin mendapatkan kesempatan seperti yang kita  jalani saat ini. 

Jangan pernah sia-siakan peran orangtua kepadamu. Apalagi bagi orang tua yang berjuang sendirian. Kita harus punya pencapaian istimewa untuk membuat bangga mereka karena memiliki anak yang bermanfaat. Bersyukurlah sebanyak-banyaknya bersyukur, seperti kita mengharapkan kebahagiaan setiap hela nafas kita.

Kamis, 26 Juli 2018

Kasih Proposal ke Allah

Aku terlalu sering bergantung pada manusia, ternyata.

sehingga banyak sekali kesakitan hati yang aku rasakan.

Hanya secarik cerita hati. Padahal tanpa diceritakan, Allah sudah mengerti.

Sedang manusia yang kita bergantung padanya hanya mampu mendengar dan memerikan solusi. Tapi, selebihnya adalah Allah yang memberikan jalan keluar.

Allah sudah kasih manusia petunjuk.
Ibarat meminta donasi ke Allah, Allah sudah kasih bocoran bagaimana agar proposal kita ‘cair’.

Ada di dalam Alquran.
Ketika kita mengharapkan kebahagiaan, manusia berikan proposal dengan cara yang tertera di dalam Alquran surat Ali Imran ayat 139. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Seharusnya, memang orang-orang yang beriman dijauhkan dari rasa sedih jika mampu menjaga dan mempertangguh keimanan.

Seperti kisah nabi Yusuf yang dipenjara karena fitnah Zulaikha. Karena keimanan Nabi Yusuf, ia terhindar dari kesedihan. Walaupun hidupnya secara kesat mata tidak bahagia, hakikatnya hatinya teguh, perkasa, dan optimis akan pertolongan Allah.

“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara leih aku sukai daripada memenuhin ajakan mereka kepadaku. Dan jika Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulan aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33).

Jadi, proposal yang harus kita buat adalah dengan cara meneguhkan iman, sehingga kesedihan tidak bersarang di dalam diri kita.

Selasa, 24 Juli 2018

Ibadah Kelompok Kerja Nyata #5 (Belajar Semangat Belajar)

Aku kagum sama anak-anak Desa Tajurhalang terutama RW 03 yang harus menempuh jalan yang cukup jauh untuk pergi ke sekolah. 

Mereka pulang dari sekolah sekitar pukul 12.00 lalu istirahat di rumah hingga pukul 13.00 kemudian dilanjutkan dengan belajar Dinniyah di Madrasah yang terletak di RW 03.

Belajar Dinniyah  tentang Hadis, Fiqih,  Kitab-kitab (yang aku gak tau itu tentang apa) 😅
Selesai belajar Dinniyah sekitar pukul 14.30 mereka lanjutkan dengan belajar Alquran di rumah Ustaz Edy,  tidak jauh dari Madrasah Dinniyah. Mereka belajar untuk melancarkan bacaan Alquran, menghafal doa-doa harian,  dan surat-surat pendek. 


Maa Syaa Allah! 

Mereka tidak lelah belajar. Begitu lengkap dari segi ilmu umum kemudian dimantapkan dengan ilmu-ilmu agama.

Sejak mereka kecil sudah dibiasakan belajar agama merupakan hal yang patut diapresiasi. 

Karena ilmu agama menjadi pedoman hidup kapan pun dan di mana pun. 

Kami mengajak mereka untuk mencintai buku dengan menyajikan buku bacaan anak di tempat tinggal KKN.

Mereka adalah bibit generasi Indonesia. Sebagai anak desa yang masih polos dan penuh semangat, hal ini merupakan modal besar untuk menjadi orang hebat dikemudian hari. 

Semangat selalu untuk adik-adik Desa Tajurhalang. Terima kasih karena telah memberikan hikmah. 

Jangan mudah lelah menuntut ilmu,  karena ilmu adalah cahaya. Cahaya itu lah yang terpancar dalam diri bibit-bibit unggul bangsa. 

Keseimbangan belajar ilmu umum dan mengenal Allah 💙

Senin, 23 Juli 2018

Ibadah Kuliah Kerja Nyata #4 (Pendidikan: Menjadi Fokus Program KKN 132 Paku Jajar )

Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah implementasi ilmu yang dimiliki mahasiswa selama mendapatkan ilmu di perkuliahan. Mahasiswa terjun ke masyarakat untuk melakukan pengabdian dan berkontribusi untuk pembangunan warga masyarakat.

Pendidikan menjadi hal utama yang banyak dilakukan oleh mahasiswa KKN. Karena pada suatu tempat pun, dapat terlihat maju dan berkembangnya  dari taraf pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan yang baik terutama di masyarakat. Karena, secara  langsung dan tidak langsung, sengaja maupun tidak, masyarakat terlibat dalam pendidikan. Apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal.  Itulah mengapa pendidikan yang baik sangat diperlukan di lingkungan masyarakat.





Nah, tepat di hari peringatan Anak Nasional, aku dan kedua teman Paku Jajar mengunjungi SDN 02 Tajur Halang untuk bersilaturahmi dengan kepala sekolah dan guru-guru di sana. Senang sekali dapat bertemu anak-anak di sekolah. Karena tempat yang aku sukai adalah tempat menuntut ilmu. Selain itu, kami pun bertemu para guru yang baik dan ramah. Tentu lah, lingkungan sekolah harus memiliki lingkungan yang nyaman. Kenymanan itu tercermin dari perilaku guru yang menciptakan suasana kondusif di sekolah.

Niat awal program kami tidak  mengajar di sekolah. Namun, suatu hari salah satu dari teman kami bertemu salah satu guru SDN 02 Tajur Halang dan meminta kami untuk menggantikan guru yang akan mengikuti BIMTEK selama satu pekan. Selain itu, ada guru yang akan pergi haji, sehingga butuh pengganti untuk mengajar.

Oleh sebab itu, selain kami bersilaturahmi dengan pihak sekolah, kami ingin meminta jadwal mengajar selama menggantikan guru-guru yang bertugas di luar.

"Pokoknya kalian menemani mereka aja. Tidak ada keharusan untuk mencapai target pelajaran. Anak-anak juga pasti udah seneng kedatangan orang baru," ujar bu , Kepala Sekolah SDN 02 Tajur Halang.

Kami dan guru-guru berbincang-bincang tentang pengalaman mengajar mereka dan pengalaman kami di kampus. Bagiku, ini adalah kesempatan baik untuk banyak belajar dari seorang pendidik yang sudah memiliki pengalaman yang banyak. Aku tertawa ketika sang guru menceritakan pengalaman anak-anak yang 'super pinter' yang bikin gemes hehehe.

Memang, mengajar anak-anak SD itu lebih membutuhkan ilmu kesabaran jika dibandingkan dengan anak-anak SMA. Kalau di SD kita akan lebih dituntut untuk mampu mengelola kelas dengan baik agar selalu kondusif.

Baiklah, ini adalah waktu untuk belajar sebelum mata kuliah Micro Teaching di semester tujuh nanti hehehe.


Alhamdulillah kami diberikan kesematan untuk melihat-lihat ruang kelas sekaligus menyampaikan pesan untuk peserta didik. Satu-satu kami kunjungi, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Benar, memang; peserta didik akan antusias dengan orang-orang baru.

Lucu banget anak-anaknya masih pada kecil-kecil, ih. Bahkan ada yang bersusah paah untuk menulis di atas meja hihihi.

Aku berpikir setelah melihat antusias peserta didik, "Harus bisa memberikan kebahagiaan dalam belajar. Kira-kira apa, ya?". Kami datang ke Desa Tajur Halang, kemudian datang ke sekolah. Jangan sampai tidak memberikan bekas apa-apa. Setidaknya ada hal baru yang akan dikenang oleh mereka. Mungkin dari cara mengajar yang menyenangkan dan inovatif. Hal yang paling penting dalam proses belajar yang menyenangkan adalah tidak lupa memberikan nilai dan pesan moral.

Yup! Sebagai aktivis dakwah, memang perlu menyelipkan pesan-pesan untuk mendekatkan peserta didik  kepada Allah yang menciptakan alam jagat raya ini, yang memberikan kebahagiaan kita di dunia sehingga kita patut bersyukur atas nikmat Allah yang selalu dicurahkan. Sampaikan dengan bahasa yang ringan dan asyik agar dapat diterima dengan mudah oleh peserta didik.


Nah, nah, setelah dari sekolah kami membantu mengajar Alquran di rumah Ustaz Edy. Semua anak-anak yang mengaji adalah peserta didik SDN 02 Tajur Halang. Wah, Maa Syaa Allah, semangat sekali ya mereka menuntut ilmu. Yang harus diapresiasi adalah mereka yang tinggal di RW 03 jaraknya sangat jauh ke sekolah. Mereka harus berjalan melewati tanjakan dan turunan yang cukup melelahkan bagi seumuran mereka. Tanpa lelah, mereka lanjutkan untuk belajar agama oleh Pak Edy dan istri.



Kebahagian yang haqiqi buat aku pribadi melihat keceriaan mereka belajar agama. Apalagi saat ditanya siapa yang hafal surat-surat pendek mereka rebutan untuk membacakan.

"Kakak, kakak teh lama di sini?" salah satu bocah nanya. "In Syaa Allah satu bulan di sini," jawabku. "Di sini aja kakak-kakak KKN ajarin kita setiap hari." Aku jawab dengan tertawa (hahahaha).

"Adik-adik, setelah shalat asar, ke rumah Ummi Haji, yuk! kita punya buku bacaan lho yang seru-seru!"

"Aku mau, kak!" jawab mereka kegirangan.

"Oke, Kakak tunggu di rumah ya. Kalian jangan lupa sebelum ke rumah Ummi Haji shalat asar dulu, ya!". Mereka tidak banyak menjawab kemudian pengajian dibubarkan dan mereka berlarian.


Alhamdulillah, rumah rame sama anak-anak yang mau baca buku. Kebanyakan buku yang kami sediakan  tentang nabi dan komik. Setelah membaca kami bercengkrama. Tebak-tebakan receh banget wkwkwkw.

"Kak,kenapa lambang apotek gelas sama uler?"
"Kenapa, ya?"
"Soalnya, kalau gelas sama gajah, nanti gelasnya pecah!" Hahahaha aku ngakak karena lihat ekspresi si adiknya konyol abis! :D

Huaaaa, Alhamdulillah satu hari bersama anak-anak belajar dan mengajar. Aku mencintai dunia pendidikan. Dan aku berharap agar pendidikan Indonesia semakin 'bermakna'.

Sampai jumpa dikisah pendidikan Paku Jajar selanjutnya! ^_^





Minggu, 22 Juli 2018

Refleksi; Surga tidak Seru Jika Sendiri

Bismillah
Realitas kehidupan luar itu ternyata menyedihkan, ikhwah.
Aku ingin kita sama-sama bersyukur atas nikmat hidayah.
Ingin menangis sejadi-jadinya jika benar-benar meresapi cahaya iman yang masuk ke dalam hati.

Ikhwah, coba lihat!
Coba koreksi, sejauh mana kita memandang.
Coba lihat!
Sejauh mana kita melihat realita di tengah masyarakat.

Masyarakat,
mereka mad'umu!
mereka butuh dirimu, ikhwah!

Coba benahi mental dakwahmu, saudaraku.
Apakah terlihat kuat hanya di sekitarmu saja?
Apakah terlihat kuat karena kau berusaha menutupi aibmu?
Astaghfirullah
Istighfar!

Hidayah itu mahal.
Hidayah itu tak terbayar oleh satuan mata uang tertinggi
Karena hidayah datang bagi hati-hati yang lapang.
Bagi mereka yang menghendaki cahaya  masuk ke sela-sela rongga hati.

Mereka membutuhkanmu, saudaraku.
Dirimu adalah mata air yang menyejukkan padang pasir.
Jangan kalah dengan teriknya matahari yang semakin menggersangkan.

Sanggup kah dirimu melihat mayat yang terbakar sengatan matahari?
Sanggupkah kau menelan air menyegarkan di antara mereka yang dahaga?

Allahu Akbar!


Sabtu, 21 Juli 2018

Ibadah Kuliah Kerja Nyata #3 (Pembukaan KKN)

Hallo, UINers!
Udah  berapa hari nih, di desa, para pejuang KKN UIN 2018?
Aku dan teman-teman KKN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kelompok 132, Paku Jajar; Pasukan Akademis untuk Tajur Halang yang Jaya Raya (asek). Alhamdulillah sudah masuk lima hari.

Pada Sabtu, 21 Juli 2018 di Majelis RW 03 Desa Tajur Halang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor  dilaksanakan pembukaan sekaligus ramah tamah dengan warga setempat.




Pembukaan secara resmi dilaksanakan yang dihadiri oleh Kepala Desa, Bapak Diding Sulaiman, Dosen Pembimbing, Ibu Murdiyah Hayati, dan beberapa tokoh Desa.
Diawali dengan penyampaian sambutan dari ketua pelaksana, Dede Ridwan, lalu sambutan yang disampaikan oleh Dosen Pembimbing.

Bu Murdiyah Hayati memberikan pesan untuk peserta KKN Paku Jajar agar dapat bersosialisasi di masyarakat dengan baik dan membantu program desa yang dapat diselaraskan dengan program KKN Paku Jajar.

"Diharapkan anak-anak dapat belajar problem sosial, pendidikan di masyarakat sehingga dapat memberi solusi. Minimal belajar untuk mengatasi problem yang kalian hadapi di masyarakat," jelas Bu Murdiyah.

Penyampaian sambutan terakhir oleh Bapak Kepala Desa sekaligus pembukaan KKN yang disimbolisasi dengan pemotongan pita dan tumpeng.

Alhamdulillah, penyambutan yang hangat dari Kepala Desa dan masyarakat setempat. Kami dan masyarakat akan berkolaborasi pada setiap kegiatan Desa terutama dalam acara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Bapak Kepala Desa memberikan amanat untuk pesera KKN agar berhati-hati dengan pemuda desa yang bisa jadi 'modus' wkwkwkw (jangan serius-serius ngapa bacanya :D). Karena pengalaman tahun-tahun sebelumnya banyak yang akhirnya cinlok sama warga Desa.  bahkan nih, ya, anak pemiliki rumah yang kami tempati adalah 'korban' cinloknya (hahaha).



Buat teman-teman UIN seluruh Indonesia yang sedang mengabdi di masyarakat, mari kita jadikan KKN ini sebagai ibadah. Seperti yang dikatakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Jakarta, Kak Nabil Bintang kepada LDK Syahid bahwa KKN adalah ibadah.

Ia berharap agar peserta KKN UIN Jakarta dapat memberikan  dampak yang baik untuk membangun fisik dan mental manusia yang ada di desa. Sehingga, mereka akan menanti kedatangan kita setelah kembali ke kampus.
"Ciumlah bawa rakyat agar kawan-kawan bisa merasakan dengan pikiran-pikiran kawan-kawan agar bisa keluar atas dasar permasalahan warga indonesia."- Ahmad Nabil Bintang
Tunggu keseruan selanjutnya dari KKN Paku Jajar, ya! ^_^